Renungan Pagi Advent: Senin, 25 April 2016
“Pandanglah Pada Yesus”
“ILUSTRASI KEBUTAAN DAN
KESELAMATAN”
“Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada
mereka: ‘Barangsiapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama
melemparkan batu kepada perempuan itu.’ Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di
tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang
demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri
dengan perempuan itu yang tetap ditempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan
berkata kepadanya: ‘Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang
menghukum engkau?’ Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.’ Lalu kata Yesus: ‘Akupun tidak
menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang’”
(Yohanes 8:7-11).
“Tertangkap basah” berzinah. Itulah frase
berwarna-warni seperti warna Technicolor film layar lebar.
Sulit untuk tidak melihat gambarannya. Dan bukan gambaran yang indah. Wanita
itu jelasnya bermasalah.
Tentu saja, ada bagian yang tidak lengkap pada
kisah itu. Bahkan oknum-oknum yang serba kudus dan sempurna seperti orang-orang
Farisi itu, harus tahu bahwa berzina bukanlah pengisi waktu yang dilakukan
sendirian. Di mana laki-lakinya? Apakah mereka membebaskannya karena dia
seorang teman? Atau apakah semua itu sudah diatur untuk menjebak Yesus?
Bagaimanapun, jika Dia membebaskan wanita itu mereka dapat menuduh bahwa Dia
tidak menerima hukum Musa. Tetapi jika Dia mengikuti hukum dan menganjurkan
perajaman menurut hukum, mereka dapat melaporkan-Nya kepada penguasa Romawi,
karena Dia akan melanggar hukum mereka dengan menjatuhkan hukuman mati.
Kelihatannya dalam situasi itu orang-orang Farisi tidak akan kalah, karena
dilihat dari sudut mana pun mana pun dan apa pun yang dilakukan Yesus, Dia
sudah tangan mereka.
Di saat itu Yesus “tahu apa yang ada di dalam
hati manusia” (Yoh.2:25). Undangan-Nya halus indah dan penuh pengertian bijak:
Siapa yang tidak punya dosa silahkan pertama melemparinya. Gebrakan yang sama
sekali tidak diharapkan itu membuat kacau para ahli Taurat karena mereka tahu
bahwa Alkitab berulangkali memberitahu bahwa mereka semua berbuat dosa.
Namun mereka masih belum mengerti maksud-Nya,
lalu Yesus “membungkuk pula dan menulis di tanah.” Banyak orang bertanya-tanya
apa yang sesungguhnya Dia tulis, tetapi para penuduh wanita itu tidak bertanya
lagi ketika mereka melihat Dia menulis. Mereka malu, dengan singkat Dia menulis
“di hadapan mereka rahasia-rahasia kesalahan dari kehidupan mereka sendiri,
mulai para pria yang tua” (Kerinduan Segala Zaman, hlm. 73).
Satu demi satu mereka menyelinap pergi,
meninggalkan Yesus sendiri dengan wanita yang bermasalah itu. Tidak seperti
para penuduh yang tampak “rohani” itu, Yesus tidak membicarakan dosa-dosa
wanita itu. Wanita itu sangat menyadari semua kesalahannya. Jadi kepada
wanita yang “tertangkap basah” ini Yesus menginjil dalam dua bagian: Dia tidak
menyalahkannya, dan Dia menyuruh wanita yang sudah diampuni itu pergi dan
memulai hidup baru. Itulah pekabaran-Nya bagi saya hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar