Renungan Pagi Advent: Minggu 01 Mei 2016 “Pandanglah Pada
Yesus”
“MENGAJAR DALAM PERUMPANAAN”
“Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di
tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni
Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak
semuanya berdiri di pantai. Dan Ia
mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka” (Matius 3:1-3)
Pada pertengahan
pelayanan Yesus, kita menemukan dua transisi. Yang satu berkaitan lokasi dan
yang kedua tentang metode-Nya mengajar.
Pengajaran
awal Yesus sebagian besar dilakukan dalam rumah ibadat. Hal itu dapat dimengerti,
karena itulah tempat orang Yahudi berharap mendengar firman Allah dijelaskan. Tetapi
pertentangan terhadap ajaran Yesus sebaiknya membuat dia lebih berhati-hati
untuk menghindari tempat-tempat yang baginya sudah menjadi ajang Konfrontasi. Di
luar itu, popularitas-Nya bagi orang banyak begitu meningkat sehingga tidak ada
rumah ibadat yang mampu menampung massa sebanyak itu. Jadi dalam Matius 13 kita
menemukan Dia mengajar di tepi danau.
Yesus bukan
saja memperolah jalur baru untuk pengajaran-Nya, tapi juga metodologi baru: “Ia
mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka.” Bukannya Dia tidak
pernah menggunakan perumpamaan sebelunya, tetapi begitu pertentangan meningkat
maka Dia makin menggunakan perumpamaan.
Yesus bukan
guru Yahudi pertama menggunakan perumpaan, Klyne R. Snodgrass menulis, “Tetapi
tidak ada bukti ada orang sebelum Yesus menggunakan perumpaan secara begitu
konsisten, kreatif dan efektif seperti Dia lakukan.
Ada orang
dengan tepat menggambarkan sebuah perumpaan sebagai “kisah duniawi dengan arti
surgawi.” Perumpamaan itu menggunakan ilustrasi dari sesuatu yang familiar di
sekitar itu untuk membantu orang-orang mengerti realita surgawi atau spiritual.
Mengajar
dengan perumpamaan memiliki beberapa kelebihan dan keuntungan. Perumpamaan itu aman. Dengan adanya
orang-orang memerhatikan Dia untuk menghancurkan-Nya, oleh menggunakan
perumpaan maka Yesus dapat mengajar dengan cara yang tidak membuat
musuh-musuh-Nya terlalu marah atau memberikan mereka kata-kata konkrit yang
dapat mereka gunakan untuk menjatuhkannya.
Keuntungan kedua adalah bahwa
orang suka mendengar cerita-cerita, dan umat Yahudi zaman dulu tidak terkecuali. Setiap pengkhotbah
paham akan kuasa sebuah cerita untuk mendapatkan perhatian.
Tetapi kemungkinan
nilai terbesarnya adalah kelestarian pengajaran yang termaktub di dalam
perumpamaan. Dengan baik Ellen White mengutarakannya, “Setelah itu, ketika
mereka memandang obyek-objek yang mengilurstrasikan ajaran-ajaran-Nya, mereka
teringat akan kata-kata sang Guru Ilahi.
Bagi pikirian-pikiran yang terbuka kepada Roh Kudus, arti ajaran-ajaran
Juruselamat makin lama makin dimengerti. Misteri-misteri menjadi jelas, dan
yang sangat sulit dim” (Chirt’s Object
Lesson, Hal. 21).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar