Renungan Pagi Advent: Kamis, 28 April 2016
“Pandanglah Pada Yesus”
“YESUS: WARAS ATAU GILA”
“Kemudian Yesus masuk kesebuah rumah. Maka
datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat.
Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia,
sebab kata mereka Ia tidak waras lagi” (Markus 3: 19-21).
Keadaan tentu sudah sangat buruk jika keluarga
sendiri mengira Anda gila. Bagaimana sih, kita mungkin bertanya-tanya, sampai
keluarga Yesus bisa mencapai kesimpulan seperti itu?
Jika kita memikirkannya dengan seksama,
alasan-alasan penyebab pemikiran seperti itu tidaklah terlalu sulit untuk
ditemukan. Misalnya, pertama, Yesus meninggalkan satu bisnis pertukangan kayu
yang makmur di Nazaret. Untuk apa? Untuk menjadi guru keliling tanpa adanya
dukungan nafkah yang nyata?
Kedua, secara politis, Yesus tidaklah berkesan
terlalu tajam. Sesungguhnya, jelas-jelas Dia sedang menuju kepada pertentangan
seru dengan para pemimpin agama maupun secular bangsa itu. Dan rupanya, Dia
sama sekali tidak peduli.
Ketiga, Yesus telah membentuk sendiri
masyarakat religious kecil-Nya, aneh lagi: Mereka para nelayan, pemungut cukai
yang bertobat, nasionalis fanatik – kaum urakan. Mereka itu bukan orang-orang
yang kita pilih disekitar kita jika ingin membuat kesan mengejutkan bagi
masyarakat.
Keluarga hanya dapat menyimpulkan bahwa Yesus,
walau memiliki sifat-sifat baik, sudah kehilangan pasangan pada realita. Di
luar itu, gaya-Nya bertindak bukan saja membahayakan diri-Nya, tetapi
kemungkinan akhirnya seluruh keluarga-Nya akan beresiko. Maka mereka berusaha
menjaga-Nya supaya mereka dapat menghindarkan Dia dari masalah. Dari sudut
pandang Yesus, kita hanya dapat bertanya-tanya apakah pengalaman ini yang
membuat-Nya berkata bahwa “musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mat.
10:36).
Apakah arti episode ini bagi kita? Banyak,
dalam berbagai cara. Gila adalah vonis sekular dan bahkan dunia religious
terhadap mereka semua yang secara antusias memberikan seluruh kehidupan mereka
kepada upaya atau gerakan religious atau filantropis. J.D. Jones menuliskan,
“Dunia menghormati orang yang demi kemasyuran mempertaruhkan nyawanya dalam
pertempuran; tetapi jika seorang mengambil resiko kehilangan nyawanya demi
jiwa-jiwa untuk siapa Kristus mati, dunia menganggapnya bodoh.” Dan Halrord
Lucock menabahkan, ‘”Dia gila’ selalu menjadi penghargaan nyawa demi di dalam
sejarah Kristen bagi mereka yang melayani, bukan dua tuan, tetapi Satu. Paulus
memperoleh dekorasi pelayanan yang terhormat itu. Festus berseru, ‘Engkau gila,
Paulus! (Kisah 26:24).”
Bagaimana dengan saya?
Apakah saya gila atau hanya seorang anggota
gereja yang normal dan biasa-biasa saja dari dulu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar