Renungan Pagi 01 Maret 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
Terang Bersinar
“Kamu adalah terang dunia. Kota yang
terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang
tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas
kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah
hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu
yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:14-16).
“Kamu adalah terang
dunia.” Itulah pernyataan luar biasa bila kita mempertimbangkan kepada siapa
Yesus berbicara. Dia bukan berbicara kepada para pemimpin agama – para ahli
Taurat – Dia tidak memberi dorongan kepada para pengkhotbah atau para teolog.
Sebaliknya, Dia mengatakan kepada masyarakat biasa – mereka yang sama sekali
tidak penting dari sudut pandang dunia. Pernyataan seperti itu seharusnya
membuat kita berdiri dan memperhatikan. Suattu hal luar biasa menjadi orang
Kristen. Yesus tidak mengatakan bahwa para ahli falsafah berpendidikan atau
para ahli strategi politik yang piawai adalah terang dunia, tetapi Anda – Tuan
atau Nyonya atau Nona Kristen Rata-rata. Membuat penyataan seperti itu paling
tidak adalah sesuatu yang luar biasa.
Perhatikan sekali lagi
“kamu adalah.” Umat Kristen adalah terang dunia menurut kenyataan bahwa mereka
adalah umat Kristen.
Bagaimanakah bisa
begitu? Menurut defenisi ini bahwa seorang adalah seorang yang
mengenal Yesus. Seorang yang mengerti rencana keselamatan di dalam
Yesus. Dan setiap orang Kristen adalah seorang misionaris untuk memberitahu
orang lain mengenai kasih Allah dan pengampunan-Nya di dalam Yesus.
Itu berarti Anda. Anda
adalah terang dunia – setiap hari.
Ada dua cara untuk berbuat salah
terhadap terang yang adalah hak istimewa kita. Kita bisa bersikap rendah hati
di sini. Yesus adalah terang sebenarnya, sumber semua cahaya. Dia sendiri
menjelaskan pokok pembicaraan tersebut ketika Dia menyatakan bahwa “Akulah
terang dunia” (Yoh. 8:12)
Kemudian pada
gilirannya, kita adalah terang karena kita memantulkan terang-Nya dan kita
tersambung dengan sumber daya. Apabila kita putus hubungan, kita kehilangan
kemampuan kita untuk bersinar dan dengan begitu kita terlepas ke bagian luar
wilayah Kekristenan. Keselamatan kita adalah momen demi momen tetap tersambung
dengan sumber daya rohani kita.
Perumpamaan mengenai
garam dan terang berbagai upaya pekerjaan misionaris, tetapi dengan cara-cara
yang berbeda. Garam bekerja tanpa suara namun menghidupkan kasih Allah di dalam
komunitas, sedangkan terang adalah kekuatan yang tampak nyata sementara terang
itu secara terbuka menyatakan kabar baik.
Tuhan, bantulah saya hri ini menjadi terang-Mu di dalam dunia yang
gelap. Bawalah seseorang ke dalam kehidupan saya hari ini yang membutuhkan
pandangan sekilas kasih-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar