Kamis, 18 Februari 2016

Renungan Pagi 19 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 19  Februari 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

                                              Kerajaan Yang Jungkir Balik

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Matius 5:3-4).

Bukanlah cara terbaik untuk memulai suatu khotbah. Si pengkhotbah belum menyusunnya. Dia pasti bukan seorang yang secara politis, cerdik atau sesuai dengan zamannya. Yang pasti, dia tidak memiliki pengertian mendalam dari seorang pakar ilmu hubungan masyarakat.
Siapakah yang mau mendengar tentang miskin di hadapan Allah dan berdukacita? Supaya bisa “berhasil,” maka seorang pengkhotbah harus memberikan orang-orang apa yang mereka inginkan, menghadirkan kepada mereka kata-kata dan gagasan-gagasan yang mereka ingin dengar.
            Dan siapa saja yang sudah cukup berpengalaman akan mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang akan suka mendengarkan pekabaran seperti “Berbahagialah orang yang kaya” atau bahkan “Berbahagialah orang yang kaya di hadapan Allah.”
Nah, jika Yesus sesungguhnya bermaksud menarik khalayak ramai, maka Dia harus dengan cerdas menyesuaikan diri dengan cara-cara dunia. Dengan sebuah pekabaran yang dimulai dengan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” dan “Berbahagialah orang yang berdukacita,” maka Dia tidak akan pernah bisa sekedar diterima oleh orang banyak. Yesus tidak akan pernah mencapai jenis keberhasilan yang budaya dan kebiasaan  lebih luas akan hargai.
Tetapi disitulah justru pergesekan terjadi antara nilai-nilai konvensional dan Yesus. Dia tidak memperdulikan kekaguman dunia sekitar-Nya. sebaliknya Dia lebih suka dengan kehendak Allah.
Akibatnya, pekabaran-Nya bertolak belakang dengan budaya yang sudah diterima umum. Pekabaran-Nya berlawanan dengan kebijakan dunia. Maka sesungguhnya, Ucapan Bahagia ini menjungkirbalikkan niali-nilai sistem dunia. Ucapan-ucapan itu menerbalikkannya.
Yesus mengumumkan kerajaan-Nya sebagai radikal semenjak permulaan pelayanan-Nya. dengan demikian warganya juga akan radikal. Itulah titik awal Ucapan Bahagia, Khotbah di Atas Bukit, dan seantero Perjanjian Baru.
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” dan “mereka yang bersukacita” adalah beberapa pernyataan-pernyataan paling revolusioner di dunia. Tetapi pernyataan-pernyataan itu berdiri di atas pondasi pekabaran Yesus.
Dan pekabaran itu adalah bagi saya secara pribadi. Pekabaran itu bagi Anda. Kita harus membuat pilihan antara Yesus dan dunia ini – antara nilai-nilai-Nya dan nilai-nilai dunia.
Allah Bapa, mengapa gereja di komunitas saya begitu “normal”? Bnatulah saya menjadi “abnormal” dari sudut pandang dunia supaya saya bisa menjadi salah satu di antara  mereka yang “diberkati-Mu.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar