Senin, 29 Februari 2016

Renungan Pagi 01 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 01 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Terang  Bersinar

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak  di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:14-16).

“Kamu adalah terang dunia.” Itulah pernyataan luar biasa bila kita mempertimbangkan kepada siapa Yesus berbicara. Dia bukan berbicara kepada para pemimpin agama – para ahli Taurat – Dia tidak memberi dorongan kepada para pengkhotbah atau para teolog. Sebaliknya, Dia mengatakan kepada masyarakat biasa – mereka yang sama sekali tidak penting dari sudut pandang dunia. Pernyataan seperti itu seharusnya membuat kita berdiri dan memperhatikan. Suattu hal luar biasa menjadi orang Kristen. Yesus tidak mengatakan bahwa para ahli falsafah berpendidikan atau para ahli strategi politik yang piawai adalah terang dunia, tetapi Anda – Tuan atau Nyonya atau Nona Kristen Rata-rata. Membuat penyataan seperti itu paling tidak adalah sesuatu yang luar biasa.
Perhatikan sekali lagi “kamu adalah.” Umat Kristen adalah terang dunia menurut kenyataan bahwa mereka adalah umat Kristen.
Bagaimanakah bisa begitu? Menurut defenisi ini bahwa seorang  adalah seorang yang mengenal Yesus. Seorang yang mengerti rencana keselamatan  di dalam Yesus. Dan setiap orang Kristen adalah seorang misionaris untuk memberitahu orang lain mengenai kasih Allah dan pengampunan-Nya di dalam Yesus.
Itu berarti Anda. Anda adalah terang dunia – setiap hari.
Ada dua cara  untuk berbuat salah terhadap terang yang adalah hak istimewa kita. Kita bisa bersikap rendah hati di sini. Yesus adalah terang sebenarnya, sumber semua cahaya. Dia sendiri menjelaskan pokok pembicaraan tersebut ketika Dia menyatakan bahwa “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12)
Kemudian pada gilirannya, kita adalah terang karena kita memantulkan terang-Nya dan kita tersambung dengan sumber daya. Apabila kita putus hubungan, kita kehilangan kemampuan kita untuk bersinar dan dengan begitu kita terlepas ke bagian luar wilayah Kekristenan. Keselamatan kita adalah momen demi momen tetap tersambung dengan sumber daya rohani kita.
Perumpamaan mengenai garam dan terang berbagai upaya pekerjaan misionaris, tetapi dengan cara-cara yang berbeda. Garam bekerja tanpa suara namun menghidupkan kasih Allah di dalam komunitas, sedangkan terang adalah kekuatan yang tampak nyata sementara terang itu secara terbuka menyatakan kabar baik.
Tuhan, bantulah saya hri ini menjadi terang-Mu di dalam dunia yang gelap. Bawalah seseorang ke dalam kehidupan saya hari ini yang membutuhkan pandangan sekilas kasih-Mu.


Minggu, 28 Februari 2016

Renungan Pagi 29 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 29 Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”


Menjadi  Garam  Bukan  Otomatis

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang”
 (Matius 5:13).

Seorang penebang kayu dari Eropa tengah menemukan sepotong kayu di mulut karung gandum. Cukup luar biasa karena kayu tersebut sama warnanya dengan bulir gandum, sehingga dia memutuskan untuk membuat gandum imitasi yang terbuat dari kayu itu.
Setelah membuatnya sebanyak segenggam, dia mencampurnya dengan gandum asli dan mengundang teman-temannya untuk memisahkannya. Namun dia membuat gandum imitasi itu sangat bagus, sehingga tidak ada yang dapat membedakan yang asli daripada yang imitasi. Malahan, dia sendiri tidak dapat membedakannya. Akhirnya satu-satunya cara untuk dapat membedakan asli daripada yang palsu adalah dengan merendamnya dalam air. Setelah beberapa hari, gandum yang asli mulai berkecambah, sementara yang imitasi tetap seperti itu: Yaitu kayu yang mati.
Demikian pula orang yang mengaku umat Tuhan. Bagi mata manusia, selalu mustahil membedakan umat yang sejati daripada mereka yang hanya sekedar anggota jemaat. Mungkin mereka semua adalah anggota dari jemaat yang sama, tapi hubungan iman dengan Kristus akan menunjukkan hubungan tersebut sepanjang waktu oleh pertumbuhan rohani mereka. Perbedaan antara mereka yang hanya kelihatan sebagai anak-anak rohani, dan mereka yang asli, adalah sangat penting.
Seorang Kristen dituntut menjadi garam bagi dunianya, dan menjadi garam bukan otomatis karena sudah mendapat predikat orang Kristen. Semua orang dalam jemaat dapat dipanggil sebagai orang Kristus, dan itulah yang terjadi dalam kehidupan beragama sehari-hari, bukan? Namun ketika Yesus meminta mereka yang mengaku sebagai pengikut-Nya agar memberikan pengaruh rasa asin yang meresap dan mengawetkan rohani, segera terjadi pemisahan karakteristis agung. Karakter seorang Kristen sejati akan secara alami menjadi garam yang memberikan pengaruh diam-diam dalam kehidupannya bagi sesamanya, berkecambah dan hidup semakin menuju kedewasaan rohani yang menghasilkan buah pada akhirnya.
Sebaliknya, orang Kristen yang merasa otomatis sebagai orang Kristen karena panggilan dan dianggap orang Kristen oleh sesamanya, sekadar mendapat predikat spiritual namun mati rohaninya, maka tidak layak sebagai garam dalam misi-Nya bagi dunia ini. menjadi garam bukan otomatis, dan seorang Kristen bukan juga otomatis.
Jadi, demikian juga tidak semua anggota jemaat adalah orang Kristen. Tetapi mereka yang benar-benar memiliki hubungan yang hidup dengan Allah akan menunjukkan rasa asin mengawetkan karakter.
Bapa yang sanggup memeriksa hati yang paling dalam, tolonglah saya menjadi seorang Kristen sejati, bukan sekadar seorang Kristen yang otomatis semata.


Jumat, 26 Februari 2016

Renungan Pagi Minggu 28 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Minggu 28 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Garam Tidak Pernah Kehilangan Rasanya

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain diabuang dan diinjak orang” (Matius 5:13)

            Dengan ayat 13, Yesus menggeser penjelasan-Nya tenang karakter Kristen kepada sebuah bagian pendek tentang pengaruh Kristen.  Tetapi keduanya berhubungan erat.  Pengaruh seorang Kristen bergantung pada karakter. Tanpa karakter “Kristen” maka tidak akan ada pengaruh “Kristen” supaya efektif maka garam itu harus asin.
            Garam punya banyak fungsi. Masyarakat yang tidak memiliki lemari es akan menggunakan garam sebagai pengawet.  Tetapi supaya efektif, garam harus meresap masuk ke dalam makanan.  Garam yang diletakkan sepersekian inci terpisah dari makanan tidak dapat mengawetkan atau menambah rasa.
            Yesus menggambarkan umat Kristen sebagai “garam dunia.” Dia tidak memerintah kita agar menjadi garam.  Tetapi telah menyatakan satu fakta- “kamu adalah garam. Umat Kristen berfungsi sebagai garam oleh berbaur dengan budaya sekitar.  Hanya dengan demikian mereka dapat mengeluarkan peran yang telah diberikan Allah untuk mengawetkan dan memberi rasa pada masyarakat mereka. Walau umat Kristen sering tidak menyadari, kehidupan sehari-hari mereka melunakkan orang-orang dan masyarakat sekitar mereka sementara mereka melakukan Ucapan Bahagia.  Mereka “memberikan rasa” kepada dunia melalui kebaikan-kebaikan kecil yang mereka perlihatkan, kerendahan hati yang mereka tunjukkan, dan sebagainya.  Bahkan orang-orang sombong dan keras sering kesulitan untuk tidak menghargai umat Kristen yang benar, walau mereka tidak ingin berusaha menyamai mereka.  Dengan demikian, satu efek pengaruh Kristen adalah menghambat kemerosotan pribadi dan sosial yang Paulus dengan tepat gambarkan dalam Roma 1:18-32.
            Garam adalah garam! Garam itu asin! Tanpa rasa asin itu, maka bukan garam! Kalau begitu, bagaimanakah garam dapat kehilangan rasa asinnya? Tidak bisa.  Jika tidak asin, maka itu bukan garam. “Jadi bagaiman?” Anda mungkin saja bertanya sekarang. “apakah artinya bagi hidup saya?”
            Artinya segala-galanya.  Karena umat Kristen tidak bisa memilih untuk tidak menjadi garam, maka satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah memilih untuk tidak berfungsi sebagai garam, menolak peran garam yang telah Allah berikan.
            Dan bagaimanakah dapat saya lakukan itu? Dengan bersikap tidak seperti Yesus, yang hidup dan mati untuk kebaikan orang lain.  Dengan tidak mau berbaur bersama dunia dan menyumbangkan pengaruh yang awet.
            Dengan pilihan-pilihan demikian maka orang akan kehilangan rasa asinnya.  Mereka bukan lagi garam (bukan lagi Kristen). Itulah yang telah menjadi sebagian masalah, dan bukan solusinya.

            Makna kisah ini sederhana saja.  Prinsip apa yang kita terima di dalam kehidupan kita dan bagaiamana kita berhubungan dengan sesama dalam hidup sehari-hari, itu akan membuat perbedaan            

Renungan Pagi 27 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 27 Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

                                    Melompat  Dengan Sukacita  Di  Saat  Sulit

“Berbahagialah orang yang dianiyaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiyaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikianlah juga telah dianiyaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10-12).

Dengan ayat hari ini, kita tiba pada bagian terakhir dari kedelapan berkat Kristus. Ucapan bahagia ini juga yang paling panjang, dengan ayat 11 dan 12 memberi komentar tentang ayat 10.
Kekristenan adalah, seperti yang disuguhkan Yesus, sesuatu yang tidak sedamai sebuah piknik yang nyaman. Dari semua guru-guru terbesar di dunia, Yesuslah yang paling jujur dan gamblang. Lagi dan lagi Dia menekankan kenyataan bahwa para pengikut-Nya akan dianiyaya karena mereka seperti Dia, karena mereka akan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang secara diametrik bertentangan dengan prinsip-prinsip yang sudah diterima budaya yang lebih besar dunia ini.
Kekristenan mengakibatkan penganiyayaan di setiap wilayah kehidupan Kristen: Di tempat kerja karena masalah-masalah akibat tidak bersedia menghidupkan ketidakjujuran atau bekerja pada hari Sabat; dalam keluarga-keluarga karena adanya prioritas-prioritas baru dan persekutuan-persekutuan baru; dalam kehidupan sosial karena gaya hidup baru.
Kenyataan yang gamblang adalah bahwa Kekristenan sejati mengubah orang. Ini menjadikan mereka tidak serasi dengan budaya manusia yang “normal” (“berdoa”). Akibatnya adalah penganiyayaan.
Beberapa orang penganiyaya ini lembut dan hampir tidak kelihatan (kecuali pada orang yang mengalaminya), seperti tidak dinaikkan gaji atau tidak dinaikkan tingkat, atau dihina di depan umum di suatu acara sosial.
Seringkali penganiyayaan itu kejam. Kaisar Nero, misalnya, membungkus umat percaya dalam ter dan menyulutkan api pada mereka untuk dijadikan obor hidup guna menerangi taman-tamannya. Seringkali dia menjahit kulit binatang pada beberapa umat percaya lainnya, kemudian melepaskan anjing-anjing pemburunya kepada mereka untuk merobek-robek mereka.
Daftar perbuatan-perbuatan keji itu panjang sekali. Bahkan Yesus tidak terkecuali. Dia mati dalam kematian yang paling menyakitkan dan merendahkan di atas kayu salib.
Dan penganiyayaan-penganiyayaan itu masih belum berakhir, Wahyu 13 berbicara banyak tentang hal ini. penganiyayaan akan berlanjut sampai di akhir zaman.
Tetapi perhatikan, penganiyayaan yang dibicarakan Yesus adalah “sebab kebenaran.” Tidak semua penganiyayaan membawa kita kepada kerelaan.
Tetapi apabila orang menderita untuk kesetiaannya kepada Kristus, mereka seharusnya    “bersukacitalah dan bergembiralah” karena “sesungguhnya, upahmu besar di sorga” (Luk. 6:23).


Kamis, 25 Februari 2016

Renungan Pagi 26 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 26 Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Dua  Jenis Anggota-Anggota  Gereja

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).

Menjadi anggota gereja tidak sama dengan menjadi seorang Kristen. Beberapa anggota gereja hanya menyebabkan masalah saja bagi pasangan-pasangan mereka, anak-anak mereka, lingkungan pemukiman mereka dan jemaat mereka.
Tanda peringatan pertama orang-orang demikian adalah sikap kritik mereka dan perilaku yang keras. Mereka selalu punya sesuatu untuk menyatakan apa yang salah.
            Tentu saja, mereka membungkus keculasan mereka dalam kekudusan dengan mengatakan bahwa mereka hanya ingin memperbaiki yang salah dalam gereja atau orang lain. Walau motivasi seperti itu patut dipuji, namun orang-orang demikian sebaiknya mulai membersihkan cara-cara perang mereka terlebih dulu dan mengenakan atribut-atribut kedamaian.
Kita perlu tahu, membawa damai adalah lebih daripada sekadar tidak hidup dalam wilayah kritik dan mencari kesalahan. Membawa damai mempunyai aspek positif yang dengan baik sekali dibentangkan di dalam doa berikut: “’Tuhan, jadikan saya alat damai-Mu. Di mana ada kebencian, biarlah saya menebar kasih; di mana ada luka, saya menjadi pengampunan; di mana ada keraguan, di sana ada iman; di mana ada keputusasaan, memberi pengharapan; di mana ada kegelapan, saya menjadi terang; dan di mana ada dukacita, saya membagi sukacita. Oh, Guru Ilahi, perkenankan agar saya tidak minta dihibur tetapi menghibur; untuk dikasihi dan mengasihi. Karena dalam memberi itu kita menerima, dalam memaafkan kita dimaafkan; dan di dalam mati kita dilahirkan ke dalam kehidupan kekal.”
Ada dua jenis anggota gereja: Anak-anak Allah dan anak-anak Iblis. Jika saya anak Iblis, maka saya pastikan agar kedua jenis ini ditanam di tiap jemaat. Tidak usah dikatakan, hanya pembawa damailah yang masuk ke dalam kategori pertama.
Membawa damai adalah kegiatan yang banyak seginya. Untuk menjadi seorang pembawa damai, saya perlu mengevaluasi setiap situasi menurut Injil. Saya harus bertanya, apakah maksud tindakan ini? lebih banyak orang terlibat daripada hanya saya. Bagaimanakah dampak yang saya lakukan kepada diri mereka? Apakah dampak yang tindakan-tindakan saya akan tinggalkan pada nama Kristus? Ataukah gereja? Ataukah komunitas saya? Seorang pembawa damai berjalan mengikuti terang kabar Injil.
Ada pameo yang berbunyi: “Untuk hidup bersama orang-orang kudus di surga adalah berkat dan mulia, tetapi untuk hidup bersama orang kudus di bumi sering lain ceritanya.”
Allah memanggil Anda hari ini agar menjadikan gereja berbeda dari dunia. Dia memanggil Anda secara perorangan agar menjadi seorang pembawa damai dalam rupa Yesus.



Rabu, 24 Februari 2016

Renungan Pagi 25 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 25 Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

PENTINGNYA  PERIORITAS

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8).

Ketika para pengawal Sir Walter Raleigh ke tempat dia akan dieksekusi, sang algojo menanyakan apakah letak kepalanya sudah benar di kayu pancungan. Releigh menjawab, “Tidak penting, sobatku, bagaimana letak kepalaku, asalkan hatikulah yang benar.”
Seperti itu juga, apabila saya pergi ke dokter untuk operasi kaki saya, yang pertama diminta sang dokter adalah memeriksa hati (jantung) saya. Jika jantung saya tidak benar, maka tidak ada gunanya memperbaiki kaki saya. Tanpa jantung yang berfungsi dengan baik, kaki yang paling baik di dunia tidak akan bermanfaat bagi saya.
Dalam wilayah fisik, jantung adalah pusat kehidupan. Otot itu yang memompa dan menyebarkan kehidupan ke bagian lain tubuh.
Begitulah juga keadaannya dalam wilayah rohani. Penekanan Alkitabiah adalah betapa pentingnya memiliki hati yang benar bersama Allah.
Yesus menyatakan berkat-Nya ke atas mereka yang “suci hatinya.” Penting sekali diperhatikan, Dia tidak memercayakan mereka yang intelektual. Dia tidak mengatakan, seperti apa dan bagaimana beberapa pihak lain akan melakukannya, “Berbahagialah orang yang mengerti doktrin yang benar, karena mereka akan melihat Allah.” Fokus-Nya adalah pada hati.
Nah, jangan salah menafsir saya. Doktrin yang benar itu penting, tetapi itu bukan merupakan inti masalah. Anda bisa saja mempunyai pengertian doktrinal yang benar dan bersikap lebih culas daripada Iblis. Seseorang bisa saja “lurus” mengenai doktrin, tetapi merupakan kutuk bagi gereja dan suatu gambaran palsu dari Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, di dalam keluarga, dan tempat kerja.
Di dalam Alkitab, hati itu berarti seluruh keadaan batin seseorang. Hati alami mementingkan diri sendiri dan tidak bersih (lihat Yer. 17:9), tetapi Yesus menghendaki hati yang sudah diubah (rm. 12:2; 2 Kor. 5:17). Itu penting sekali bagi kehidupan Kristiani, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat” (Mat. 15:19).
Seperti di dalam wilayah fisik, inti eksistensi Kristiani adalah hati. Hati yang benar dengan Allah dan orang lain memulai suatu pengertian yang benar mengenai doktrin dan ekspresi yang benar dari iman seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa hati rohani yang sehat, saya secara rohani mati, tak peduli betapa fasihnya saya mengerti teologi atau seberapa banyak Alkitab sudah saya hafal.
Mereka yang berhati sucilah yang akan melihat Allah.
Tuhan, bantulah saya supaya saya nengatur prioritas saya dengan benar, bantu saya hari ini untuk menyerahkan hati saya kepada-Mu. Bantulah saya hari ini untuk memulai melihat Engkau lebih baik.


Selasa, 23 Februari 2016

Renungan Pagi 24 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 24 Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Hari  Terbaik  Menjadi  Semakin Menyerupai Yesus

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7).

Tuhan kita memilih urutan ucapan bahagia dengan seksama untuk menggambarkan urutan keselamatan. setiap ucapan bahagia secara logis mengikuti ucapan yang sebelumnya. Jadi ketika saya menyadari bahwa saya tidak mempunyai kebenaran sendiri dan sesungguhnya miskin rohani, maka saya berdukacita atas ketidakberdayaan saya. Saya berseru meminta penyelamatan, dan pengertian saya mengenai keadaan saya sebenarnya membuat saya benar-benar lemah lembut dan bukan sombong dan angkuh. Setelah melihat keadaan saya yang memperihatinkan itu, saya secara wajar merasa lapar dan dahaga akan pengampunan dan kebenaran yang menguatkan dari Allah.
Pada titik itu Allah yang bermurah hati masuk dan menerima pertobatan saya, menyatakan saya diampuni, dan menanamkan hati yang baru di dalam diri saya. Saya sudah ditebus, diselamatkan oleh kemurahan hati-Nya terhadap saya. Itulah janji dari keempat ucapan bahagia yang pertama.
Pertanyaan kemudian timbul: Bagaimakah saya harus menyambutnya? Itulah topik “Loh Batu” kedua dari ucapan bahagia. Saya akan bermurah hati, suci hati, pembawa damai, dan sabar, apabila diperlakukan tidak adil. Pendeknya, melalui kuasa Allah, saya akan makin dan semakin seperti Yesus.
Ucapan Bahagia kelima dengan sangat baik menggambarkan pergeseran dari jalan menuju Allah kepada jalan menuju manusia. Saya baru saja menerima kemurahan kasih karunia dalam Ucapan Bahagia keempat. Dan ketika saya bangkit dan berlutut, Allah mengutus saya ke luar untuk berbagi kemurahan hati yang sama itu kepada tetangga saya, kepada istri saya, teman sepekerjaan saya. Allah menginginkan saya, melalui kasih karunia yang memberi kuasa itu, untuk memperlakukan orang lain sebagaimana Dia memperlakukan saya. Dia menghendaki agar saya juga bermurah hati apabila orang lain berkekurangan atau sedang memerlukan.
Dan di sini kita perlu mengingat bahwa bersikap murah hati lebih daripada suatu sikap. Sikap itu juga merupakan suatu tindakan. Kisah Jacob Bright yang baru pulang dari kota dan menemukan seorang tetangga yang miskin dalam kesulitan besar. Kudanya mendapat kecelakaan dan harus dibunuh. Orang-orang berkerumun sekitar laki-laki itu, dan menyatakan betapa mereka prihatin. Kepada seorang yang paling gencar mengulangi ucapan keprihatinannya, Jacob berkata, “Saya prihatin $50. Berapa besar keprihatinanmu?” Dia menggilirkan topinya memungut uang untuk membelikan laki-laki itu seekor kuda lain.
Kemurahan hati adalah kasih yang keluar. Tetapi sebelum kasih dapat keluar, kasih itu harus memandang keluar. Berbuat demikian secara tidak langsung menunjukkan suatu perubahan hati. Sebagaimana dinyatakan William Barclay, “      Kemurahan hati adalah kebalikan dari mementingkan dri sendiri….. Inilah antithesis dari hanya memikirkan diri sendiri.”
Hari ini hari terbaik untuk mulai bermurah hati dengan cara lebih luhur. Mengapa menundanya? Hari inilah saat membagi-bagikan kemurahan hati Allah.


Minggu, 21 Februari 2016

Teks Lagu God And God Alone - Hanya Dia Tuhan

God And God Alone

God and God alone created all
these things we call our own
From the mighty to the small
the Glory in them all
is God's and God's alone

God and God alone is fit
to take the universe's throne
Let everything that lives
reserve it's truest praise
for God and God alone

Chorus:
God and God alone reveals
the truth of all we call unknown
and the best and worst of man
wont change the Master's plan
it's God's and God's alone

God and God alone will be
the joy of our eternal home
He will be our one desire
Our hearts will never tire
of God's and God's alone

Ha-nya   Dia Tuhan
Ha-nya   Dia Tuhan
Dialah Pencip   -   ta    alam semesta
Nyata kemuliaan - Nya dalam ciptaan- Nya
Kar'na Dialah Tuhan

Ha-nya   Dia Tuhan
Mengatur ha    -   ri    depan manusia
S'bab jalan hidup umat -  Nya
dalam rencana- Nya
Kar'na      Dialah Tuhan

Reff:
Hanya Dia Tuhan
Dia bertahta di atas semesta
Biarlah ciptaan-Nya mengangkat pujian
Hanya   Dialah Tuhan



Teks lagu I have decided to follow Jesus - Keputusanku, Mengikut Yesus,

I have decided to follow Jesus (3X)
I have decided to follow Jesus (3X)
Reef
No turning back
No turning back

The cross before me the world behind (3X )
Though no one joins me, still I will Follow (3X)

Mengikut Yesus, Keputusanku, Mengikut Yesus, Keputusanku, Mengikut Yesus, Keputusanku, (3X)
REFF
'Ku Tak Ingkar, 'Ku Tak Ingkar!
Salib Di Depan, Dunia di blakang, Salib Di Depan, Dunia di blakang, Salib Di Depan, Dunia di blakang, (3X)
Tetap ku ikut, walau sendiri, Tetap ku ikut, walau sendiri, Tetap ku ikut, walau sendiri (3X)


Renungan Pagi 22 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 22  Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Yesus  Kembali  Lagi  Ke Awal

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (Matius 5:5).

Ajaran Yesus dalam  ucapan  bahagia ketiga kembali menentang kebijakan yang diterima dunia kita. Menurut Dia, bukanlah mereka yang ambisius, anas, agresif, atau hanya memikirkan diri sendiri, yang akan mewarisi bumi. Sebaliknya, mereka yang lemah lembut – orang-orang yang melihat ketidakberdayaan mereka dan kemiskinan rohani mereka lalu berduka atas kekurangan-kekurangan mereka. Orang-orang seperti itu tidak mempunyai tempat untuk sombong, tetapi banyak ruang untuk kelemah lembutan.
Kata Yunani untuk “lemah lembut” juga dapat diterjemahkan sebagai “ramah,” “rendah hati,” “bijaksana,” dan “sederhana.” Kita jangan mengelirukan kelemah lembutan dengan kelemahan. Mereka yang lemah lembut bisa saja memiliki wibawa dan kekuatan, tetapi mereka lebih suka tidak menggunakan itu untuk tujuan kepentingan diri sendiri. Kerendahan hati dan kebergantungan sejati kepada Allah selalu membarengi kekuatan mereka yang lemah lembut. Leon Morris menyarankan, “Mereka yang paling memenuhi syarat untuk berkat ini adalah mereka yang kuat menolak untuk mendominasi.”
Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai lemah lembut dalam Matius 11:29. Walau Ia memiliki semua kuasa, Dia memasuki Yerusalem dan menuju ke kayu salib dengan damai. Itulah kebalikan partai Zelot, yang mengharapkan Mesias menggulingkan pemerintahan Romawi dengan  kekerasan.
Apakah mereka kuat atau lemah, mereka  yang lemah lembut adalah orang-orang yang memperhatikan kebijakan kerendahan hati dan keramahan. Bagi umat manusia yang penuh dosa, kelemahlembutan mengalir keluar dari perasaan tidak berdaya dan dosa yang mereka rasakan ketika mereka mencoba hidup terpisah dari kasih karunia Allah.
Orang-orang yang demikianlah yang akan mewarisi bumi. Ekonomi dunia berdasarkan keamanan dan kuasa. Sayangnya tidak ada kekayaan yang terbatas. Akibatnya, pria dan wanita di mana-mana bergulat untuk memperoleh bagian mereka- atau untuk mengutarakannya secara lebih jujur, lebih dari bagian mereka.
Kita melihat akibat-akibat sifat manusia yang mementingkan diri sendiri dan agresif di mana-mana. Bangsa melawan bangsa di ajang internasional, sementara orang-orang bergulat untuk memperoleh posisi pada jenjang yang lebih tinggi.
Sama sekali tidak kelihatan mereka yang lemah lembut akan mewarisi apa pun yang patut diperoleh menurut tolak ukur dunia. Ganjaran akhir bagi  Yesus adalah kayu salib. Dan banyak pengikut-Nya yang setia telah mengalami penganiyayaan dan hidup dalan kemiskinan.
Tetapi janji Ucapan Bahagia ketiga dan keseluruhan Perjanjian Baru adalah suatu perubahan akan datang. Mereka yang lemah lembut di dalam kerajaan Allah yang jungkir balik akan mewarisi bumi. Dan bukan saja bumi yang sudah tua ini, tetapi dunia yang tidak dicemarkan oleh kepedihan penyakit dan kematian.


Sabtu, 20 Februari 2016

Renungan Pagi 21 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 21 Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Berduka  Atas  Kepapaan

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Matius 5:3-4).

Bagian permulaan profil karakteristik Kristus adalah miskin di hadapan Allah. Dalam Perjanjian Lama, kemiskinan memiliki makna tambahan yang Kitab Suci identifikasi dengan kebergantungan yang sederhana kepada Allah. Kalau mereka yang kaya dan berkecukupan cendrung bergantung pada kekuatan mereka sendiri, maka yang miskin hanya dapat memandang kepada Tuhan untuk keselamatan dan bantuan saat kesusahan.
Dalam Perjanjian Baru, mereka yang “miskin di hadapan Allah” yang berdiri dengan si pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus, menagis dalam keadaan rendah mereka, “Ya, Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk. 18:13). Orang ini merasakan kepapan yang berat sekali dipikul, bahwa dia tidak dapat mempersembahkan apa-apa kepada Allah  (The New Engilsh Bible)  membantu kita mengerti makna ucapan bahagia yang pertama itu, dengan menerjemahkannya sebagai “Berbahagialah mereka yang mengetahui kebutuhan mereka akan Allah.”
John R. W. Stott menuliskan bahwa “para pemungut cukai dan pelacur, mereka yang ditolak masyarakat, yang mengetahui bahwa mereka begitu miskin sehingga mereka tidak dapat mempersembahkan apa-apa dan tidak dapat mencapai apa-apa” adalah ahli waris kerajaan, dalam kisah Injil. “Yang hanya dapat mereka lakukan adalah seruan kepada Allah untuk belas kasihan; dan  Dia mendengar seruan mereka.” “Merekalah,” Yesus berjanji, “yang empunya Kerajaan Surga.”
Setelah mengenal ketidakberdayaan dan kemiskinan rohani kita, langkah berikutnya adalah kesedihan pertobatan, digambarkan dalam ucapan bahagia kedua sebagai dukacita. Mengakui kemiskinan rohani kita adalah sesuatu yang berbeda dari berdukacita karenanya. “Dukacita di sini memperlihatkan kesedihan hati yang sesungguhnya karena dosa” (Thoughts From the Mount of Blesing, hlm. 9).
Dengan demikian kehidupan Kristen bukanlah terdiri atas sukacita dan tawa selalu sebagaimana beberapa pihak menginginkan kita percayai. Umat Kristen meratap atas kekurangan-kekurangan mereka, kelangkaan-kelangkaan di dalam kehidupan mereka yang membawa Kristus ke kayu salib.
Berita baiknya dari kedua ucapan bahagia itu bukanlah saja para pengikut Kristus mewarisi kerajaan tetapi bahwa mereka juga akan dihibur. Penghiburan itu adalah penghiburan ganda – sekarang dan masa mendatang.
Pada satu sisi umat Kristen telah dihibur oleh pengampunan dan kepastian bahwa mereka akan diselamatkan. Tetapi yang terbaik dari semuanya penghiburan itu masih akan tiba ketika Yesus datang di tengah awan-awan untuk membawa umat-Nya pulang. Pada saat itu mereka yang telah mati di dalam Kristus akan  Dia angkat dari kematian, sedangkan “kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyosong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1 Tes. 4:16, 17). Nah, itulah penghiburan yang sesungguhnya.


Jumat, 19 Februari 2016

Renungan Pagi 20 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 20  Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Profi  Karakter  Kristen  Yang  Ideal

“Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak oarng lain…. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka…. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah”’ (Lukas 6:17-20).

Lukas menulis Khotbah di Atas Bukit,dan menggambarkan banyak sekali orang berdesakan menghampiri Yesus untuk penyembuhan dan pemberkatan rohani. Dan di sini kita menemukan prinsip dasar kehidupan dan pelayanan-Nya. Yesus mengetahui bahwa melukai orang bukanlah sesuatu yang dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu, Dia tidak memisahkan yang fisik dan yang rohani. Pertama, Dia menyembuhkan tubuh mereka,kemudian Dia menyampaikan berkat rohani.
Dalam Ucapan Bahagia, Tuhan memberitahu para pengikut-Nya karakter Kristen yang ideal. Tidak seperti karunia-karunia Roh, di mana satu orang pergi kepada orang lain dan orang lain kepada yang lain lagi. Di sini setiap orang Kristen akan memiliki delapan jenis karakteristik. Jadi seorang pengikut Kristus tidaklah lemah lembut atau murni di hatinya, tetapi yang lemah lembut dan murni dalam hati. Kedelapan karakteristik itu harus membentuk profil moral setiap orang Kristen. Karakteristik-karakteristik itu adalah sifat-sifat yang esensial para warga kerajaan.
`           Bagian kedua setiap ucapan indah itu menggambarkan delapan delapan berkat yang Allah ingin limpahkan bagi umat-Nya. seperti kerajaan itu, berkat-berkat itu sebagian adalah pengalaman sekarang dan sebagian pengalaman masa depan. Jadi, mereka yang dihibur oleh pekabaran Injil maka di dalam kehidupan sekarang akan menemukan penghiburan yang nanti jauh lebih banyak pada Kedatangan Kedua Kali. Perwujudan kerajaan akan membawa sepenuhnya yang kita sekarang rasakan daripada setiap berkat yang dijanjikan.
Memilih ucapan bahagia secara  paling sederhana adalah dengan membagi ucapan-ucapan itu sebagaimana kedua loh batu hukum Allah. Jadi, kita dapat melihat keempat yang pertama sebagai bagian yang menggambarkan hubungan umat Kristen dengan Allah, sedangkan empat yang kedua memfokus pada sikap seseorang terhadap orang lain. Tidak seperti beberapa orang gereja, Yesus tidak pernah memisahkan hubungan sehat bersama Allah dari sebuah hubungan utuh bersama sesama.
Hal terakhir mengenai Ucapan Bahagia ini adalah, ucapan-ucapan ini bersifat progresif. Setiap karakteristik menjurus kepada yang berikut. Akibatnya, mereka yang mengenal kepapaan rohani akan berdukacita atas kenyataan itu, dalam prosesnya direndahkan, dibuat menjadi lapar akan kebenaran, dan setelah dipuaskan maka dikirim kembali ke komunitas mereka untuk berbelas kasihan dan murni dalam hati.

Bantulah saya hari ini, ya Tuhan agar sepenuhnya mengidupkan setiap karakteristik dalam ucapan bahagia. Saya merindukan berkat-Mu.

Kamis, 18 Februari 2016

Renungan Pagi 19 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 19  Februari 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

                                              Kerajaan Yang Jungkir Balik

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Matius 5:3-4).

Bukanlah cara terbaik untuk memulai suatu khotbah. Si pengkhotbah belum menyusunnya. Dia pasti bukan seorang yang secara politis, cerdik atau sesuai dengan zamannya. Yang pasti, dia tidak memiliki pengertian mendalam dari seorang pakar ilmu hubungan masyarakat.
Siapakah yang mau mendengar tentang miskin di hadapan Allah dan berdukacita? Supaya bisa “berhasil,” maka seorang pengkhotbah harus memberikan orang-orang apa yang mereka inginkan, menghadirkan kepada mereka kata-kata dan gagasan-gagasan yang mereka ingin dengar.
            Dan siapa saja yang sudah cukup berpengalaman akan mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang akan suka mendengarkan pekabaran seperti “Berbahagialah orang yang kaya” atau bahkan “Berbahagialah orang yang kaya di hadapan Allah.”
Nah, jika Yesus sesungguhnya bermaksud menarik khalayak ramai, maka Dia harus dengan cerdas menyesuaikan diri dengan cara-cara dunia. Dengan sebuah pekabaran yang dimulai dengan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” dan “Berbahagialah orang yang berdukacita,” maka Dia tidak akan pernah bisa sekedar diterima oleh orang banyak. Yesus tidak akan pernah mencapai jenis keberhasilan yang budaya dan kebiasaan  lebih luas akan hargai.
Tetapi disitulah justru pergesekan terjadi antara nilai-nilai konvensional dan Yesus. Dia tidak memperdulikan kekaguman dunia sekitar-Nya. sebaliknya Dia lebih suka dengan kehendak Allah.
Akibatnya, pekabaran-Nya bertolak belakang dengan budaya yang sudah diterima umum. Pekabaran-Nya berlawanan dengan kebijakan dunia. Maka sesungguhnya, Ucapan Bahagia ini menjungkirbalikkan niali-nilai sistem dunia. Ucapan-ucapan itu menerbalikkannya.
Yesus mengumumkan kerajaan-Nya sebagai radikal semenjak permulaan pelayanan-Nya. dengan demikian warganya juga akan radikal. Itulah titik awal Ucapan Bahagia, Khotbah di Atas Bukit, dan seantero Perjanjian Baru.
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” dan “mereka yang bersukacita” adalah beberapa pernyataan-pernyataan paling revolusioner di dunia. Tetapi pernyataan-pernyataan itu berdiri di atas pondasi pekabaran Yesus.
Dan pekabaran itu adalah bagi saya secara pribadi. Pekabaran itu bagi Anda. Kita harus membuat pilihan antara Yesus dan dunia ini – antara nilai-nilai-Nya dan nilai-nilai dunia.
Allah Bapa, mengapa gereja di komunitas saya begitu “normal”? Bnatulah saya menjadi “abnormal” dari sudut pandang dunia supaya saya bisa menjadi salah satu di antara  mereka yang “diberkati-Mu.”



Rabu, 17 Februari 2016

Renungan Pagi 18 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 18  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

                                                          Diberkati Atau Bahagia?

“Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: ‘Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”’ (Matius 5: 2-3).

Dalam Matius 5-7, kita temukan khotbah paling termasyhur yang pernah disampaikan. Khotbah di Atas Bukit mulai dengan delapan petuah yang kita kenal sebagai Ucapan Bahagia. Masing-masing mulai mulai dengan kata Yunani makarios yang dapat kita terjemahkan dengan berbagai cara, termasuk “diberkati” dan “bahagia.”

Tetapi ada masalah jika kita menerjemahkannya “bahagia.” Kita semua punya hari-hari tidak bahagia walau kita beriman kepada Yesus. Tentu saja, ada suatu penasaran di mana umat percaya selalu bahagia dan berhak bahagia, karena mereka sudah menjadi anggota kerjaan Allah. Tetapi warga kerajaan masih mengalami hari-hari menyedihkan ketika “ruwet” menjadi cara satu-satunya untuk menggambarkan perasaan mereka.
Dan “perasaan” adalah kata kunci dalam kata kunci kalimat itu. Saya ingin menyarankan bahwa “bahagia” adalah terjemahan yang kurang tepat bagi makarios, karena sebagian besar kita menganggap bahagia itu sebagai keadaan subyektif. Yaitu, kebahagiaan adalah bagaimana kita merasa. Kita merasa sedih atau bahagia.
Tetapi kehidupan Kristen tidak berdasarkan perasaan subyektif. Pernah salah seorang siswa muda saya datang ke kantor saya sambil mengatakan bahwa dia bingung karena dia tidak bahagia. Perasaan-perasaan itu menjurus kepada keputusan. Yesus tidak berkata berulang kali bahwa jika orang-orang menjadi umat Kristen maka mereka akan bahagia? Oleh karena itu, jika dia tidak bahagia maka apakah dia tentu bukan orang Kristen? Ada sesuatu yang tidak benar dalam kehidupannya, tetapi dia tidak dapat menyimpulkan apa itu sebenarnya. Dia sudah tiba ke dalam lubang keputusasaan.
Saya menerangkan kepadanya bahwa anggapnya itu slah adanya karena penerimaan kita terhadap Allah tidak terletak pada perasaan kebahagiaan atau kesedihan yang subyektif, tetapi dalam fakta obyektif di mana Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan semua yang menerima pengorbanan-Nya dalam iman sudah diampuni dan menjadi warga kerajaan surga. Dengan kata lain, teman saya yang mahasiswa ini diberkati Allah, tak peduli bagaimanapun perasaannya.
Maka, jika saya tidak merasa bahagia karena “dianiaya oleh sebab kebenaran” (Mat. 5:10), saya masih punya rasa damai karena saya sudah diberkati oleh Yesus. Itulah kenyataannya. Dan karena saya merasakan sesuatu yang membuat saya merasa bahagia dengan damai di hati, maka diberkati lebih berarti daripada kebahagiaan. Diberkati adalah suatu realita di mana hari yang ruwet tidak dapat renggut dari saya.

            

Selasa, 16 Februari 2016

Renungan Pagi 17 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 17  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Yesus Mengumumkan Prinsip-Prinsip Kerjaan-Nya

“Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya” (Matius 5:1).

Yesus tahu waktunya sudah tiba untuk membentuk pelayanan-Nya menjadi lebih nyata dan teguh. Yohanes Pembaptis telah mengumumkan kedatangan-Nya, pada baptisan-Nya Dia telah dipenuhi Rok Kudus untuk pelayanan dan diberkati oleh Bapa, dan pada pencobaan di padang gurun Dia telah bertemu langsung dengan Setan dan menetapkan batas-batas-Nya.
Setelah itu Dia memulai pelayanan-Nya di Galilea, mengumumkan bahwa kerajaan surge sudah dekat. Kemudian disusul panggilan kepada murid-murid-Nya, para pengganti-Nya – secara perorangan itu yang nantinya mengambil ahli misi-Nya. yesus menggunakan sepenuhnya usaha-Nya dan waktu serta kesabaran-Nya selama tiga tahun berikut dalam  mempersiapkan orang-orang muda ini untuk tugas di depan mereka.
Pelayanan mula-mula-Nya di Galilea, salah satunya adalah “memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.” Hasilnya, “tersiarlah berita tentang Dia… maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari sebrang Yordan” (Mat. 4:23-25). Pelayanan-Nya menjadi buah bibir dalam waktu singkat ketika bangsa itu mulai merasakan sesuatu yang hebat sedang terjadi.
Waktunya tiba bagi Guru yang popular ini, Penyembuhan penyakit ini, Pribadi unik ini dalam sejarah Israel untuk mengumumkan prinsip-prinsip kerajaan-Nya. dia menyatakannya di dalam apa yang disebut menjadi khotbah paling terkenal dalam sejarah dunia – Khotbah di Atas Bulit (Mat.5-7).
Di dalam khotbah pengukuhan itu, Yesus membentangkan prinsip-prinsip kerajaan-Nya – Dia mengumumkan bagaimana warga kerajaan akan berpikir dan menjalani kehidupan ini. apa yang dibentangkan meliputi tiap aspek kehidupan mereka.
Dia mulai dengan menyoroti karakter ideal para warga kerajaan-Nya dalam Ucapan Bahagia (Mat. 5:3-12). Kemudian Dia melanjutkannya dengan petunjuk-petunjuk bagaimana menjadi orang Kristen yang berpengaruh (ayat 13-16), kebenaran mereka (ayat 17-48), kesalehan mereka (Mat. 6:1-18), cita-cita dan prioritas mereka  sehubungan keperluan sehari-hari dan hasrat mereka (ayat 19-34), hubungan mereka dengan orang lain (Mat. 7:1-12), dan komitmen mereka kepada-Nya dan Bapa (ayat 13-29). Pada waktu Dia selesai, Dia telah menyatakan prinsip-prinsip kerajaan-Nya untuk setiap aspek kehidupan mereka yang akan mengikuti-Nya.
Hasilnya, kita perlu mendengarkan dengan seksama ketika sang Raja berbicara. Pekabaran-Nya adalah bagi saya.