Renungan Pagi 06 Februari 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
Arti Yesus
Sesungguhnya
“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus
dosa dunia” (Yohanes 1:29).
Orang telah mengatakan banyak hal mengenai
Yesus, tetapi tidak satupun lebih bermakna atau penting daripada kalimat pendek
sang Pembaptis ketika dia melihat Yesus datang berjalan melewati tanjakan:
“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Keesokkan harinya dia
menyebut-Nya lagi “Anak domba Allah” (ayat 36).
Frasa ini bisa saja
berarti banyak bagi kita di abad kedua puluh satu ini. bahkan banyak dari kita
belum pernah melihat anak domba yang sesungguhnya. Dan tidak satu pun diantara
kita pernah membuat kurban anak domba. Tetapi bagi para pendengar Yohanes,
itulah frase yang penuh arti.
Pikiran mereka tentu
kembali ke Bait Allah di Yerusalem, kemah suci di padang gurun. Dan kitab
Imamat, yang menjelaskan inti kurban domba-domba yang tidak berdosa untuk
memberi pandangan mengenai perkara-perkara yang nantinya akan terjadi di
Kalvari di mana Yesus akan mati “untuk selama-lamanya” (Ibr. 10:10, 14) sebagai
Anak Domba Allah yang sesungguhnya demi keselamatan semua umat manusia.
Sistem melakukan kurban
Perjanjian Lama pada intinya ritual penggantian. Para pendosa membawa
hewan-hewan kurban mereka di hadapan Tuhan, meletakkan tangan mereka di kepala
kurban itu, dan mengaku dosa mereka, dengan demikian secara simbolis
memindahkan dosa-dosanya itu kepada hewan itu yang akan mati sebagai kurban
menggantikan mereka.
Tampaknya
denganberlalunya waktu, uamt Israel kehilangan pengaruh sepenuhnya arti sistem
mempersembahkan kurban karena kurban-kurban yang berulang kali dipersembahkan
itu sudah menumpukkan kepekaan mereka terhadap apa yang sedang terjadi. Tetapi
bagi Adam dan Hawa, yang belum pernah melihat kematian, pengaruh itu tentu
meremukkan. Dengan setiap denyut dari arteri yang dipotong di leher anak domba
itu, kita mendapat pesan yang dahsyat bahwa “upah dosa adalah maut,” anak
domba itu mati menggantikan mereka untuk dosa-dosa mereka.
Jika kita yang modern
merasa jijik oleh pengajaran seperti itu, pikirkan saja betapa jauh
lebih memiriskan ajaran Perjanjian Baru bahwa Yesus, Allah yang
kekal, adalah Anak Domba Allah yang mati untuk mengangkut dan “menghapus dosa
dunia.” Realita darah yang tercurah itu berdiri pada pondasi semua metafora
mengenai keselamatan di dalam Perjanjian Baru, termasuk penebusan (Ef. 1:7),
pembenaran (Rm. 3:25), perukunan kembali (Kol. 1:20), pendamaian (Rm. 3:25),
dan pentahiran (Ibr. 9:23).
Ajaran Yohanes bahwa
Yesus adalah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” memberi pondasi Injil
yang sebenarnya dan Kekristenan.
Tanpa Anak Domba itu, kita masih tersesat di
dalam dosa-dosa kita dan pokok bagi kematian yang Dia ambil bagi Diri-Nya
sendiri.
Terpujilah Allah untuk Anak Domba!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar