Jumat, 29 April 2016

Renungan Pagi Advent: Minggu 01 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

 Renungan Pagi Advent: Minggu 01 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“MENGAJAR DALAM PERUMPANAAN”

“Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.  Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka” (Matius 3:1-3)

                Pada pertengahan pelayanan Yesus, kita menemukan dua transisi. Yang satu berkaitan lokasi dan yang kedua tentang metode-Nya mengajar.
                Pengajaran awal Yesus sebagian besar dilakukan dalam rumah ibadat. Hal itu dapat dimengerti, karena itulah tempat orang Yahudi berharap mendengar firman Allah dijelaskan. Tetapi pertentangan terhadap ajaran Yesus sebaiknya membuat dia lebih berhati-hati untuk menghindari tempat-tempat yang baginya sudah menjadi ajang Konfrontasi. Di luar itu, popularitas-Nya bagi orang banyak begitu meningkat sehingga tidak ada rumah ibadat yang mampu menampung massa sebanyak itu. Jadi dalam Matius 13 kita menemukan Dia mengajar di tepi danau.
                Yesus bukan saja memperolah jalur baru untuk pengajaran-Nya, tapi juga metodologi baru: “Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka.” Bukannya Dia tidak pernah menggunakan perumpamaan sebelunya, tetapi begitu pertentangan meningkat maka Dia makin menggunakan perumpamaan.
                Yesus bukan guru Yahudi pertama menggunakan perumpaan, Klyne R. Snodgrass menulis, “Tetapi tidak ada bukti ada orang sebelum Yesus menggunakan perumpaan secara begitu konsisten, kreatif dan efektif seperti Dia lakukan.
                Ada orang dengan tepat menggambarkan sebuah perumpaan sebagai “kisah duniawi dengan arti surgawi.” Perumpamaan itu menggunakan ilustrasi dari sesuatu yang familiar di sekitar itu untuk membantu orang-orang mengerti realita surgawi atau spiritual.
                Mengajar dengan perumpamaan memiliki beberapa kelebihan dan keuntungan.  Perumpamaan itu aman. Dengan adanya orang-orang memerhatikan Dia untuk menghancurkan-Nya, oleh menggunakan perumpaan maka Yesus dapat mengajar dengan cara yang tidak membuat musuh-musuh-Nya terlalu marah atau memberikan mereka kata-kata konkrit yang dapat mereka gunakan untuk menjatuhkannya.
Keuntungan kedua adalah bahwa orang suka mendengar cerita-cerita, dan umat Yahudi  zaman dulu tidak terkecuali. Setiap pengkhotbah paham akan kuasa sebuah cerita untuk mendapatkan perhatian.
                Tetapi kemungkinan nilai terbesarnya adalah kelestarian pengajaran yang termaktub di dalam perumpamaan. Dengan baik Ellen White mengutarakannya, “Setelah itu, ketika mereka memandang obyek-objek yang mengilurstrasikan ajaran-ajaran-Nya, mereka teringat akan kata-kata sang Guru Ilahi.  Bagi pikirian-pikiran yang terbuka kepada Roh Kudus, arti ajaran-ajaran Juruselamat makin lama makin dimengerti. Misteri-misteri menjadi jelas, dan yang sangat sulit dim” (Chirt’s Object Lesson, Hal. 21).

               




Tidak ada komentar:

Posting Komentar