Renungan Pagi Advent: Rabu, 03 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“Panggilan Terakhir Untuk Bangun”
“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan
kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu
yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan
mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat
beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri
tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud
supaya dilihat orang”’ (Matius 23:1-5).
Puncak pertikaian Yesus dan ahli-ahli Taurat
dan kaum Farisi diceritakan dalam Matius 23, sampai titik ini, Yesus telah
melakukan yang Dia dapat lakukan untuk membangunkan mereka, tetapi
sia-sia. Sekarang saat untuk kata-kata lembut dan taktik berputar dan tidak
langsung selesai. Di dalam kasih-Nya, Yesus sekarang membuat serangan langsung.
Waktunya sudah hampir habis dan mereka belum mendengarkan-Nya.
Matius 23 terdiri dari tiga bagian yang
merupakan suatu tema yang menyatu,. Ayat 1 sampai 12, membicarakan
orang-orang lain, yang menghadirkan lima karakteristik untuk mana Yesus menegur
para ahli Taurat dan kaum Farisi. Tetapi sebelum membawanya, Yesus menyoroti
pentingnya kedudukan para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka “menduduki kursi
Musa” (ayat 2). Yaitu, mereka mempunyai hak istimewa utama dan
tannggungjawab untuk mengajarkan Firman Allah kepada Umat-Nya. Berdasarkan
peran kudus dan berbobot itulah kita harus menyoroti
kekurangan-kekurangan mereka. Kesalahan-kesalahan mereka semakin nyata karena
posisi mereka.
Sebelum melihat sifat-sifat negative yang
digambarkan dalam pasal ini, kita perlu akui bahwa tidak semua orang Farisi itu
seburuk sebagaimana digambarkan di sini. Orang-orang Farisi sendiri – sebagaimana
Yesus – agak tidak setuju dengan sepak terjang sesamanya yang tidak bertanggung
jawab.
Satu hal lain yang harus kita camkan adalah
bahwa para pemimpin Kristen dan oarng-orang awam seringkali berusaha menyamakan
sifat-sifat kaum Farisi. Walau kaum Farisi membentuk bagian yang bersejarah
dalam Yudaisme, namun roh mereka tertanam dan berakar dalam sifat manusia.
Dengan demikian maka kita umat Kristen perlu membaca kecaman dalam Matius 23
dengan membayangkan diri kita sendiri.
Tiap kali kita gagal melakukan apa yang kita
ajarkan (ayat 3), tidak bersedia melakukannya dalam kehidupan kita sendiri apa
yang kita tentukan bagi oarng lain (ayat 4), suka nilai pamer prestasi-prestasi
keagamaan kita (ayat 5), suka gelar-gelar penghormatan dan ditujukkan (ayat-ayat
6-10), dan tidak menyadari dalam pelayanan kita adalah panggilan untuk
melakukan pelayanan dengan berkorban dan bukan untuk mendapatkan status
terhormat (ayat 11, 12), maka kita berprilaku sebagai orang-orang Farisi
terburuk dan bukan sebagai pengikut Yesus.
Bantulah saya, Tuhan agar dapat mengatasi
kekurangan-kekurangan saya sendiri dan mengikuti kehidupan dan Firman-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar