Jumat, 29 April 2016

Renungan Pagi Advent: Minggu 01 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

 Renungan Pagi Advent: Minggu 01 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“MENGAJAR DALAM PERUMPANAAN”

“Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.  Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka” (Matius 3:1-3)

                Pada pertengahan pelayanan Yesus, kita menemukan dua transisi. Yang satu berkaitan lokasi dan yang kedua tentang metode-Nya mengajar.
                Pengajaran awal Yesus sebagian besar dilakukan dalam rumah ibadat. Hal itu dapat dimengerti, karena itulah tempat orang Yahudi berharap mendengar firman Allah dijelaskan. Tetapi pertentangan terhadap ajaran Yesus sebaiknya membuat dia lebih berhati-hati untuk menghindari tempat-tempat yang baginya sudah menjadi ajang Konfrontasi. Di luar itu, popularitas-Nya bagi orang banyak begitu meningkat sehingga tidak ada rumah ibadat yang mampu menampung massa sebanyak itu. Jadi dalam Matius 13 kita menemukan Dia mengajar di tepi danau.
                Yesus bukan saja memperolah jalur baru untuk pengajaran-Nya, tapi juga metodologi baru: “Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka.” Bukannya Dia tidak pernah menggunakan perumpamaan sebelunya, tetapi begitu pertentangan meningkat maka Dia makin menggunakan perumpamaan.
                Yesus bukan guru Yahudi pertama menggunakan perumpaan, Klyne R. Snodgrass menulis, “Tetapi tidak ada bukti ada orang sebelum Yesus menggunakan perumpaan secara begitu konsisten, kreatif dan efektif seperti Dia lakukan.
                Ada orang dengan tepat menggambarkan sebuah perumpaan sebagai “kisah duniawi dengan arti surgawi.” Perumpamaan itu menggunakan ilustrasi dari sesuatu yang familiar di sekitar itu untuk membantu orang-orang mengerti realita surgawi atau spiritual.
                Mengajar dengan perumpamaan memiliki beberapa kelebihan dan keuntungan.  Perumpamaan itu aman. Dengan adanya orang-orang memerhatikan Dia untuk menghancurkan-Nya, oleh menggunakan perumpaan maka Yesus dapat mengajar dengan cara yang tidak membuat musuh-musuh-Nya terlalu marah atau memberikan mereka kata-kata konkrit yang dapat mereka gunakan untuk menjatuhkannya.
Keuntungan kedua adalah bahwa orang suka mendengar cerita-cerita, dan umat Yahudi  zaman dulu tidak terkecuali. Setiap pengkhotbah paham akan kuasa sebuah cerita untuk mendapatkan perhatian.
                Tetapi kemungkinan nilai terbesarnya adalah kelestarian pengajaran yang termaktub di dalam perumpamaan. Dengan baik Ellen White mengutarakannya, “Setelah itu, ketika mereka memandang obyek-objek yang mengilurstrasikan ajaran-ajaran-Nya, mereka teringat akan kata-kata sang Guru Ilahi.  Bagi pikirian-pikiran yang terbuka kepada Roh Kudus, arti ajaran-ajaran Juruselamat makin lama makin dimengerti. Misteri-misteri menjadi jelas, dan yang sangat sulit dim” (Chirt’s Object Lesson, Hal. 21).

               




Rabu, 27 April 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 28 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 28 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“YESUS:  WARAS ATAU GILA”

“Kemudian Yesus masuk kesebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi” (Markus 3: 19-21).

Keadaan tentu sudah sangat buruk jika keluarga sendiri mengira Anda gila. Bagaimana sih, kita mungkin bertanya-tanya, sampai keluarga Yesus bisa mencapai kesimpulan seperti itu?

Jika kita memikirkannya dengan seksama, alasan-alasan penyebab pemikiran seperti itu tidaklah terlalu sulit untuk ditemukan. Misalnya, pertama, Yesus meninggalkan satu bisnis pertukangan kayu yang makmur di Nazaret. Untuk apa? Untuk menjadi guru keliling tanpa adanya dukungan nafkah yang nyata?

Kedua, secara politis, Yesus tidaklah berkesan terlalu tajam. Sesungguhnya, jelas-jelas Dia sedang menuju kepada pertentangan seru dengan para pemimpin agama maupun secular bangsa itu. Dan rupanya, Dia sama sekali tidak peduli.

Ketiga, Yesus telah membentuk sendiri masyarakat religious kecil-Nya, aneh lagi: Mereka para nelayan, pemungut cukai yang bertobat, nasionalis fanatik – kaum urakan. Mereka itu bukan orang-orang yang kita pilih disekitar kita jika ingin membuat kesan mengejutkan bagi masyarakat.

Keluarga hanya dapat menyimpulkan bahwa Yesus, walau memiliki sifat-sifat baik, sudah kehilangan pasangan pada realita. Di luar itu, gaya-Nya bertindak bukan saja membahayakan diri-Nya, tetapi kemungkinan akhirnya seluruh keluarga-Nya akan beresiko. Maka mereka berusaha menjaga-Nya supaya mereka dapat menghindarkan Dia dari masalah. Dari sudut pandang Yesus, kita hanya dapat bertanya-tanya apakah pengalaman ini yang membuat-Nya berkata bahwa “musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mat. 10:36).

Apakah arti episode ini bagi kita? Banyak, dalam berbagai cara. Gila adalah vonis sekular dan bahkan dunia religious terhadap mereka semua yang secara antusias memberikan seluruh kehidupan mereka kepada upaya atau gerakan religious atau filantropis. J.D. Jones menuliskan, “Dunia menghormati orang yang demi kemasyuran mempertaruhkan nyawanya dalam pertempuran; tetapi jika seorang mengambil resiko kehilangan nyawanya demi jiwa-jiwa untuk siapa Kristus mati, dunia menganggapnya bodoh.” Dan Halrord Lucock menabahkan, ‘”Dia gila’ selalu menjadi penghargaan nyawa demi di dalam sejarah Kristen bagi mereka yang melayani, bukan dua tuan, tetapi Satu. Paulus memperoleh dekorasi pelayanan yang terhormat itu. Festus berseru, ‘Engkau gila, Paulus! (Kisah 26:24).”

Bagaimana dengan saya?
Apakah saya gila atau hanya seorang anggota gereja yang normal dan biasa-biasa saja dari dulu?






Selasa, 26 April 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu 27 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu 27 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“BAHAYA  AGAMA  NEGATIF”

“Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu, dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikianlah juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini” (Matius 12: 43-45).

Kekristenan bukan suatu yang negatif. Tak seorangpun akan pernah diselamatkan oleh apa yang mereka berhenti lakukan.

Itulah pelajaran yang Yesus ajarkan dalam Matius 12:43-45. Kata-kata penutupnya mengacu kepada para pemimpin Yahudi yang tidak dapat diandalkan pada zaman Yesus. Menurut semua anggapan oarng-orang itu, dari sudut pandang manusia, mereka adalah orang-orang baik. Untuk kepercayaan mereka, mereka bersedia mengorbankan hampir semua kenikmatan. Mereka mempunyai daftar-daftar tebal tentang hal-hal yang dilarang yang mereka ikuti supaya dapat membersihkan kehidupan mereka.

Boleh dikatakan, mereka sudah menyapu bersih rumah mereka dan membereskannya. Tetapi di beberapa ayat sebelumnya kita pelajari bahwa mereka berkomplot pada kematian Yesus (ayat 14). Dengan menyatakan bahwa Dia diilhami Iblis (ayat 27), maka mereka melakukan dosa yang tak dapat diampuni (ayat 31,32).

Namun, mereka adalah orang-orang baik. Pergi ke gereja tiap Sabat. Memberi persepuluhan secara fanatik. Dan menjauhkan diri makanan haram. Masalah mereka, Yesus tunjukkan, adalah bahwa mereka sudah mencampakkan semua hal busuk pada kehidupan mereka, tetapi tidak membiarkan Allah mengisi diri mereka secara positif. Akibatnya, mereka sekarang memiliki Iblis religious (atau tujuh iblis) dan keadaan mereka lebih buruk daripada sediakala, karena tidak ada dosa yang begitu mengelabui daripada dosa kebaikan dan kebanggaan pada prestasi religious diri sendiri.

Orang-orang demikian masih ada bersama kita sekarang. Saya pernah bertemu seorang anggota gereja sok suci yang lebih culas daripada Iblis. Dan saya bahkan pernah berjumpa seorang vegetarian yang lebih lihai daripada Iblis.

Titik vokal Kekristenan bukanlah sekadar mencampakkan yang jahat (walau itu penting, bahkan jika dilakukan penuh persiapan), tetapi membiarkan Roh Allah masuk ke dalam kehidupan kita dengan buah-Nya. bukan kekosongan, tetapi kepenuhanlah tujuan Allah bagi kita masing-masing. Bukan yang negatif tetapi yang positif. “Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasan diri” (Gal. 5:22,23).

Kekristenan adalah sesuatu yang positif dan bukan yang negatif. Kekristenan adalah kepenuhan Roh dan bukan sekedar kekosongan kejahatan.


Senin, 25 April 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa 26 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa 26 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“AKHIR PALING PANTAS KARENA KEBUTAAN YANG DISENGAJA”

“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan didunia yang akan datangpun tidak” (Matius 12: 31, 32).

Dosa tak dapat diampuni!
Itulah cetusan yang luar biasa mengingat pelayanan Yesus. Bagaimana sampai bisa ada dosa yang Tuhan tidak dapat ampuni? Kemarin kita mencatat bahwa Yesus mengampuni seorang wanita yang “tertangkap basah” berzinah. Dan Perjanjian Baru mengutarakan pengampunan sepenuhnya dan selengkapnya untuk segala macam dosa. Bagaimana bisa ada dosa yang begitu serius sampai tidak bisa diampuni, entah di dalam kehidupan ini atau di kekekalan?

Di sini kita perlu melihat sedikit seksama pada bacaan Kitab Suci hari ini yang mengatakan bahwa dosa tak dapat diampuni itu adalah hujatan terhadap Roh Kudus. Artinya apa?

Supaya mendapat pengertian lebih lengkap, kita perlu membaca Yohanes 16:8, di mana Yesus memberitahu kita peran penting Roh Kudus adalah menyadarkan kita bahwa kitasudah berbuat dosa. Dan ketika Roh melakukan itu, saya dapat meresponsnya dalam satu dari dua cara. Pertama, saya dapat menjatuhkan diri dan bertelut, mengaku, dan diampuni (1 Yoh. 1:9). Atau, saya dapat meminta Roh agar “tidak mengganggu, “ membiarkan saya sendiri, karena saya bahagia tanpa Dia mencampuri urusan saya.

Peran Roh adalah menuntun saya kepada keinsyafan akan dosa saya melalui jalur hati nurani saya. Mereka yang hati nuraninya sehat akan bertobat, tetapi mereka yang secara konsisten menolak pelayanan Roh akan mengmbangkan apa yang Paulus katakan hati nurani yang “dicap tipu dusta” (Tim. 4:2) atau “najis” (Tit. 1:15). Yaitu, hati nurani mereka tidak lagi berfungsi. Akibatnya, Roh Kudus tidak dapat lagi menjangkau mereka. Dengan demikian mereka tidak bertobat dan tidak diampuni. Bukan suatu kebetulan bahwa Yesus menghadirkan ajaran ini dalam konteks para pemimpin Yahudi yang mencap pelayanan-Nya berasal dari Setan (Mat. 12:27). Walau mereka punya banyak bukti bahwa pelayanan Yesus bukan dari Setan, namun dengan mengabaikan kesaksian Roh maka mereka menjatuhkan penilaian pada diri mereka sendiri dan mengeraskan hati mereka. Mereka sedang dalam proses menyegel diri mereka sendiri dari satu-satunya jalur melalui mana Allah dapat menjangkau mereka.


Jika Anda khawatir bahwa Anda akan melakukan dosa ini, itu suatu pertanda baik karena Anda tidak akan melakukan dosa tersebut. Sebaliknya, seperti diutarakan N. T. Wright, “Sekali Anda menyatakan bahwa botol air  terakhir yang tersisa itu beracun, Anda menghukum diri Anda sendiri untuk mati haus.”

Minggu, 24 April 2016

Renungan Pagi Advent: Senin, 25 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Senin, 25 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“ILUSTRASI  KEBUTAAN DAN  KESELAMATAN”

“Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: ‘Barangsiapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.’ Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap ditempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: ‘Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?’ Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.’ Lalu kata Yesus: ‘Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang’” (Yohanes 8:7-11).

“Tertangkap basah” berzinah. Itulah frase berwarna-warni seperti warna Technicolor film layar lebar. Sulit untuk tidak melihat gambarannya. Dan bukan gambaran yang indah. Wanita itu jelasnya bermasalah.

Tentu saja, ada bagian yang tidak lengkap pada kisah itu. Bahkan oknum-oknum yang serba kudus dan sempurna seperti orang-orang Farisi itu, harus tahu bahwa berzina bukanlah pengisi waktu yang dilakukan sendirian. Di mana laki-lakinya? Apakah mereka membebaskannya karena dia seorang teman? Atau apakah semua itu sudah diatur untuk menjebak Yesus? Bagaimanapun, jika Dia membebaskan wanita itu mereka dapat menuduh bahwa Dia tidak menerima hukum Musa. Tetapi jika Dia mengikuti hukum dan menganjurkan perajaman menurut hukum, mereka dapat melaporkan-Nya kepada penguasa Romawi, karena Dia akan melanggar hukum mereka dengan menjatuhkan hukuman mati. Kelihatannya dalam situasi itu orang-orang Farisi tidak akan kalah, karena dilihat dari sudut mana pun mana pun dan apa pun yang dilakukan Yesus, Dia sudah tangan mereka.

Di saat itu Yesus “tahu apa yang ada di dalam hati manusia” (Yoh.2:25). Undangan-Nya halus indah dan penuh pengertian bijak: Siapa yang tidak punya dosa silahkan pertama melemparinya. Gebrakan yang sama sekali tidak diharapkan itu membuat kacau para ahli Taurat karena mereka tahu bahwa Alkitab berulangkali memberitahu bahwa mereka semua berbuat dosa.

Namun mereka masih belum mengerti maksud-Nya, lalu Yesus “membungkuk pula dan menulis di tanah.” Banyak orang bertanya-tanya apa yang sesungguhnya Dia tulis, tetapi para penuduh wanita itu tidak bertanya lagi ketika mereka melihat Dia menulis. Mereka malu, dengan singkat Dia menulis “di hadapan mereka rahasia-rahasia kesalahan dari kehidupan mereka sendiri, mulai para pria yang tua” (Kerinduan Segala Zaman, hlm. 73).

Satu demi satu mereka menyelinap pergi, meninggalkan Yesus sendiri dengan wanita yang bermasalah itu. Tidak seperti para penuduh yang tampak “rohani” itu, Yesus tidak membicarakan dosa-dosa wanita itu. Wanita itu sangat menyadari semua kesalahannya.  Jadi kepada wanita yang “tertangkap basah” ini Yesus menginjil dalam dua bagian: Dia tidak menyalahkannya, dan Dia menyuruh wanita yang sudah diampuni itu pergi dan memulai hidup baru. Itulah pekabaran-Nya bagi saya hari ini.


Jumat, 22 April 2016

Renungan Pagi Advent: Sabat, 23 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Sabat, 23 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“LEBIH  BANYAK  LAGI TENTANG MELIHAT”

“Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan bertanya kepadanya: ‘Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.’ Jawabnya: ‘Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.’ Kata mereka kepadanya: ‘Apakah yang diperbuat-Nya kepadamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?’ Jawabnya: “Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga”’ (Yohanes 9:24-27). 

Sungguh sambutan yang bersemangat. Walau dilahirkan buta, pemikiran laki-laki itu baik-baik saja begitu pun dengan keberaniannya dan imannya.

Dia telah mengalami mukjizat Yesus di dalam hidupnya dan siap untuk berdiri lalu memberi kesaksian atas apa yang dia percayai. Bahkan di hadapan orang-orang berkuasa. Walau dengan risiko akan diasingkan .

Walau dia tidak mengerti bagaimana Yesus melakukannya, dia tahu bahwa dia sudah disembuhkan. Dan hal itu telah mengubah hidupnya. Tak peduli berapa pun harganya dia akan mengikuti Yesus.

Sikapnya itu membuat muak orang-orang yang berwenang, yang menjawab bahwa mereka adalah murid-murid Musa. “Kami tahu,” mereka menukas, “bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang” (Yoh. 9:29).

Laki-laki yang disembuhkan yang selalu perseptif itu menjawab dengan suara yang dikuatkan iman, pengalaman, dan pengertian mendalam:  ‘”Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari Ia datang, sedangkan Ia telah meletakkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelakkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.’ Jawab mereka: ‘Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?’ Lalu mereka mengusir dia ke luar” (ayat 30-34).

Suatu pelajaran yang diajarkan pengalaman ini kepada kita adalah bahwa penglihatan secara langsung disambung dengan penglihatan hati. Di hadapan tindakan nyata Allah, kita dapat melakukan satu dan dua hal berikut: kita dapat menyangkal bahwa kita sudah menyaksikan mukjizat dan menuju kearah keragu-raguan. Atau kita dapat mengakui bahwa kita memang melihat bekerjanya Ilahi dan memasuki jalur iman.

Yang menarik tentang bagaimana kita melihat adalah bahwa hal itu membimbing kita semakin tegas ke arah mana kita pertama kali merespons pekerjaan Allah yang nyata. Iman dan keragu-raguan adalah dua jalan kehidupan yang mengeras seiring berjalannya waktu.


Kamis, 21 April 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat, 22 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat, 22 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“BAGAIMANA ANDA MELIHAT?”

“Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabannya : ‘Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.’ Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: ‘Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.’ Sebagian pula berkata: ‘Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?’ Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: ‘Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah meletakkan matamu?’ Jawabnya: ‘Ia adalah seorang nabi’” (Yohanes 9:15-17).

Melihat, bagi sebagian besar kita, adalah bagian kehidupan yang sangat penting. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana keadaannya kalau kita buta, apalagi kalau dilahirkan sebagai orang buta. Jadi, kita berhati-hati sepanjang umur kita untuk melindungi mata kita. Mata itu berharga bagi kita.

Dalam Yohanes 9, kita menemukan kisah Yesus menyembuhkan seorang yang dilahirkan buta. Bukan kejadian yang sering terjadi. Bukan juga bagi masyarakat zaman itu. Semua orang menjadi terhenyak. Mukjizat itu sungguh luar biasa. Masalah satu-satunya di dalam pikiran Yahudi adalah bahwa itu terjadi pada Sabat mingguan. Hal itu membuat kaum Farisi beraksi.

Cara terbaik yang dapat kita gambarkan tentang pandangan rohaniah mereka setelah menaynyakan laki-laki yang sudah dipulihkan itu adalah kabur dan tidak jelas. Sebagai suatu kelompok, mereka tidak tahu apa yang harus dipikirkan. Beberapa meragukan bahwa hal itu terjadi sampai mereka menayakan orang tua laki-laki itu. Dengan jalan untuk menyangkal, mereka menghadapi suatu teka-teki permainan kata-kata. beberapa mengatakan bahwa tidak ada orang berasal dari Allah yang melakukan hal-hal seperti itu pada hari Sabat. Namun yang lain menunjukkan bahwa para  pendosa tidak mungkin sanggup membuat mukjizat seperti itu. Secara keseluruhan kita hanya mengira bahwa mereka binggung.

Kemudian ada orangtuanya. Mereka tidak ragu bahwa putra mereka dilahirkan buta dan sekarang dapat melihat jelas. Tetapi akhirnya mereka ketakutan akan dikeluarkan dari rumah ibadah, dan mungkin kehilangan status sosial mereka di masyarakat, yang mengaburkan pandangan mereka sendiri. Akibatnya, mereka melihat melalui mata ketakutan.

Terakhir, ada laki-laki itu sendiri. Yang paling penting baginya adalah dia dapat melihat, sesuatu yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya. Dia tahu bahwa dia telah mengalami mukjizat kelas satu.

Ketika dinyatakan, siapakah Yesus itu, awalnya dia menyebut-Nya nabi (Yoh. 9:17). Tapi akhirnya dia akan melihat-Nya sebagai Tuhan dan memuji-Nya (ayat 38). Laki-laki yang disembuhkan itu melihat melalui mata iman.

Bagaiamana keadaan saya hari ini? bagaimanakah penglihatan mata rohani saya?

Bapa, tolonglah saya melihat-Mu lebih jelas melalui mata iman.