Renungan Pagi Advent: Jumat 05
Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“Kasih Yang Kuat “ Dari Yesus
“Hai kamu ular-ular, hai kamu
keturunan ular beludak, bagaimana menurutmu akan kamu hindari hukuman ke
tumpukan sampah?... Yerusalem, Yerusalem! Engkau membunuh nabi-nabi dan merajam
orang-orang yang diutus kepadamu. Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anaknya
di bawah sayapnya – dan kamu tidak pernah mau. Yang tersisa bagimu sekarang
adalah rumahmu. Aku berkata kepadamu bahwa kamu tidak akan melihat-Ku lagi,
hingga gari kamu berseru, ‘Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”’
(Matius 23:33-39, versi Phillips).
Beberapa anggota gereja sangat keras
ketika menghukum orang lain. Kepedulian mereka adalah tentang kemurnian,
perilaku benar,musik yang tepat, dan diet yang disucikan. Mereka pikir
tidak masalah mengucapkan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Dan akibatnya
adalah orang-orang muda tidak mau hadir lagi, anggota-anggota baru kecewa
dan siapa saja merasakan kerohanian demikian maka mulai berdoa bagi
“orang-orang benar” itu dan untuk kelangsungan agama yang benar dalam jemaat.
Di sini kita perlu menyadari
perbedaan antara keras dan kuat bagi kerajaan Allah dan memperlihatkan kasih
yang kuat dalam roh Kristus.
Salah satu aspek tidak menguntungkan
hanya berfokus pada firman yang tertulis adalah bahwa kita tidak dapat melihat
ekspresi wajah dan mendengar nada suara. Saya rasa sukar membedakan antara roh
kasih atau keculasan dan kekerasan. Kata-katanya bisa saja sama, tetapi
makna yang sampai kepada kita berbeda sekali. Kita belajar dari Matius 23 bahwa
Yesus termasuk di antara mereka yang tidak takut untuk menghadi suatu
kesalahan. Namun kita juga sekilas melihat roh di mana Dia berbuat demikian.
Apabila kita tergiur untuk
memainkan peran sebagai “pasukan penggempur rohani,” maka kita perlu
mempertimbangkan ayat-ayat yang menyoroti Yesus membeberkan teguran-teguran
Matius 23. “Yerusalem, Yerusalem,… Berkali-kali aku rindu mengumpulkan
anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah
sayapnya” (ayat 37). Dalam kasih dan kepedulian, Yesus menyampaikan seruan
terakhir-Nya kepada para pemimpin Yahudi untuk meninggalkan kerohanian palsu
mereka dan berpaling kepada “perkara-perkara hukum yang lebih berbobot” –
“Keadilan dan belas kasihan” (ayat 23). Dan dengan hati yang hancur, Dia
menyadari bahwa sebagian besar dari mereka tidak akan berubah (ayat 37).
Dengan penolakan itu tibalah
pertanda dua kejadian. Satu adalah kehancuran Bait Allah dan Yerusalem
bersamanya (ayat 38). Dan yang kedua adalah kembalinya Dia sendiri dalam
awan-awan surgawi (ayat 39).
Tuhan kami sudah disadarkan oleh
kata-kata yang kuat dari Yesus terhadap gagasan-gagasan palsu mengenai agama.
Tetapi kami sudah diberikan harapan oleh roh kasih di dalam mana Dia berbicara.
Bantullah kami memiliki agama yang sejati dan roh yang sesuai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar