Minggu, 14 Februari 2016

Renungan Pagi 15 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 15  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Panggilan Adalah Sebuah Proses

“Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: ‘Lihatlah Anak domba Allah!’ Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus” (Yohanes 1:35-37).

Kita sering lupa bahwa beberapa murid utama Yesus dulunya adalah pengikut Yohanes Pembaptis. Salah satunya adalah Andreas.
Nah inilah seorang murid yang tidak terkenal. Melihat sekilas ke dalam konkordans menunjukkan bahwa Alkitab menyebut namanya hanya 13 kali, biasanya dalam daftar murid atau sebagai saudara laku-laki Petrus – Andreas adalah “orang lain itu” yang mempunyai saudara termasyhur.
Tetapi Andreas inilah yang tidak kelihatan yang membawa Petrus kepada Kristus. Tentu saja, hasilnya Yesus dengan serta merta menilai Simon Petrus sebagai sosok yang  dikenal secara khusus. Dan di sinilah kita temukan satu hal perlu dicatat – Yesus tidak pernah melihat kita sekedar  adanya namun kita bisa menjadi apa melalui kasih karunia-Nya.
            Petrus, bersama Yakobus dan Yohanes Zebedeus, mereka menjadi pengikut Kristus yang paling penting dan nyata. Hal itu agaknya tidak pernah mengganggu Andreas. Dia rupanya sejak semula, bersedia untuk menempati tempat kedua sebagai seorang yang memperkenalkan orang-orang kepada Yesus.
            Injil keempat tidak menunjukkan siapa murid kedua Yohanes Pembaptis yang mengikuti Yesus bersama Andreas. Tetapi kalau kita telaah gayanya, orang itu adalah si penulis sendiri. Yohanes pada umumnya mengidentifikasikan dirinya sebagai “murid yang lain itu.” Beberapa dasawarsa kemudian, Yohanes yang berusia lanjut memiliki banyak kenangan mengenai tahun-tahun dini itu. Menulis Injil terakhir, ia berusaha mengisi beberapa kekosongan yang Matius, Markus, dan Lukas tinggalkan dalam kisah  itu. Beberapa tempat yang kosong itu berkaitan dengan panggilan pertama pada dirinya sendiri, pada Andreas, Petrus, Filipus, dan Natanael. Kejadian-kejadian ini begitu bearti bagi laki-laki lanjut usia itu sehingga ia bahkan masih mengingat kata-kata yang tepat diucapakan kala itu dan menyebut semuanya dalam Yohanes 1:35-51. Dia akan melakukannya dari waktu ke waktu di seluruh Injil, dengan demikian memberikan para pembacanya secara berlanjut menembusi abad dan zaman dengan kenagan-kenangan intim yang hanya seorang pengikut dapat ketahui.
Salah satu ingatan itu adalah panggilan para murid itu merupakan sebuah proses dan bukan kejadian sekaligus seperti dikesankan oleh Matius, seakan-akan mereka menyerahkan semua pada pertemuan pertama mereka dengan Yesus.
Bukan begitu, kata Yohanes. Pertama, beberapa mereka tadinya murid-murid sang Pembaptis. Kemudian beberapa murid itu bertanya kepada Yesus. Berikutnya mereka memperkenalkan orang-orang yang nantnya menjadi murid-murid-Nya. dan kemudian Yesus memberitahu mereka agar meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti-Nya.
Yang sama berlaku di zaman kita. Yesus masih memanggil murid-murid, selangkah demi selangkah. Pertanyaan saya satu-satunya adalah langkah apa yang ada di dalam benak-Nya bagi saya sekarang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar