Renungan
Pagi 07 Februari 2016
YESUS
MENGEJUTKAN YOHANES
“Maka datanglah Yesus dari Galilea
ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia,
katanya: ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan engkau yang datang kepadaku?’
Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: ‘biarlah hal itu terjadi, karena
demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah. Dan Yohanes pun
menuruti-Nya (Matius 3:13-15)
Salah satu hal paling mengejutkan di
dalam pelayanan Yohanes Pembaptis adalah bahwa Yesus datang kepadanya untuk
dibaptis. Bukankah dia sudah mengumumkan
kepada orang banyak, Yesus yang akan membaptis dengan babtisan yang superior
dibandikan baptisannya (Mat. 3:11)? Dan sekarang Yesus muncul penerima baptisan
sebagai tindakan awal kelayakan-Nya dalam kisah Injil. Tidak mengherankan, Yohanes pun terkejut.
Di sini kita menemukan tindakan Yesus yang dengan mudah
dapat disalah mengerti . Baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan, dibarengi
pengakuan dosa. Tetapi seluruh kisah penebusan bergantung pada sifat Yesus
tanpa dosa. Apakah permohonan untuk baptisan ini, suatu pengakuan bahwa Dia
terhimpit dalam kubangan dosa, seperti kita semua? Berdasarkan fakta-faktanya,
tidak mengherankan Yohanes protes kepada Yesus, menyatakan bahwa Dialah yang
harus membaptis dirinya
Tetapi Yesus tidak mau menerima
penolakan itu. Dia mengarahkan Yohanes : “Biarlah hal itu terjadi,” dengan
demikian mengimplikasikan bahwa hubungan mereka akan berubah di masa depan ketika
Ketuhanan Yesus semakin nyata. Sementara itu, Dia memberitahu sang Pembaptis, “Sepatutnya
kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (ayat 15).
Sebagian dari implikasi pernyataan
itu adalah, bahwa melalui baptisan itu Yesus menjadi teladan yang para
pengikut-Nya harus berusaha ikuti. Dengan demikian, Ellen White menyatakan
bahwa, “Yesus menerima baptisan bukannya sebagai pengakuan kesalahan atas
perbuatan-Nya sendiri. Ia menyamakan dirinya dengan orang berdosa, mengambil
langkah yang harus kita ambil, serta melakkan pekerjaan yang wajib kita lakukan”
(Alfa dan Omega, Jld. V, Hal. 103).
Kita seharusnya tidak pernah
melupakan bahwa walau Dia secara pribadi tanpa dosa, Yesus menyamakan diri-Nya
dengan para pendosa selama hidup-Nya. Bukan saja Dia mengakhiri pelayanan-Nya
diatas kayu salib diantara 2 pencuri, tapi Dia memulai pekerjaan-Nya di depan
umum di sebuah sungai di antara para pendosa yang menyatakan penyesalan mereka
karena dosa. Dia sesungguhnya “Allah menyertai kita” (Mark 1:10; Kis. 8:38,
39), Jadi para pengikutnya harus dibenamkan ke dalam kuburan air, melambangkan
masing-masing mati bagi cara hidup yang lama dan dibankitkan ke jalan yang baru
supaya “kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rom. 6:1-4). Baptisan bagi
kita, sebagaimana bagi Yesus, adalah tanda nyata pilihan yang dilakukan dengan
sadar yang telah kita putuskan untuk menagabdikan kehidupan kita secara total
bagi Allah dan kerajaan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar