Senin, 29 Februari 2016

Renungan Pagi 01 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 01 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Terang  Bersinar

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak  di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:14-16).

“Kamu adalah terang dunia.” Itulah pernyataan luar biasa bila kita mempertimbangkan kepada siapa Yesus berbicara. Dia bukan berbicara kepada para pemimpin agama – para ahli Taurat – Dia tidak memberi dorongan kepada para pengkhotbah atau para teolog. Sebaliknya, Dia mengatakan kepada masyarakat biasa – mereka yang sama sekali tidak penting dari sudut pandang dunia. Pernyataan seperti itu seharusnya membuat kita berdiri dan memperhatikan. Suattu hal luar biasa menjadi orang Kristen. Yesus tidak mengatakan bahwa para ahli falsafah berpendidikan atau para ahli strategi politik yang piawai adalah terang dunia, tetapi Anda – Tuan atau Nyonya atau Nona Kristen Rata-rata. Membuat penyataan seperti itu paling tidak adalah sesuatu yang luar biasa.
Perhatikan sekali lagi “kamu adalah.” Umat Kristen adalah terang dunia menurut kenyataan bahwa mereka adalah umat Kristen.
Bagaimanakah bisa begitu? Menurut defenisi ini bahwa seorang  adalah seorang yang mengenal Yesus. Seorang yang mengerti rencana keselamatan  di dalam Yesus. Dan setiap orang Kristen adalah seorang misionaris untuk memberitahu orang lain mengenai kasih Allah dan pengampunan-Nya di dalam Yesus.
Itu berarti Anda. Anda adalah terang dunia – setiap hari.
Ada dua cara  untuk berbuat salah terhadap terang yang adalah hak istimewa kita. Kita bisa bersikap rendah hati di sini. Yesus adalah terang sebenarnya, sumber semua cahaya. Dia sendiri menjelaskan pokok pembicaraan tersebut ketika Dia menyatakan bahwa “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12)
Kemudian pada gilirannya, kita adalah terang karena kita memantulkan terang-Nya dan kita tersambung dengan sumber daya. Apabila kita putus hubungan, kita kehilangan kemampuan kita untuk bersinar dan dengan begitu kita terlepas ke bagian luar wilayah Kekristenan. Keselamatan kita adalah momen demi momen tetap tersambung dengan sumber daya rohani kita.
Perumpamaan mengenai garam dan terang berbagai upaya pekerjaan misionaris, tetapi dengan cara-cara yang berbeda. Garam bekerja tanpa suara namun menghidupkan kasih Allah di dalam komunitas, sedangkan terang adalah kekuatan yang tampak nyata sementara terang itu secara terbuka menyatakan kabar baik.
Tuhan, bantulah saya hri ini menjadi terang-Mu di dalam dunia yang gelap. Bawalah seseorang ke dalam kehidupan saya hari ini yang membutuhkan pandangan sekilas kasih-Mu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar