Renungan Pagi 12 Februari 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
Pencobaan 3 :Menyerah
Atau Bertahan
“Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat
tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
dan berkata kepada-Nya : ‘Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika engkau sujud
menyembah aku. ’ Maka berkatalah Yesus kepadanya : ‘Enyalah, Iblis! Sebab ada
tertulis : Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah
engkau berbakti’” (Matius 4:8-10).
Berapakah harga Anda? Sampai keadaan bagaimana Anda bersedia
menyerah-menjual diri Anda-kepada Iblis? Setan mengerti semua dari
masing-masing kita. Dia tahu bahwa beberapa orang akan jatuh jika dia
menawarkan $5. Bagi orang lain bisa saja harganya $500. Tetapi kepada orang
lain dia harus menawarkan $5.000, atau $5 juta, atau $5 miliar. Bagaimanapun,
dia sarankan Anda hanya perlu melakukan satu kali saja. Dan Anda tentu saja
bisa bertobat di kemudian hari. “Mengapa tidak?” pikiran kita memberitahu kita.
Jika tidak menerima tawaran ini, orang lain akan menyabetnya.
Berapakah nilai Anda runtuh?
Berapakah harga Anda? Orang menghabiskan sebagian besar waktu mereka membahas
bagaimana Kristus dapat dicobai persis seperti kita. Saya ingin sarankan bahwa
Dia dicobai jauh melewati apa yang kita akan pernah hadapi. Pikir saja, kita
tidak pernah merasakan dampak sepenuhnya pencobaan, karena apabila Iblis tiba
pada harga maka kita setuju dan menyerah lalu memilih tawarannya.
Tetapi lebih penting lagi, Kristus
memiliki kapabilitas yang jauh melampaui kapabilitas kita. Dia dicobai jauh
melebihi apa yang manusia mungkin pernah bisa tanggung, karena yesus
sesungguhnya memiliki kuasa Allh di dalam ujung jari-Nya dan bukan pada ujung
jarinya.
Di dalam pencobaan terakhir bagi
Yesus, Ibllis tidak tanggung-tanggung. Dia membisikkan tujuan apa Dia datang ke
bumi . Dia bisa menjadi Penguasa dunia jika Dia mau saja sujud dan menyembah
Setan-sekarang , dan tanpa kayu salib.
Tetapi Yesus sudah bertekad
sepenuhnya unutk menyembah dan menaati Allah saja. Dia tidak akan merasakan
kekuatan sepenuhnya lagi dari pencobaan sampai Getsamani, ketika Dia sekali
lagi bergumul agar tetap berserah kepada kehendak Bapa.
Yesus pergi menyongsong
pencobaan-pencobaan itu dengan ketegangan-ketegangan antara modus seorang Raja
yang menang dan Hamba yang Menderita mengiang-ngiang dalam telinga-Nya (Mat.
3:17). Tetapi dia kelur dari pengalaman itu dengan keputusan yang bulat. Dia
akan mengikuti jalan Allah salib. Sekarang Dia siap untuk memasuki
pelayanan-Nya yang formal.
Pada jenjang yang jauh lebih rendah,
pencobaan bergulir dengan cara yang sama di dalam kehidupan kita seperti di
dalam pencobaan Kristus. Pencobaan bukan saja sekadar terpikat oleh dosa ini
atau dosa itu. Bukan. Pada dasarnya, pencobaan berkaitan dengan siapa yang akan
kita ikuti sebagai Tuhan bagi kehidupan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar