Renungan
Pagi Advent: 07 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“PELAJARAN
LAIN TENTANG KEDATANGAN KEDUA KALI”
“Ketika
Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk
bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami,
bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan
dunia?” (Matius 24:3)
Kita
mencatat kemarin bahwa para murid bingung tentang hubungan kehancuran Bait
Allah dan Kedatangan Kedua Kali. Andaikan saya Yesus, maka saya akan
menjelaskan kepada mereka pokok pembicaraan itu dan memberitahu mereka bahwa
kedua peristiwa itu masih akan datang tetapi 2.000 tahun akan berlalu antara
kedua kejadian itu.
Tetapi
Yesus tidak mengikuti logika saya. Jawaban-Nya memadukan kedua kejadian dan
tanda-tandanya dengan satu cara yang umat Kristen sulit luruskan. Kita
bertanya-tanya jalan pemikiran Yesus dan strategi-Nya, padahal Dia dapat
menjelaskan segala-galanya. Satu hal yang dapat kita katakan dengan pasti
adalah Dia dengan sengaja menggabungkan kedua kejadian itu dalam
penjelasan-Nya.
Tetapi
mengapa? Pasal tersebut tidak memberi alasannya kepada kita. Yang paling
penting di antara alasan itu adalah bahwa Yesus bukan sekedar mencoba
memberitahu kita kapan kesudahan itu akan tiba, tetapi juga menyiagakan para
pendengar-Nya bahwa mereka harus hidup dalam pengharapan yang berkesinambungan
sementara mereka menanti-nantikan kesudahan itu. Tujuan itu menjadi jelas
ketika Matius 24 mendekati akhir dan masuk ke dalam anjuran untuk
bersedia dan berjaga (ayat 36, 42, 44, 50). Perumpamaan-perumpamaan besar di
pasal 25 yang membentuk kesimpulan khotbah, dimulai dalam pasal 24 dan
berlanjut menyampaikannya pelajaran agar menunggu dengan setia dan penuh
tanggung jawab bekerja sementara para pengikut Kristus menunggu akhir zaman.
Alasan
kedua untuk strategi mengajar Yesus adalah bahwa dengan berbuat begitu para
pembaca dipaksa untuk secara berkelanjutan memikirkan kembali ajaran-ajaran-Nya
tentang Kedatangan Kedua Kali ketika mereka mempelajari yang Dia maksudkan.
Pendekatan semacam itu mirip dalam beberapa penggunaan perumpamaan-Nya. Dalam
Matius 13:10-15, Yesus mengisyaratkan bahwa Dia mengajar dalam
perumpamaan-perumpamaan daripada dalam bahasa yang terus terang karena cara
mengajar demikian akan memaksa mereka yang sungguh-sungguh berminat untuk
menggumuli arti sesungguhnya tentang apa Dia katakan, dengan demikian
menjadikan makna itu bagian mereka sendiri.
Sebagai
hasilnya, ambiguitas beberapa pernyataan-Nya telah membuat para pembaca
bergumul dengan makna khusus dan arti yang dibicarakan. Akibatnya adalah suatu
kesadaran dan minat yang terus bergulir dalam hal Kedatangan Kedua Kali. Teknik
ini telah membantu orang-orang mengenal maksud utama khotbah-Nya – untuk
berjaga dan bersiap, karena mereka benar-benar tidak mengetahui waktu
kedatangan sang Guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar