Rabu, 03 Februari 2016

Renungan Pagi 4 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 4  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Pekabaran Bagi “Tikus-Tikus Kecil Yang Kotor”

“Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitahukan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”’ (Matius 3: 1, 2).

Kemarin kita bertemu Yohanes Pembaptis “yang tidak tahu adat”; seorang revolusioner yang tidak menghormati cara berbusana layak bagi para pendeta; seorang pengkhotbah yang tampaknya tak mengerti aturan-aturan etika keagamaan. Bahkan, dia melangakah begitu jauh menggelegar mengecam para anggota gereja dan para pemimpin agama harus bertobat. Dan bahwa Allah tidak membutuhkan mereka – bahkan Dia dapat membuat orang-orang Yahudi yang baik dari batu karang jika mereka tidak berbenah diri.
Pekabaran Yohanes berpusat pada pekabaran pokok kita masing-masing setiap hari, bertobat “dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk. 1:4).
Bertobat adalah salah satu kata religious yang mudah sekali kita obral ke kanan-kiri tanpa sesungguhnya mengerti atau memahami artinya. Sebagian besar orang keliru tentang merasa bersalah karena dosa mereka, dengan pertobatan. Sebagimana dikemukakan buku Steps to Christ, “Kesedihan yang bertumpuk bahwa mereka sudah berbuat dosa dan bahkan membuat reformasi untuk memisahkan diri karena mereka takut bahwa perbuatan salah mereka akan mendatangkan penderitaan pada diri mereka sendiri. Tetapi ini bukan pertobatan yang dimaksidkan Alkitab. Mereka meratapi penderitaan dan bukan dosa mereka” (hlm.23).
Halford Lucock menerangkannya ketika dia menuliskan bahwa “pertobatan, dalam khotbah Yohanes, adalah sebuah perubahan yang terus berlangsung sampai tuntas.” Kata itu “mengharusakan kita berbalik, suatu kemauan yang dibelokkan ke sebuah arah yang baru… Ini lebih daripada sekedar menyesali dosa-dosa kita. Ini adalah revolusioner moral dan spiritual. Jadi sungguh-sungguh bertobat adalah salah satu hal paling sulit di dunia; tapi itu hal mendasar bagi semua perubahan dan kemajuan rohani. Diperlukan niat meruntuhkan secara total sikap sombong, merasa diri mapan, prestise karena sukses, dan karena benteng yang letaknya paling dalam di diri kita yaitu kehendak sendiri.”
Pertobatan dalam pekabaran Yohanes menjurus pada pengakuan dosa. Dan pengakuan dosa tidak mulai dengan berkata kepada Allah bahwa kita menyesal. Langkah pertama dalam pengakuan dosa yang tepat adalah mengatasi diri kita sendiri. Seseorang pernah berkata bahwa kita menemukan langkah pertama itu menuju kepada kasih karunia yang menyelamatkan, diilustrasikan oleh seorang laki-laki yang mencukur jenggotnya suatu pagi. Ketika dia memandang wajahnya sendiri dalam cermin, ia mendadak berseru, “Kamu tikus kecil yang kotor!” Dari pengakuan itu mengalirlah pengakuan dosa kepada Allah dan orang-orang lain kepada siapa kita berbuat salah.

Pekabaran Yohanes ditujukan kepada kita semua “tikus-tikus kecil yang kotor” untuk berhenti membenarkan tindakan-tindakan  kita dan mendorong kita untuk bertelut. Tidak ada perbedaan apa pun, jika dosa-dosa kita jenis yang najis atau lembut (misalnya bangga karena berbuat baik atau keturunan beragama). Kita semua hari ini perlu mengindahkan panggilan Yohanes.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar