Jumat, 26 Februari 2016

Renungan Pagi 27 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 27 Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

                                    Melompat  Dengan Sukacita  Di  Saat  Sulit

“Berbahagialah orang yang dianiyaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiyaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikianlah juga telah dianiyaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10-12).

Dengan ayat hari ini, kita tiba pada bagian terakhir dari kedelapan berkat Kristus. Ucapan bahagia ini juga yang paling panjang, dengan ayat 11 dan 12 memberi komentar tentang ayat 10.
Kekristenan adalah, seperti yang disuguhkan Yesus, sesuatu yang tidak sedamai sebuah piknik yang nyaman. Dari semua guru-guru terbesar di dunia, Yesuslah yang paling jujur dan gamblang. Lagi dan lagi Dia menekankan kenyataan bahwa para pengikut-Nya akan dianiyaya karena mereka seperti Dia, karena mereka akan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang secara diametrik bertentangan dengan prinsip-prinsip yang sudah diterima budaya yang lebih besar dunia ini.
Kekristenan mengakibatkan penganiyayaan di setiap wilayah kehidupan Kristen: Di tempat kerja karena masalah-masalah akibat tidak bersedia menghidupkan ketidakjujuran atau bekerja pada hari Sabat; dalam keluarga-keluarga karena adanya prioritas-prioritas baru dan persekutuan-persekutuan baru; dalam kehidupan sosial karena gaya hidup baru.
Kenyataan yang gamblang adalah bahwa Kekristenan sejati mengubah orang. Ini menjadikan mereka tidak serasi dengan budaya manusia yang “normal” (“berdoa”). Akibatnya adalah penganiyayaan.
Beberapa orang penganiyaya ini lembut dan hampir tidak kelihatan (kecuali pada orang yang mengalaminya), seperti tidak dinaikkan gaji atau tidak dinaikkan tingkat, atau dihina di depan umum di suatu acara sosial.
Seringkali penganiyayaan itu kejam. Kaisar Nero, misalnya, membungkus umat percaya dalam ter dan menyulutkan api pada mereka untuk dijadikan obor hidup guna menerangi taman-tamannya. Seringkali dia menjahit kulit binatang pada beberapa umat percaya lainnya, kemudian melepaskan anjing-anjing pemburunya kepada mereka untuk merobek-robek mereka.
Daftar perbuatan-perbuatan keji itu panjang sekali. Bahkan Yesus tidak terkecuali. Dia mati dalam kematian yang paling menyakitkan dan merendahkan di atas kayu salib.
Dan penganiyayaan-penganiyayaan itu masih belum berakhir, Wahyu 13 berbicara banyak tentang hal ini. penganiyayaan akan berlanjut sampai di akhir zaman.
Tetapi perhatikan, penganiyayaan yang dibicarakan Yesus adalah “sebab kebenaran.” Tidak semua penganiyayaan membawa kita kepada kerelaan.
Tetapi apabila orang menderita untuk kesetiaannya kepada Kristus, mereka seharusnya    “bersukacitalah dan bergembiralah” karena “sesungguhnya, upahmu besar di sorga” (Luk. 6:23).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar