Renungan Pagi Advent: Jumat, 22 April 2016
“Pandanglah Pada Yesus”
“BAGAIMANA ANDA MELIHAT?”
“Karena itu orang-orang Farisipun bertanya
kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabannya : ‘Ia mengoleskan adukan
tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.’
Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: ‘Orang ini tidak datang dari Allah,
sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.’ Sebagian pula berkata: ‘Bagaimanakah
seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?’ Maka timbullah
pertentangan di antara mereka. Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu:
‘Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah meletakkan matamu?’
Jawabnya: ‘Ia adalah seorang nabi’” (Yohanes 9:15-17).
Melihat, bagi sebagian besar kita, adalah
bagian kehidupan yang sangat penting. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana
keadaannya kalau kita buta, apalagi kalau dilahirkan sebagai orang buta. Jadi,
kita berhati-hati sepanjang umur kita untuk melindungi mata kita. Mata itu
berharga bagi kita.
Dalam Yohanes 9, kita menemukan kisah Yesus
menyembuhkan seorang yang dilahirkan buta. Bukan kejadian yang sering terjadi.
Bukan juga bagi masyarakat zaman itu. Semua orang menjadi terhenyak. Mukjizat
itu sungguh luar biasa. Masalah satu-satunya di dalam pikiran Yahudi adalah
bahwa itu terjadi pada Sabat mingguan. Hal itu membuat kaum Farisi beraksi.
Cara terbaik yang dapat kita gambarkan tentang
pandangan rohaniah mereka setelah menaynyakan laki-laki yang sudah dipulihkan
itu adalah kabur dan tidak jelas. Sebagai suatu kelompok, mereka tidak tahu apa
yang harus dipikirkan. Beberapa meragukan bahwa hal itu terjadi sampai mereka
menayakan orang tua laki-laki itu. Dengan jalan untuk menyangkal, mereka
menghadapi suatu teka-teki permainan kata-kata. beberapa mengatakan bahwa tidak
ada orang berasal dari Allah yang melakukan hal-hal seperti itu pada hari
Sabat. Namun yang lain menunjukkan bahwa para pendosa tidak mungkin
sanggup membuat mukjizat seperti itu. Secara keseluruhan kita hanya mengira
bahwa mereka binggung.
Kemudian ada orangtuanya. Mereka tidak ragu
bahwa putra mereka dilahirkan buta dan sekarang dapat melihat jelas. Tetapi
akhirnya mereka ketakutan akan dikeluarkan dari rumah ibadah, dan mungkin
kehilangan status sosial mereka di masyarakat, yang mengaburkan pandangan
mereka sendiri. Akibatnya, mereka melihat melalui mata ketakutan.
Terakhir, ada laki-laki itu sendiri. Yang
paling penting baginya adalah dia dapat melihat, sesuatu yang belum pernah dia
lakukan seumur hidupnya. Dia tahu bahwa dia telah mengalami mukjizat kelas
satu.
Ketika dinyatakan, siapakah Yesus itu, awalnya
dia menyebut-Nya nabi (Yoh. 9:17). Tapi akhirnya dia akan melihat-Nya sebagai
Tuhan dan memuji-Nya (ayat 38). Laki-laki yang disembuhkan itu melihat melalui
mata iman.
Bagaiamana keadaan saya hari ini? bagaimanakah
penglihatan mata rohani saya?
Bapa, tolonglah saya melihat-Mu lebih jelas
melalui mata iman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar