Rabu, 10 Februari 2016

Renungan Pagi 11 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi: Kamis 11  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Pencobaan 2:
Sensasionalisme Atau Ketaatan

“Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bumbungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: ‘Jika  Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangn terantuk pada batu.’ Yesus berkata kepadanya: ‘Ada pula tertulis: Janganlah Engkau mencobai Tuhan, Allahmu!’” (Matius 4: 5-7).

Iblis dapat mengutip Alkitab dan terdengar mengesankan. Jangan pernah melakukan kenyataan yang krusial itu. Andaikan pencobaan Yesus yang pertama terjadi pada titik kelemahan-Nya yang terbesar (lapar), sasaran yang kedua adalah terhadap kekuatan-Nya yang terbesar, yaitu keakraban-Nya dengan Alkitab dan janji-janji Allah.
Mengitup Mazmur 91:11, 12, Setan menyarankan agar Yesus sebaiknya melompat menuju kemasyhuran. Hal ini bisa saja tampak absurd bagi  kita, tetapi itu bukan ide yang buruk. Bagaimanapun, bukankah bangsa Yahudi selalu mencari-cari sebuah “tanda” (Mat. 12:38; 1 Kor 1:22) dengan mana mengidentifikasikan Mesias apabila Dia tiba? Inilah ide yang sempurna. Satu lompatan dari puncak Bait Allah, yang menjulang tinggi lebih dari 120 meter di atas Lembah Hinnon, akan benar-benar mengesankan. Maleakhi  telah menubuatkan bahwa “dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya” (Mal. 3:1), dan para rabi tertentu telah meramalkan bahwa “apabila raja Mesias tampil, dia akan berdiri di atas atap Bait Allah.”
Bagi bangsa Yahudi, tidak ada yang lebih menggenapkan daripada nubuatan Alkitab. Rakyat akan mudah berbaris di belakang Mesias seperti itu. Mereka menginginkan seorang Mesias yang spektakuler. Bagi Yesus, itu merupakan cara yang lebih muda memperoleh pengikut disbanding penyaliban. Dan hasilnya akan terlihat dengan segera.
Tetapi Dia sekali lagi tidak menjawab Setan dengan ayat-ayat Alkitab. Kali ini Dia menyandingkan ayat Kitab Suci dengan ayat Kitab Suci (“Ada pula tertulis”), yang paling cocok dalam situasi tersebut, karena Setan telah salah menggunakan perikop Mazmur 91 itu.
Di dalam jawaban-Nya, Yesus mengajarkan kita bahwa sekadar kutipan-kutipan yang diilhami tidaklah cukup. Kutipan-kutipan itu harus diinterprestasikan di dalam keseluruhan kerangka karakter Allah. Untuk mengobral kutipan-kutipan di luar konteks bisa saja dapat atau tidak dapat membuat seseorang menjadi fanatic, tetapi praktik seperti itu secara jelas tidak dapat mengubah perorangan-perorangan menjadi pengikut Yesus.
            Pada pencobaan yang kedua,  kita mendapatkan pelajaran penting bagi kehidupan kita. Iblis memiliki seribu cara menyesatkan kita, bahkan dengan menggunakan Alkitab. Dengan mengingat hal itu, betapa pentingnya kita menjadi para siswa Alitab yang setia membaca Firman Allah agar kita dilindungi dari Setan yang mengejar kita “seperti singa yang mengaum-aum” (1 Ptr. 5:8).

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar