Renungan Pagi Advent: Rabu 27 April 2016
“Pandanglah Pada Yesus”
“BAHAYA AGAMA NEGATIF”
“Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun
mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak
mendapatnya. Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan
itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu, dan rapi
teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain jahat dari padanya dan
mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk
dari pada keadaannya semula. Demikianlah juga akan berlaku atas angkatan yang
jahat ini” (Matius 12: 43-45).
Kekristenan bukan suatu yang negatif. Tak
seorangpun akan pernah diselamatkan oleh apa yang mereka berhenti lakukan.
Itulah pelajaran yang Yesus ajarkan dalam
Matius 12:43-45. Kata-kata penutupnya mengacu kepada para pemimpin Yahudi yang
tidak dapat diandalkan pada zaman Yesus. Menurut semua anggapan oarng-orang
itu, dari sudut pandang manusia, mereka adalah orang-orang baik. Untuk
kepercayaan mereka, mereka bersedia mengorbankan hampir semua kenikmatan.
Mereka mempunyai daftar-daftar tebal tentang hal-hal yang dilarang yang mereka
ikuti supaya dapat membersihkan kehidupan mereka.
Boleh dikatakan, mereka sudah menyapu bersih
rumah mereka dan membereskannya. Tetapi di beberapa ayat sebelumnya kita
pelajari bahwa mereka berkomplot pada kematian Yesus (ayat 14). Dengan
menyatakan bahwa Dia diilhami Iblis (ayat 27), maka mereka melakukan dosa yang
tak dapat diampuni (ayat 31,32).
Namun, mereka adalah orang-orang baik. Pergi
ke gereja tiap Sabat. Memberi persepuluhan secara fanatik. Dan menjauhkan diri
makanan haram. Masalah mereka, Yesus tunjukkan, adalah bahwa mereka sudah
mencampakkan semua hal busuk pada kehidupan mereka, tetapi tidak membiarkan
Allah mengisi diri mereka secara positif. Akibatnya, mereka sekarang memiliki
Iblis religious (atau tujuh iblis) dan keadaan mereka lebih buruk daripada
sediakala, karena tidak ada dosa yang begitu mengelabui daripada dosa kebaikan
dan kebanggaan pada prestasi religious diri sendiri.
Orang-orang demikian masih ada bersama kita sekarang.
Saya pernah bertemu seorang anggota gereja sok suci yang lebih culas daripada
Iblis. Dan saya bahkan pernah berjumpa seorang vegetarian yang lebih lihai
daripada Iblis.
Titik vokal Kekristenan bukanlah sekadar
mencampakkan yang jahat (walau itu penting, bahkan jika dilakukan penuh
persiapan), tetapi membiarkan Roh Allah masuk ke dalam kehidupan kita dengan
buah-Nya. bukan kekosongan, tetapi kepenuhanlah tujuan Allah bagi kita masing-masing.
Bukan yang negatif tetapi yang positif. “Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasan diri” (Gal. 5:22,23).
Kekristenan adalah sesuatu yang positif dan
bukan yang negatif. Kekristenan adalah kepenuhan Roh dan bukan sekedar
kekosongan kejahatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar