Senin, 01 Februari 2016

Renungan Pagi 2 Februari 2016

Renungan Pagi 02  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Panggilan Untuk Menjadi Perenung

“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya”… ‘’’Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu ia pulang bersama-sama mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya” (Lukas 2: 19, 49-50).
Merenungkan! Itulah yang dapat ibu-ibu lakukan dengan baik sekali. Barangkali bukan itu yang terbaik yang dapat mereka lakukan, tetapi tampaknya itulah yang mereka selalu lakukan. Mereka diciptakan berbeda daripada kaum pria. Seorang ayah yang tipikal kemungkinan ada perhatian pada anak-ananknya dari waktu ke waktu, terutama apabila keadaan sedang sulit atau  mereka telah mengambil keputusan yang salah. Tetapi perhatian dan keprihatinan seorang ibu begitu teguh sehingga membingungkan sebagian besar kaum pria.
Para ibu adalah para pemenang. Begitulah ibu saya. Bagi masing-masing keempat anaknya dia punya sebuah buku catatan kecil. Di dalamnya dia letakkan seikat rambut yang pertama yang dicukur dari kepala saya, mencatat tanggal-tanggal saya mulai merangkak dan kemudian berjalan, terus mencatat pertumbuhan saya, dan menulis sebagaimana sebagaimana adanya ucapan-ucapan saya yang pertama dan patut dikenang.
Maria seperti itu. Dia juga mempunyai buku catatan di dalam hatinya. Dan buku catatan itu pasti luar biasa. Segi positifnya, ada seorang malaikat yang menyatakan kepadanya bahwa dia akan melahirkan sebagai perawan dan anaknya akan menjadi Putra Allah dan Mesias. Kemudian ada para gembala yang diilhami para malaikat memuji Allah karena kelahiran dan misi-Nya. dan, tentu saja, dia tidak dapat melupakan orang-orang Majus dari Timur yang mengikuti bintang (yang sesungguhnya bukan bintang) dan datang serta memuja anak yang baru lahir itu sebagai raja Israel. Kejadian-kejadian seperti itu akan membuat siapa saja ibu akan merenung.
Tetapi kemudian ada sisi gelapnya, aspek buramnya, dari tahun-tahun awal-Nya yang dapat membuat jiwa setiap ibu bergidik. Bukan saja kelahiran-Nya menyebabkan Herodes membantai bayi-bayi Betlehem yang hampir tidak bisa mereka hindari dan meloloskan diri dengan mengungsi ke Mesir, tetapi juga ada pesan campur aduk dari Simeon, yang mengenal Yesus sebagai Juruselamat, sementara juga menyatakan bahwa Dia akan menjadi seperti sebilah pedang yang akan menusuk menembusi jiwa Maria.
            Dan sekarang anak laki-laki ini menyangkal Yusuf dan memberitahu ibu-Nya bahwa Bapa-Nya adalah Allah. Dan sebagaimanapun, Dia adalah Anak mereka. Dia tinggal di rumah mereka dan memakan makanan mereka seperti anak muda lainnya. Tidak heran Maria merenungkan semua perkara ini dan menyembunyikannya di dalam hatinya.
            Kita patut melakukan hal yang sama. Setiap hri kita harus memalingkan mata kita, memandang Yesus dan merenungkannya arti kehidupan dan kematian-Nya bagi kita. Hari ini dan tiap hari kita perlu bermeditasi tentang Dia dan penting-Nya Dia. Singkatnya, Allah ingin agar kita semua menjadi perenung.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar