Jumat, 05 Februari 2016

Renungan Pagi 06 Februari 2016 "Pandanglah Pada Yesus"

Renungan Pagi 06  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Arti Yesus Sesungguhnya

“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29).

Orang telah mengatakan banyak hal mengenai Yesus, tetapi tidak satupun lebih bermakna atau penting daripada kalimat pendek sang Pembaptis ketika dia melihat Yesus datang berjalan melewati tanjakan: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Keesokkan harinya dia menyebut-Nya lagi “Anak domba Allah” (ayat 36).
Frasa ini bisa saja berarti banyak bagi kita di abad kedua puluh satu ini. bahkan banyak dari kita belum pernah melihat anak domba yang sesungguhnya. Dan tidak satu pun diantara kita pernah membuat kurban anak domba. Tetapi bagi para pendengar Yohanes, itulah frase yang penuh arti.
Pikiran mereka tentu kembali ke Bait Allah di Yerusalem, kemah suci di padang gurun. Dan kitab Imamat, yang menjelaskan inti kurban domba-domba yang tidak berdosa untuk memberi pandangan mengenai perkara-perkara yang nantinya akan terjadi di Kalvari di mana Yesus akan mati “untuk selama-lamanya” (Ibr. 10:10, 14) sebagai Anak Domba Allah yang sesungguhnya demi keselamatan semua umat manusia.
Sistem melakukan kurban Perjanjian Lama pada intinya ritual penggantian. Para pendosa membawa hewan-hewan kurban mereka di hadapan Tuhan, meletakkan tangan mereka di kepala kurban itu, dan mengaku dosa mereka, dengan demikian secara simbolis memindahkan dosa-dosanya itu kepada hewan itu yang akan mati sebagai kurban menggantikan mereka.
Tampaknya denganberlalunya waktu, uamt Israel kehilangan pengaruh sepenuhnya arti sistem mempersembahkan kurban karena kurban-kurban yang berulang kali dipersembahkan itu sudah menumpukkan kepekaan mereka terhadap apa yang sedang terjadi. Tetapi bagi Adam dan Hawa, yang belum pernah melihat kematian, pengaruh itu tentu meremukkan. Dengan setiap denyut dari arteri yang dipotong di leher anak domba itu, kita mendapat pesan yang dahsyat bahwa “upah dosa adalah maut,”  anak domba itu mati menggantikan mereka untuk dosa-dosa mereka.
Jika kita yang modern merasa jijik oleh pengajaran seperti itu, pikirkan saja  betapa jauh lebih memiriskan ajaran Perjanjian  Baru bahwa Yesus, Allah yang kekal, adalah Anak Domba Allah yang mati untuk mengangkut dan “menghapus dosa dunia.” Realita darah yang tercurah itu berdiri pada pondasi semua metafora mengenai keselamatan di dalam Perjanjian Baru, termasuk penebusan (Ef. 1:7), pembenaran (Rm. 3:25), perukunan kembali (Kol. 1:20), pendamaian (Rm. 3:25), dan pentahiran (Ibr. 9:23).
Ajaran Yohanes bahwa Yesus adalah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” memberi pondasi Injil yang sebenarnya dan Kekristenan.
Tanpa Anak Domba itu, kita masih tersesat di dalam dosa-dosa kita dan pokok bagi kematian yang Dia ambil bagi Diri-Nya sendiri.
Terpujilah Allah untuk Anak Domba!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar