Renungan Pagi 4 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
Pekabaran Bagi “Tikus-Tikus Kecil
Yang Kotor”
“Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun
Yudea dan memberitahukan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”’
(Matius 3: 1, 2).
Kemarin kita bertemu Yohanes
Pembaptis “yang tidak tahu adat”; seorang revolusioner yang tidak menghormati
cara berbusana layak bagi para pendeta; seorang pengkhotbah yang tampaknya tak
mengerti aturan-aturan etika keagamaan. Bahkan, dia melangakah begitu jauh
menggelegar mengecam para anggota gereja dan para pemimpin agama harus
bertobat. Dan bahwa Allah tidak membutuhkan mereka – bahkan Dia dapat membuat
orang-orang Yahudi yang baik dari batu karang jika mereka tidak berbenah diri.
Pekabaran Yohanes berpusat pada
pekabaran pokok kita masing-masing setiap hari, bertobat “dan Allah akan
mengampuni dosamu” (Mrk. 1:4).
Bertobat adalah salah satu kata
religious yang mudah sekali kita obral ke kanan-kiri tanpa sesungguhnya
mengerti atau memahami artinya. Sebagian besar orang keliru tentang merasa
bersalah karena dosa mereka, dengan pertobatan. Sebagimana dikemukakan buku Steps to Christ, “Kesedihan yang bertumpuk bahwa
mereka sudah berbuat dosa dan bahkan membuat reformasi untuk memisahkan diri
karena mereka takut bahwa perbuatan salah mereka akan mendatangkan penderitaan
pada diri mereka sendiri. Tetapi ini bukan pertobatan yang dimaksidkan Alkitab.
Mereka meratapi penderitaan dan bukan dosa mereka” (hlm.23).
Halford Lucock menerangkannya ketika
dia menuliskan bahwa “pertobatan, dalam khotbah Yohanes, adalah sebuah
perubahan yang terus berlangsung sampai tuntas.” Kata itu “mengharusakan kita
berbalik, suatu kemauan yang dibelokkan ke sebuah arah yang baru… Ini lebih
daripada sekedar menyesali dosa-dosa kita. Ini adalah revolusioner moral dan
spiritual. Jadi sungguh-sungguh bertobat adalah salah satu hal paling sulit di
dunia; tapi itu hal mendasar bagi semua perubahan dan kemajuan rohani.
Diperlukan niat meruntuhkan secara total sikap sombong, merasa diri mapan,
prestise karena sukses, dan karena benteng yang letaknya paling dalam di diri
kita yaitu kehendak sendiri.”
Pertobatan dalam pekabaran Yohanes
menjurus pada pengakuan dosa. Dan pengakuan dosa tidak mulai dengan berkata
kepada Allah bahwa kita menyesal. Langkah pertama dalam pengakuan dosa yang
tepat adalah mengatasi diri kita sendiri. Seseorang pernah berkata bahwa kita
menemukan langkah pertama itu menuju kepada kasih karunia yang menyelamatkan,
diilustrasikan oleh seorang laki-laki yang mencukur jenggotnya suatu pagi.
Ketika dia memandang wajahnya sendiri dalam cermin, ia mendadak berseru, “Kamu
tikus kecil yang kotor!” Dari pengakuan itu mengalirlah pengakuan dosa kepada
Allah dan orang-orang lain kepada siapa kita berbuat salah.
Pekabaran Yohanes ditujukan kepada
kita semua “tikus-tikus kecil yang kotor” untuk berhenti membenarkan
tindakan-tindakan kita dan mendorong kita untuk
bertelut. Tidak ada perbedaan apa pun, jika dosa-dosa kita jenis yang najis
atau lembut (misalnya bangga karena berbuat baik atau keturunan beragama). Kita
semua hari ini perlu mengindahkan panggilan Yohanes.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar