Renungan
Pagi Advent: Selasa 02 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“Pelajaran
Lain Tentang Keallahan”
“Demikianlah
firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat
musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu” (Mazmur 110:1).
Kemarin
kita telah memeriksa mengapa Yesus menggunakan Mazmur 110. Dia
menunjukkan kepada kaum Farisi bahwa Mesias / Kristus yang akan datang bukan
saja manusia tetapi juga Allah. Dengan demikian “anak Daud, “ walaupun
penggambaran yang benar dari Mesias, juga gambaran yang tidak sempurna. Mesias
tidak saja Anak Daud, tetapi juga Tuhan Allahnya.
Yesus
menyelesaikan paling tidak tiga hal dalam perdebatan-Nya dengan kaum
Farisi. Pertama, Dia di depan umum menunjukkan ketidakmampuan mereka
mengartikan Kitab Suci. Kedua, Dia membuat pernyataan besar bagi diri-Nya
sendiri. Kesalahan kaum Farisi bukanlah bahwa mereka beranggapan terlalu
tinggi tentang Mesias, tetapi tidak cukup tinggi. Dia memang
Ilahi-begitu Ilahi sehingga Daud yang perkasa memuja Dia sebagai Tuhan
(Yahweh). Dan dalam membuat pernyataan menggetarkan itu terhadap Mesias,
Yesus memaksudkannya untuk diri-Nya sendiri, sebagaimana Dia sudah melakukannya
sebelumnya di minggu itu dengan memasuki Yerusalem menunggang keledai dan mengambil
kuasa atas Bait Allah.
Implikasi
ketiga muncul dari penggunaan Mazmur 110 oleh Yesus yang menyatakan jika Mesias
bukan sekadar anak Daud, maka Daud sebagai pola bagi Mesias tidaklah
utuh. Jabatannya sebagai raja dari berbagai ahli perang tidak lagi
pengertian yang mencukupi. Jadi, kita mendapat kenyataan bahwa Yesus
menerima gelar-gelar Mesias dan anak Daud, tetapi menolak batas-batas rumusan
orang Yahudi. Yesus tidak pernah datang sebagai raja – ahli perang,
tetapi sebagai Domba Allah yang akan menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29).
Dan Dia bukan sekadar berusaha untuk membebaskan bangsa Yahudi dari bangsa
Romawi, tetapi untuk menyelematkan umat-Nya di mana saja dari dosa-dosa mereka
(Mat. 1:21).
Penggunaan
Mazmur 110 oleh Yesus dalam Matius 22 juga mengungkapkan beberapa hal mengenai
maksud-Nya mengenai misi-Nya; (1) bahwa Dia akan menang dan duduk di kanan
Allah, dan (2) bahwa Dia akhirnya akan menang atas musuh-musuh-Nya yang akan
menjadi tumpuan kaki.
Keyakinan
demikian penting bagi umat percaya sementara kita melihat serangan gencar dunia
terhadap iman kita. Tidak mengherankan bahwa Mazmur 110 menjadi perikop
Perjanjian Lama yang paling sering dikutip di dalam Perjanjian Baru, disinggung
atau dikutip 33 kali. Kitab Ibrani berulangkali menggunakan ayat tersebut
untuk membuat umat Kristen mengerti sepenuhnya bahwa mereka dapat hidup dengan
keyakinan mutlak karena mereka melayani Yesus yang sudah dibangkitkan yang
duduk “di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr.
1:3).
Kita
dapat bersyukur bahwa Yesus bukan sekadar anak Daud, tetapi Tuhannya yang
menang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar