Renungan Pagi 19 Februari 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
Kerajaan Yang Jungkir Balik
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, Karena
merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita,
karena mereka akan dihibur” (Matius 5:3-4).
Bukanlah cara terbaik untuk memulai suatu khotbah. Si
pengkhotbah belum menyusunnya. Dia pasti bukan seorang yang secara politis,
cerdik atau sesuai dengan zamannya. Yang pasti, dia tidak memiliki pengertian
mendalam dari seorang pakar ilmu hubungan masyarakat.
Siapakah yang mau mendengar tentang
miskin di hadapan Allah dan berdukacita? Supaya bisa “berhasil,” maka seorang
pengkhotbah harus memberikan orang-orang apa yang mereka inginkan, menghadirkan
kepada mereka kata-kata dan gagasan-gagasan yang mereka ingin dengar.
Dan siapa
saja yang sudah cukup berpengalaman akan mengetahui bahwa sesungguhnya
orang-orang akan suka mendengarkan pekabaran seperti “Berbahagialah orang yang
kaya” atau bahkan “Berbahagialah orang yang kaya di hadapan Allah.”
Nah, jika Yesus sesungguhnya
bermaksud menarik khalayak ramai, maka Dia harus dengan cerdas menyesuaikan
diri dengan cara-cara dunia. Dengan sebuah pekabaran yang dimulai dengan
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” dan “Berbahagialah orang
yang berdukacita,” maka Dia tidak akan pernah bisa sekedar diterima oleh orang
banyak. Yesus tidak akan pernah mencapai jenis keberhasilan yang budaya dan
kebiasaan lebih luas akan hargai.
Tetapi disitulah justru pergesekan
terjadi antara nilai-nilai konvensional dan Yesus. Dia tidak memperdulikan
kekaguman dunia sekitar-Nya. sebaliknya Dia lebih suka dengan kehendak Allah.
Akibatnya, pekabaran-Nya bertolak
belakang dengan budaya yang sudah diterima umum. Pekabaran-Nya berlawanan
dengan kebijakan dunia. Maka sesungguhnya, Ucapan Bahagia ini
menjungkirbalikkan niali-nilai sistem dunia. Ucapan-ucapan itu
menerbalikkannya.
Yesus mengumumkan kerajaan-Nya
sebagai radikal semenjak permulaan pelayanan-Nya. dengan demikian warganya juga
akan radikal. Itulah titik awal Ucapan Bahagia, Khotbah di Atas Bukit, dan
seantero Perjanjian Baru.
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” dan
“mereka yang bersukacita” adalah beberapa pernyataan-pernyataan paling
revolusioner di dunia. Tetapi pernyataan-pernyataan itu berdiri di atas pondasi
pekabaran Yesus.
Dan pekabaran itu adalah bagi saya
secara pribadi. Pekabaran itu bagi Anda. Kita harus membuat pilihan antara
Yesus dan dunia ini – antara nilai-nilai-Nya dan nilai-nilai dunia.
Allah Bapa, mengapa gereja di
komunitas saya begitu “normal”? Bnatulah saya menjadi “abnormal” dari sudut
pandang dunia supaya saya bisa menjadi salah satu di antara mereka
yang “diberkati-Mu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar