Rabu, 17 Februari 2016

Renungan Pagi 18 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 18  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

                                                          Diberkati Atau Bahagia?

“Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: ‘Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”’ (Matius 5: 2-3).

Dalam Matius 5-7, kita temukan khotbah paling termasyhur yang pernah disampaikan. Khotbah di Atas Bukit mulai dengan delapan petuah yang kita kenal sebagai Ucapan Bahagia. Masing-masing mulai mulai dengan kata Yunani makarios yang dapat kita terjemahkan dengan berbagai cara, termasuk “diberkati” dan “bahagia.”

Tetapi ada masalah jika kita menerjemahkannya “bahagia.” Kita semua punya hari-hari tidak bahagia walau kita beriman kepada Yesus. Tentu saja, ada suatu penasaran di mana umat percaya selalu bahagia dan berhak bahagia, karena mereka sudah menjadi anggota kerjaan Allah. Tetapi warga kerajaan masih mengalami hari-hari menyedihkan ketika “ruwet” menjadi cara satu-satunya untuk menggambarkan perasaan mereka.
Dan “perasaan” adalah kata kunci dalam kata kunci kalimat itu. Saya ingin menyarankan bahwa “bahagia” adalah terjemahan yang kurang tepat bagi makarios, karena sebagian besar kita menganggap bahagia itu sebagai keadaan subyektif. Yaitu, kebahagiaan adalah bagaimana kita merasa. Kita merasa sedih atau bahagia.
Tetapi kehidupan Kristen tidak berdasarkan perasaan subyektif. Pernah salah seorang siswa muda saya datang ke kantor saya sambil mengatakan bahwa dia bingung karena dia tidak bahagia. Perasaan-perasaan itu menjurus kepada keputusan. Yesus tidak berkata berulang kali bahwa jika orang-orang menjadi umat Kristen maka mereka akan bahagia? Oleh karena itu, jika dia tidak bahagia maka apakah dia tentu bukan orang Kristen? Ada sesuatu yang tidak benar dalam kehidupannya, tetapi dia tidak dapat menyimpulkan apa itu sebenarnya. Dia sudah tiba ke dalam lubang keputusasaan.
Saya menerangkan kepadanya bahwa anggapnya itu slah adanya karena penerimaan kita terhadap Allah tidak terletak pada perasaan kebahagiaan atau kesedihan yang subyektif, tetapi dalam fakta obyektif di mana Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan semua yang menerima pengorbanan-Nya dalam iman sudah diampuni dan menjadi warga kerajaan surga. Dengan kata lain, teman saya yang mahasiswa ini diberkati Allah, tak peduli bagaimanapun perasaannya.
Maka, jika saya tidak merasa bahagia karena “dianiaya oleh sebab kebenaran” (Mat. 5:10), saya masih punya rasa damai karena saya sudah diberkati oleh Yesus. Itulah kenyataannya. Dan karena saya merasakan sesuatu yang membuat saya merasa bahagia dengan damai di hati, maka diberkati lebih berarti daripada kebahagiaan. Diberkati adalah suatu realita di mana hari yang ruwet tidak dapat renggut dari saya.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar