Renungan Pagi Advent: Sabat, 23 April 2016
“Pandanglah Pada Yesus”
“LEBIH BANYAK LAGI TENTANG MELIHAT”
“Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang
tadinya buta itu dan bertanya kepadanya: ‘Katakanlah kebenaran di hadapan
Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.’ Jawabnya: ‘Apakah orang itu
orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku
tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.’ Kata mereka kepadanya: ‘Apakah yang
diperbuat-Nya kepadamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?’ Jawabnya: “Telah
kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak
mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga”’ (Yohanes
9:24-27).
Sungguh sambutan yang bersemangat. Walau
dilahirkan buta, pemikiran laki-laki itu baik-baik saja begitu pun dengan
keberaniannya dan imannya.
Dia telah mengalami mukjizat Yesus di dalam
hidupnya dan siap untuk berdiri lalu memberi kesaksian atas apa yang dia
percayai. Bahkan di hadapan orang-orang berkuasa. Walau dengan risiko akan
diasingkan .
Walau dia tidak mengerti bagaimana Yesus
melakukannya, dia tahu bahwa dia sudah disembuhkan. Dan hal itu telah mengubah
hidupnya. Tak peduli berapa pun harganya dia akan mengikuti Yesus.
Sikapnya itu membuat muak orang-orang yang
berwenang, yang menjawab bahwa mereka adalah murid-murid Musa. “Kami tahu,”
mereka menukas, “bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia
itu kami tidak tahu dari mana Ia datang” (Yoh. 9:29).
Laki-laki yang disembuhkan yang selalu
perseptif itu menjawab dengan suara yang dikuatkan iman, pengalaman, dan
pengertian mendalam: ‘”Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari Ia datang,
sedangkan Ia telah meletakkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan
orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan
kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang
yang memelakkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari
Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.’ Jawab mereka: ‘Engkau ini lahir sama
sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?’ Lalu mereka mengusir dia ke
luar” (ayat 30-34).
Suatu pelajaran yang diajarkan pengalaman ini
kepada kita adalah bahwa penglihatan secara langsung disambung dengan
penglihatan hati. Di hadapan tindakan nyata Allah, kita dapat melakukan satu
dan dua hal berikut: kita dapat menyangkal bahwa kita sudah menyaksikan
mukjizat dan menuju kearah keragu-raguan. Atau kita dapat mengakui bahwa kita
memang melihat bekerjanya Ilahi dan memasuki jalur iman.
Yang menarik tentang bagaimana kita melihat
adalah bahwa hal itu membimbing kita semakin tegas ke arah mana kita pertama
kali merespons pekerjaan Allah yang nyata. Iman dan keragu-raguan adalah dua
jalan kehidupan yang mengeras seiring berjalannya waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar