Renungan Pagi Advent: Kamis, 04
Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“CARA SALAH UNTUK “MEMPERALAT GEREJA”
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Tuarat dan
oarng-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan
dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut
agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua
kali lebih jahat dari pada kamu sendiri…. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat
dan orang-orang Farisi, hai kamu orang orang-orang munafik, sebab
persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang
terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan
dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu,
tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Matius 23:15-24).
Bagian kedua Matius 23, mulai ayat 13 sampai
32, Yesus paparkan dengan gaya pembicaraan langsung kepada pendengar. Dia
menyebutkan satu demi satu penghukuman dalam bentuk delapan “celaka.” Selain
itu, bagian ini menyebut para ahli Taurat dan orang-orang Farisi “munafik”
tujuh kali, dan “buta” lima kali. Sampai di tahap ini pertentangan Yesus dengan
para pemimpin Yahudi sudah parah. Walaupun Dia mengucapkan perkataan-Nya dengan
kasih, namun mustahil menghindari ketajaman perkataan-Nya itu.
Di sini, sebagaimana kita jelaskan sebelumnya,
sebelum kita terlalu mengkritik orang Yahudi zaman dulu, kita harus sadari
bahwa kesalahan mereka cenderung bersifat umum karena mereka suka “memperalat
gereja,” entah mereka itu kalangan awam atau pendeta. Kedelapan celaka itu
mengajarkan kita bahwa ada perbedaan besar antara peran gereja dan menjalani
agama Yesus.
Celaka pertama menyinggung kegagalan masuk ke
dalam kerajaan, pada saat yang sama merintangi orang lain masuk (ayat
13). Yesus, tentu saja, dalam pemikiran-Nya masih menyimpan tindak-tanduk dan
kata-kata orang Farisi yang mencegah para pengikut mereka mengembangkan
hubungan iman dengan-Nya. Tetapi gereja modern masih mempunyai kegiatan dan
tindak-tanduk demikian. Pembatasan itu dapat mengakibatkan orang lain menjadi
kecil hati karena permainan peran munafik, dengan melencengkan ajaran
Kitab Suci, atau menjalani kehidupan tanpa kasih. Harus disayangkan sikap
seperti itu, tidak membutuhkan sesuatu keahlian atau dedikasi untuk
menjadi sandungan bagi orang lain.
Celaka yang kedua berpusat pada tipe yang
mengorbankan diri sendiri yang berusaha sekeras-kerasnya mempertobatkan
orang-orang kepada cara-cara mereka yang legalistik. Hasilnya ialah mereka yang
bertobat menjadi lebih menderita dibanding sebelum mereka bertemu dengan
pandangan agama melenceng yang diajarkan para misionaris.
Celaka terakhir (ayat 29-32) secara telak
mengenai “memperindah tugu” agama yang banyak diorganisasi. Tugu terbesar bagi
agama yang benar bukanlah suatu perayaan peristiwa-peristiwa religious utama
dan tokoh-tokoh masa lalu, tetapi roh para nabi yang hidup dalam kehidupan kita
sendiri sekarang.
Kita memang bisa sadar apabila menyaksikan
orang-orang baik, bersungguh-sungguh, religious namun dapat menyimpang dan
berbuat salah. Kedelapan celaka itu adalah suatu panggilan, suatu peringatan
untuk memeriksa diri dan menerapkannya kembali bagi kita masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar