Renungan Pagi Advent: Sabat 06
Agustus 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
Memperkenalkan Kedatangan
Yang Kedua Kali
“Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah,
lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada
bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu lihat semuanya
itu? Aku berkata kepadamu. Sesungguhnya tidak satu batu pun akan dibiarkan
terletak di atas batu yang lain: semuanya akan diruntuhkan.’ Ketika Yesus duduk
di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap
sendirian dengan Dia, Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu
akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?”’
(Matius 24: 1-3).
Matius 24:1 menceritakan Yesus
meninggalkan Bait Allah untuk yang terakhir. Murid-murid-Nya mendengarkan Dia
mengucapkan “ditinggalkan dan tempat yang tandus” (Mat. 23:38). Tampaknya Bait
Suci itu baik-baik saja bagi mereka.
Dan tampaknya bangunan yang sangat baik,
Josefus, pada abad pertama, menulis bahwa permukaan luar Bait Allah itu
“dilapisi keseluruhannya dengan pelat-pelat emas yang berat sekali, dan,
diwaktu matahari mulai terbit, memantulkan kecermelangan, dan membuat mereka
yang memaksakan diri untuk memandang kepada keindahan itu memalingkan mata
mereka kearah lain, sebagaimana mereka lakukan pada terpaan sinar matahari.” Di
kejauhan Dia melanjutkan, Bait Allah tampak “seperti sebuah gunung tertutup
salju; karena, bagian-bagiannya tidak dilapisi emas, berwarna sangat putih”
(Wars 5:5,6).
Bait Allah bukan saja anggun, tetapi
juga kokoh kuat. Josefus, disuatu tempat, menjelaskan bahwa beberapa
batu-batunya berukuran 26 kubit (satu kubit adalah 18-20 inci= 50cm), tinggi 8
kubit, dan kira-kira lebar 12 kubit (Antiquities 15.11.3). di tempat lain Dia
memberitahu kita bahwa batu-batu lain berukuran panjang sampai 45 kubit (57-75
kaki= 30cm) (Wars 5.5.6). dengan fakta-fakta seperti itu, tidaklah mengherankan
bahwa para murid terpukul sekali ketika Yesus memberitahu mereka bahwa Bait
Allah yang kokoh kuat itu, salah satu keajaiban arsitektur dunia purba, akan
hancur secara total, tanpa ada satu batu pun yang bertindih di atas batu lain.
Bagi para pengikut-Nya, kejadian seperti ini
menandai kiamat dunia. Bait Allah adalah fokus keberadaan mereka di dunia. Dan
mereka tidak dapat membayangkan satu dunia tanpa Bait Allah yang agung di
Yerusalem. Para murid, ingin agar mendapat keterangan jelas, kemudian
mengajukan tiga pertanyaan kepada Yesus: (1) Kapan Bait Allah itu akan
dihancurkan? (2) Bagaimanakah tanda kedatangan kembali-Nya? (3) Bagaimanakah
tanda akhir zaman?
Yesus tidak mencoba memperbaiki pengertian
salah mereka tentang urutan kejadian-kejadian itu. Sesungguhnya, jawab-Nya
memadukan kedua kejadian dan tanda-tandanya hingga sedemikian rupa sehingga
boleh dikatakan mustahil untuk meluruskan keduanya.
Dengan Matius 24 dan pengajaran tentang
kedatangan Yesus kedua kali, kita tiba pada tanda genting dari kisah Injil.
Kita perlu membuka mata dan telinga kita sembari kita mengadakan perjalanan
melalui Matius 24 dan 25.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar