Rabu, 27 April 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 28 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 28 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“YESUS:  WARAS ATAU GILA”

“Kemudian Yesus masuk kesebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi” (Markus 3: 19-21).

Keadaan tentu sudah sangat buruk jika keluarga sendiri mengira Anda gila. Bagaimana sih, kita mungkin bertanya-tanya, sampai keluarga Yesus bisa mencapai kesimpulan seperti itu?

Jika kita memikirkannya dengan seksama, alasan-alasan penyebab pemikiran seperti itu tidaklah terlalu sulit untuk ditemukan. Misalnya, pertama, Yesus meninggalkan satu bisnis pertukangan kayu yang makmur di Nazaret. Untuk apa? Untuk menjadi guru keliling tanpa adanya dukungan nafkah yang nyata?

Kedua, secara politis, Yesus tidaklah berkesan terlalu tajam. Sesungguhnya, jelas-jelas Dia sedang menuju kepada pertentangan seru dengan para pemimpin agama maupun secular bangsa itu. Dan rupanya, Dia sama sekali tidak peduli.

Ketiga, Yesus telah membentuk sendiri masyarakat religious kecil-Nya, aneh lagi: Mereka para nelayan, pemungut cukai yang bertobat, nasionalis fanatik – kaum urakan. Mereka itu bukan orang-orang yang kita pilih disekitar kita jika ingin membuat kesan mengejutkan bagi masyarakat.

Keluarga hanya dapat menyimpulkan bahwa Yesus, walau memiliki sifat-sifat baik, sudah kehilangan pasangan pada realita. Di luar itu, gaya-Nya bertindak bukan saja membahayakan diri-Nya, tetapi kemungkinan akhirnya seluruh keluarga-Nya akan beresiko. Maka mereka berusaha menjaga-Nya supaya mereka dapat menghindarkan Dia dari masalah. Dari sudut pandang Yesus, kita hanya dapat bertanya-tanya apakah pengalaman ini yang membuat-Nya berkata bahwa “musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mat. 10:36).

Apakah arti episode ini bagi kita? Banyak, dalam berbagai cara. Gila adalah vonis sekular dan bahkan dunia religious terhadap mereka semua yang secara antusias memberikan seluruh kehidupan mereka kepada upaya atau gerakan religious atau filantropis. J.D. Jones menuliskan, “Dunia menghormati orang yang demi kemasyuran mempertaruhkan nyawanya dalam pertempuran; tetapi jika seorang mengambil resiko kehilangan nyawanya demi jiwa-jiwa untuk siapa Kristus mati, dunia menganggapnya bodoh.” Dan Halrord Lucock menabahkan, ‘”Dia gila’ selalu menjadi penghargaan nyawa demi di dalam sejarah Kristen bagi mereka yang melayani, bukan dua tuan, tetapi Satu. Paulus memperoleh dekorasi pelayanan yang terhormat itu. Festus berseru, ‘Engkau gila, Paulus! (Kisah 26:24).”

Bagaimana dengan saya?
Apakah saya gila atau hanya seorang anggota gereja yang normal dan biasa-biasa saja dari dulu?






Tidak ada komentar:

Posting Komentar