Selasa, 02 Februari 2016

Renungan Pagi 3 Februari 2016

Renungan Pagi 03  Februari  2016

“Pandanglah Pada Yesus”

Yohanes, Si Penentang Budaya

“Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: ‘Persiapkanlah jalan untuk TUhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.’ Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.’ Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan” (Markus 1:2-6).

Yohanes Pembaptis bukan pribadi sebagaimana umumnya. Semua keterangan mengambarkan dia sebagai sosok yang memprotes keadaan yang begitu-begitu saja tanpa perubahan. Menghindari kemewahan kota dan memilih padang pasir  tandus dekat Laut Mati, dia tidak mengenakan baju rapi lalu makanannya belalang dan madu hutan. Kita kurang yakin apakah belalang itu, karena kata Yunani yang digunakan mempunyai kemungkinan dua arti. Entah itu adalah  serangga menyerupai belalang yang Imamat 11:22, 23 nyatakan halal, atau bisa saja dimaksudkan sejenis kacangan yang menjadi makanan orang-orang paling melarat. Teteapi tidak masalah apa arti kata itu, Alkitab memperkenalkan Yohanes Pembaptis seorang revolusioner menentang budaya.
Walau dia aneh, atau barangkali karena keanehannya itu, dia dapat menatik berbondong orang untuk mendengar pekabarannya mengenai pertobatan, pengakuan dosa, kedatangan kerajaan, dan perlunya dibaptis. Markus memberitahukan kita bahwa “datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh Yudea dan semua penduduk Yerusalem.” Kata “seluruh” tentu tidak berarti semua orang sampai tidak ada yang tersisa. Tetapi kata itu menunjukkan bahwa orang unik padang pasir ini mempunyai dampak yang besar, bukan saja kepada rakyat tetapi juga kepada para pemimpin Yahudi. Sejarahwan Yahudi abad pertama, Yofesus, memberitahu kita bahwa pengaruh besar Yohanes atas rakyat itu kemungkinan akan membuatnya merasa sanggup dan berpikir akan menciptakan suatu pemberontakan” (Antiquities 18.5.2).
Tetapi, sang nabi, tidak mengincar takhta Herodes. Yohanes menghendaki jiwanya. Tak seorang pun akan melihat atau mendengar Yohanes Pembaptis akan memandangnya sebagai sosok yang lain kecuali sebagai seorang yang akan menentang budaya. Bukan saja penampilannya memang seperti seorang menentang budaya, tetapi pekabarannya juga menentang budaya – sosok yang diperlukan pada abad ke 21 sebagaimana diperlukan di abad pertama.
            Sebelum menyelidiki pekabaran itu, Markus  memperkenalkan sang  pengkhotbah dahsyat yang mengelu-elukan abad baru Kerajaan Allah dengan kutipan Perjanjian Lama, dengan demikian menunjukkan bahwa Kekristenan bukan suatu agama baru tetapi sebuah perkembangan di dalam Yudaisme. Yesus dan pekabaran-Nya bukan suatu pemikiran yang tercetus kemudian dari sebuah rencana yang gagal bagi bangsa Yahudi, tetapi Yesus dan pekabaran-Nya adalah penggenapan hukum dan nubuatan para nabi. Dialah Mesias yang dinubuatkan dari halaman-halaman awal Kitab Suci. Rencana Allah sudah bergerak teratur di masa lalu. Dan akan tetap bergerak di masa akan datang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar