Renungan Pagi Selasa 09 Februari 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
INTI PENCOBAAN
“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai
Iblis” (Matius 4:1).
Di situ untuk pertama kali Injil
diperkenalkan kita kepada antagonis utama terhadap Kristus dalam konflik antara
yang baik dan jahat. Matius menyebutnya “Iblis dalam ayat 1, “pencoba” dalam
ayat 3, dan di dalam ayat 10 “Iblis” - dalam terjemahan-terjemahan
lain “Setan” (musuh) – nama sebenarnya setelah kejatuhan dalam kitab Kejadian.
Sebelum pasal 4, Iblis selalu aktif di belakang layar, seperti
Herodes, tetapi sekarang dia muncul dan muncul ke depan.
Kita juga harus mengenal
bahwa Allah maupun Roh Kudus bukan perantara yang aktif di dalam pencobaan.
Matius cukup hati-hati dalam pemilihan kata-katanya: “Maka Yesus di bawa oleh
Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Yakobus dengan jelas mengajarkan kita
bahwa Allah tidak mencobai siapa pun (Yak. 1:13). Tetapi Allah mengizinkan para
pengikut-Nya untuk mendapatkan pencobaan agar menguatkan dan memperkembang
karakter mereka. Jadi kita jangan merasa tidak serasi lagi dengan Allah,
apabila diri kita berada di tempat-tempat yang sulit. Bagaimanapun, pencobaan-pencobaan
Yesus datang tepat setelah dia dipenuhi Roh pada baptisan-Nya. para pengikut
Allah tidak dikecualikan dari tekanan-tekanan dunia. Lebih tepat ialah mereka
diberikan kekuatan untuk melawan kekuatan-kekuatan itu (1 Kor. 10:13).
Begitulah dengan Yesus. Ia menghadapi pencobaan-pencobaan biasa dari manusia.
Tetapi Dia menang (Ibr. 4:15).
Oleh pencobaan-pencobaan Kristus,
kita bertemu dengan sifat esensial pencobaan itu sendiri. Sebelumnya
kita catat bahwa Kristus yang memiliki wajah dan tubuh seperti manusia telah
“mengosongkan diri-Nya sendiri” ketika Dia datang ke bumi (Flp. 2:5-8). Yaitu,
Dia secara sukarela menanggalkan sifat Ilahi-Nya dan menyerahkan diri kepada
kondisi-kondisi kehidupan yang juga kita hadapi. Sementara di bumi ini, Allah
Anak hidup dalam kebergantungan kepada Allah Bapa, seperti juga kita (Yoh. 5:
19, 30; 8:28; 14:10). Dia benar-benar menjadi salah satu dari kita.
Mohon dicatat dalam
pengosongan diri-Nya adalah perbuatan sukarela. Tidak ada yang
memaksa-Nya menjadi manusia. Dia memilih berbuat demikian. Pada titik
pengosongan diri Kristus secara sukarela ini kita temukan fokus pada kekuatan
pencobaan-pencobaan-Nya. jika musuh mampu membuat Yesus “mengisi” diri-Nya
sekali saja dan membuat-Nya menggunakan kuasa “tersembunyi-Nya,” maka
peperangan itu sudah usai, dengan Setan sebagai pemenang. Ellen White
mengemukakan bahwa “baginya sulit untuk menjaga agar tetap pada
tingkat manusia sebagaimana sulit bagi manusia untuk bangkit lebih
tinggi daripada tingkat rusak akhlak mereka yang rendah, dan dia menjadi bagian
dari sifat Ilahi” (Review and Herald, 1 April 1875).
Di dalam pencobaan-pencobaan
Kristus, kita temukan inti diri kita juga. Inti pencobaan pribadi saya tiap
hari adalah berhenti bergantung pada Allah dan merasa diri sudah menggulangi
segala-galanya sendiri, mereka jadi ilahi kehidupan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar