Renungan
Pagi 29 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
Menjadi Garam Bukan Otomatis
“Kamu adalah garam
dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi
gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang”
(Matius 5:13).
Seorang penebang kayu
dari Eropa tengah menemukan sepotong kayu di mulut karung gandum. Cukup luar
biasa karena kayu tersebut sama warnanya dengan bulir gandum, sehingga dia
memutuskan untuk membuat gandum imitasi yang terbuat dari kayu itu.
Setelah membuatnya
sebanyak segenggam, dia mencampurnya dengan gandum asli dan mengundang
teman-temannya untuk memisahkannya. Namun dia membuat gandum imitasi itu sangat
bagus, sehingga tidak ada yang dapat membedakan yang asli daripada yang
imitasi. Malahan, dia sendiri tidak dapat membedakannya. Akhirnya satu-satunya
cara untuk dapat membedakan asli daripada yang palsu adalah dengan merendamnya
dalam air. Setelah beberapa hari, gandum yang asli mulai berkecambah, sementara
yang imitasi tetap seperti itu: Yaitu kayu yang mati.
Demikian pula orang
yang mengaku umat Tuhan. Bagi mata manusia, selalu mustahil membedakan umat
yang sejati daripada mereka yang hanya sekedar anggota jemaat. Mungkin mereka
semua adalah anggota dari jemaat yang sama, tapi hubungan iman dengan Kristus
akan menunjukkan hubungan tersebut sepanjang waktu oleh pertumbuhan rohani
mereka. Perbedaan antara mereka yang hanya kelihatan sebagai anak-anak rohani,
dan mereka yang asli, adalah sangat penting.
Seorang Kristen
dituntut menjadi garam bagi dunianya, dan menjadi garam bukan otomatis karena
sudah mendapat predikat orang Kristen. Semua orang dalam jemaat dapat dipanggil
sebagai orang Kristus, dan itulah yang terjadi dalam kehidupan beragama
sehari-hari, bukan? Namun ketika Yesus meminta mereka yang mengaku sebagai
pengikut-Nya agar memberikan pengaruh rasa asin yang meresap dan mengawetkan
rohani, segera terjadi pemisahan karakteristis agung. Karakter seorang Kristen
sejati akan secara alami menjadi garam yang memberikan pengaruh diam-diam dalam
kehidupannya bagi sesamanya, berkecambah dan hidup semakin menuju kedewasaan
rohani yang menghasilkan buah pada akhirnya.
Sebaliknya, orang
Kristen yang merasa otomatis sebagai orang Kristen karena panggilan dan
dianggap orang Kristen oleh sesamanya, sekadar mendapat predikat spiritual
namun mati rohaninya, maka tidak layak sebagai garam dalam misi-Nya bagi dunia
ini. menjadi garam bukan otomatis, dan seorang Kristen bukan juga otomatis.
Jadi, demikian juga
tidak semua anggota jemaat adalah orang Kristen. Tetapi mereka yang benar-benar
memiliki hubungan yang hidup dengan Allah akan menunjukkan rasa asin
mengawetkan karakter.
Bapa yang sanggup memeriksa hati yang paling dalam, tolonglah saya
menjadi seorang Kristen sejati, bukan sekadar seorang Kristen yang otomatis
semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar