Renungan
Pagi 25 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
PENTINGNYA PERIORITAS
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan
melihat Allah” (Matius 5:8).
Ketika para pengawal Sir Walter
Raleigh ke tempat dia akan dieksekusi, sang algojo menanyakan apakah letak
kepalanya sudah benar di kayu pancungan. Releigh menjawab, “Tidak penting,
sobatku, bagaimana letak kepalaku, asalkan hatikulah yang benar.”
Seperti itu juga, apabila saya pergi
ke dokter untuk operasi kaki saya, yang pertama diminta sang dokter adalah
memeriksa hati (jantung) saya. Jika jantung saya tidak benar, maka tidak ada
gunanya memperbaiki kaki saya. Tanpa jantung yang berfungsi dengan baik, kaki
yang paling baik di dunia tidak akan bermanfaat bagi saya.
Dalam wilayah fisik, jantung adalah
pusat kehidupan. Otot itu yang memompa dan menyebarkan kehidupan ke bagian lain
tubuh.
Begitulah juga keadaannya dalam wilayah rohani. Penekanan
Alkitabiah adalah betapa pentingnya memiliki hati yang benar bersama Allah.
Yesus menyatakan berkat-Nya ke atas
mereka yang “suci hatinya.” Penting sekali diperhatikan, Dia tidak memercayakan
mereka yang intelektual. Dia tidak mengatakan, seperti apa dan bagaimana
beberapa pihak lain akan melakukannya, “Berbahagialah orang yang mengerti
doktrin yang benar, karena mereka akan melihat Allah.” Fokus-Nya adalah pada
hati.
Nah, jangan salah menafsir saya.
Doktrin yang benar itu penting, tetapi itu bukan merupakan inti masalah. Anda
bisa saja mempunyai pengertian doktrinal yang benar dan bersikap lebih culas
daripada Iblis. Seseorang bisa saja “lurus” mengenai doktrin, tetapi merupakan
kutuk bagi gereja dan suatu gambaran palsu dari Tuhan dalam kehidupan
sehari-hari, di dalam keluarga, dan tempat kerja.
Di dalam Alkitab, hati itu berarti
seluruh keadaan batin seseorang. Hati alami mementingkan diri sendiri dan tidak
bersih (lihat Yer. 17:9), tetapi Yesus menghendaki hati yang sudah diubah (rm.
12:2; 2 Kor. 5:17). Itu penting sekali bagi kehidupan Kristiani, “Karena dari
hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan,
pencurian, sumpah palsu dan hujat” (Mat. 15:19).
Seperti di dalam wilayah fisik, inti
eksistensi Kristiani adalah hati. Hati yang benar dengan Allah dan orang lain
memulai suatu pengertian yang benar mengenai doktrin dan ekspresi yang benar
dari iman seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa hati rohani yang sehat,
saya secara rohani mati, tak peduli betapa fasihnya saya mengerti teologi atau
seberapa banyak Alkitab sudah saya hafal.
Mereka yang berhati sucilah yang
akan melihat Allah.
Tuhan, bantulah saya supaya saya
nengatur prioritas saya dengan benar, bantu saya hari ini untuk menyerahkan
hati saya kepada-Mu. Bantulah saya hari ini untuk memulai melihat Engkau lebih
baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar