Sabtu, 20 Februari 2016

Renungan Pagi 21 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 21 Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Berduka  Atas  Kepapaan

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Matius 5:3-4).

Bagian permulaan profil karakteristik Kristus adalah miskin di hadapan Allah. Dalam Perjanjian Lama, kemiskinan memiliki makna tambahan yang Kitab Suci identifikasi dengan kebergantungan yang sederhana kepada Allah. Kalau mereka yang kaya dan berkecukupan cendrung bergantung pada kekuatan mereka sendiri, maka yang miskin hanya dapat memandang kepada Tuhan untuk keselamatan dan bantuan saat kesusahan.
Dalam Perjanjian Baru, mereka yang “miskin di hadapan Allah” yang berdiri dengan si pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus, menagis dalam keadaan rendah mereka, “Ya, Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk. 18:13). Orang ini merasakan kepapan yang berat sekali dipikul, bahwa dia tidak dapat mempersembahkan apa-apa kepada Allah  (The New Engilsh Bible)  membantu kita mengerti makna ucapan bahagia yang pertama itu, dengan menerjemahkannya sebagai “Berbahagialah mereka yang mengetahui kebutuhan mereka akan Allah.”
John R. W. Stott menuliskan bahwa “para pemungut cukai dan pelacur, mereka yang ditolak masyarakat, yang mengetahui bahwa mereka begitu miskin sehingga mereka tidak dapat mempersembahkan apa-apa dan tidak dapat mencapai apa-apa” adalah ahli waris kerajaan, dalam kisah Injil. “Yang hanya dapat mereka lakukan adalah seruan kepada Allah untuk belas kasihan; dan  Dia mendengar seruan mereka.” “Merekalah,” Yesus berjanji, “yang empunya Kerajaan Surga.”
Setelah mengenal ketidakberdayaan dan kemiskinan rohani kita, langkah berikutnya adalah kesedihan pertobatan, digambarkan dalam ucapan bahagia kedua sebagai dukacita. Mengakui kemiskinan rohani kita adalah sesuatu yang berbeda dari berdukacita karenanya. “Dukacita di sini memperlihatkan kesedihan hati yang sesungguhnya karena dosa” (Thoughts From the Mount of Blesing, hlm. 9).
Dengan demikian kehidupan Kristen bukanlah terdiri atas sukacita dan tawa selalu sebagaimana beberapa pihak menginginkan kita percayai. Umat Kristen meratap atas kekurangan-kekurangan mereka, kelangkaan-kelangkaan di dalam kehidupan mereka yang membawa Kristus ke kayu salib.
Berita baiknya dari kedua ucapan bahagia itu bukanlah saja para pengikut Kristus mewarisi kerajaan tetapi bahwa mereka juga akan dihibur. Penghiburan itu adalah penghiburan ganda – sekarang dan masa mendatang.
Pada satu sisi umat Kristen telah dihibur oleh pengampunan dan kepastian bahwa mereka akan diselamatkan. Tetapi yang terbaik dari semuanya penghiburan itu masih akan tiba ketika Yesus datang di tengah awan-awan untuk membawa umat-Nya pulang. Pada saat itu mereka yang telah mati di dalam Kristus akan  Dia angkat dari kematian, sedangkan “kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyosong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1 Tes. 4:16, 17). Nah, itulah penghiburan yang sesungguhnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar