Senin, 08 Februari 2016

Renungan Pagi 09 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Selasa 09  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

INTI PENCOBAAN

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis” (Matius 4:1).

Di situ untuk pertama kali Injil diperkenalkan kita kepada antagonis utama terhadap Kristus dalam konflik antara yang baik dan jahat. Matius menyebutnya “Iblis dalam ayat 1, “pencoba” dalam ayat 3, dan di dalam ayat 10 “Iblis”  - dalam terjemahan-terjemahan lain “Setan” (musuh) – nama sebenarnya setelah kejatuhan dalam kitab Kejadian. Sebelum pasal 4, Iblis selalu aktif  di belakang layar, seperti Herodes, tetapi sekarang dia muncul dan muncul ke depan.
Kita juga  harus mengenal bahwa Allah maupun Roh Kudus bukan perantara yang aktif di dalam pencobaan. Matius cukup hati-hati dalam pemilihan kata-katanya: “Maka Yesus di bawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Yakobus dengan jelas mengajarkan kita bahwa Allah tidak mencobai siapa pun (Yak. 1:13). Tetapi Allah mengizinkan para pengikut-Nya untuk mendapatkan pencobaan agar menguatkan dan memperkembang karakter mereka. Jadi kita jangan merasa tidak serasi lagi dengan Allah, apabila diri kita berada di tempat-tempat yang sulit. Bagaimanapun, pencobaan-pencobaan Yesus datang tepat setelah dia dipenuhi Roh pada baptisan-Nya. para pengikut Allah tidak dikecualikan dari tekanan-tekanan dunia. Lebih tepat ialah mereka diberikan kekuatan untuk melawan kekuatan-kekuatan itu (1 Kor. 10:13). Begitulah dengan Yesus. Ia menghadapi pencobaan-pencobaan biasa dari manusia. Tetapi Dia menang (Ibr. 4:15).
Oleh pencobaan-pencobaan Kristus, kita bertemu dengan sifat esensial pencobaan itu sendiri.   Sebelumnya kita catat bahwa Kristus yang memiliki wajah dan tubuh seperti manusia telah “mengosongkan diri-Nya sendiri” ketika Dia datang ke bumi (Flp. 2:5-8). Yaitu, Dia secara sukarela menanggalkan sifat Ilahi-Nya dan menyerahkan diri kepada kondisi-kondisi kehidupan yang juga kita hadapi. Sementara di bumi ini, Allah Anak hidup dalam kebergantungan kepada Allah Bapa, seperti juga kita (Yoh. 5: 19, 30; 8:28; 14:10). Dia benar-benar menjadi salah satu dari kita.
Mohon dicatat dalam pengosongan  diri-Nya adalah perbuatan sukarela. Tidak ada yang memaksa-Nya menjadi manusia. Dia memilih berbuat demikian. Pada titik pengosongan diri Kristus secara sukarela ini kita temukan fokus pada kekuatan pencobaan-pencobaan-Nya. jika musuh mampu membuat Yesus “mengisi” diri-Nya sekali saja dan membuat-Nya menggunakan kuasa “tersembunyi-Nya,” maka peperangan itu sudah usai, dengan Setan sebagai pemenang. Ellen White mengemukakan bahwa “baginya sulit  untuk menjaga agar tetap pada tingkat manusia  sebagaimana sulit bagi manusia untuk bangkit lebih tinggi daripada tingkat rusak akhlak mereka yang rendah, dan dia menjadi bagian dari sifat Ilahi” (Review and Herald, 1 April 1875).
Di dalam pencobaan-pencobaan Kristus, kita temukan inti diri kita juga. Inti pencobaan pribadi saya tiap hari adalah berhenti bergantung pada Allah dan merasa diri sudah menggulangi segala-galanya sendiri, mereka jadi ilahi kehidupan saya.


Sabtu, 06 Februari 2016

Renungan Pagi 07 Februari 2016

Renungan Pagi 07 Februari 2016

                                           YESUS MENGEJUTKAN YOHANES

“Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan engkau yang datang kepadaku?’ Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: ‘biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah. Dan Yohanes pun menuruti-Nya  (Matius 3:13-15)

            Salah satu hal paling mengejutkan di dalam pelayanan Yohanes Pembaptis adalah bahwa Yesus datang kepadanya untuk dibaptis.  Bukankah dia sudah mengumumkan kepada orang banyak, Yesus yang akan membaptis dengan babtisan yang superior dibandikan baptisannya (Mat. 3:11)? Dan sekarang Yesus muncul penerima baptisan sebagai tindakan awal kelayakan-Nya dalam kisah Injil.  Tidak mengherankan, Yohanes pun terkejut.
            Di sini kita  menemukan tindakan Yesus yang dengan mudah dapat disalah mengerti . Baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan, dibarengi pengakuan dosa. Tetapi seluruh kisah penebusan bergantung pada sifat Yesus tanpa dosa. Apakah permohonan untuk baptisan ini, suatu pengakuan bahwa Dia terhimpit dalam kubangan dosa, seperti kita semua? Berdasarkan fakta-faktanya, tidak mengherankan Yohanes protes kepada Yesus, menyatakan bahwa Dialah yang harus membaptis dirinya
            Tetapi Yesus tidak mau menerima penolakan itu. Dia mengarahkan Yohanes : “Biarlah hal itu terjadi,” dengan demikian mengimplikasikan bahwa hubungan mereka akan berubah di masa depan ketika Ketuhanan Yesus semakin nyata. Sementara itu, Dia memberitahu sang Pembaptis, “Sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (ayat 15).
            Sebagian dari implikasi pernyataan itu adalah, bahwa melalui baptisan itu Yesus menjadi teladan yang para pengikut-Nya harus berusaha ikuti. Dengan demikian, Ellen White menyatakan bahwa, “Yesus menerima baptisan bukannya sebagai pengakuan kesalahan atas perbuatan-Nya sendiri. Ia menyamakan dirinya dengan orang berdosa, mengambil langkah yang harus kita ambil, serta melakkan pekerjaan yang wajib kita lakukan” (Alfa dan Omega, Jld. V, Hal. 103).

            Kita seharusnya tidak pernah melupakan bahwa walau Dia secara pribadi tanpa dosa, Yesus menyamakan diri-Nya dengan para pendosa selama hidup-Nya. Bukan saja Dia mengakhiri pelayanan-Nya diatas kayu salib diantara 2 pencuri, tapi Dia memulai pekerjaan-Nya di depan umum di sebuah sungai di antara para pendosa yang menyatakan penyesalan mereka karena dosa. Dia sesungguhnya “Allah menyertai kita” (Mark 1:10; Kis. 8:38, 39), Jadi para pengikutnya harus dibenamkan ke dalam kuburan air, melambangkan masing-masing mati bagi cara hidup yang lama dan dibankitkan ke jalan yang baru supaya “kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rom. 6:1-4). Baptisan bagi kita, sebagaimana bagi Yesus, adalah tanda nyata pilihan yang dilakukan dengan sadar yang telah kita putuskan untuk menagabdikan kehidupan kita secara total bagi Allah dan kerajaan-Nya.

Jumat, 05 Februari 2016

Renungan Pagi 06 Februari 2016 "Pandanglah Pada Yesus"

Renungan Pagi 06  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Arti Yesus Sesungguhnya

“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29).

Orang telah mengatakan banyak hal mengenai Yesus, tetapi tidak satupun lebih bermakna atau penting daripada kalimat pendek sang Pembaptis ketika dia melihat Yesus datang berjalan melewati tanjakan: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Keesokkan harinya dia menyebut-Nya lagi “Anak domba Allah” (ayat 36).
Frasa ini bisa saja berarti banyak bagi kita di abad kedua puluh satu ini. bahkan banyak dari kita belum pernah melihat anak domba yang sesungguhnya. Dan tidak satu pun diantara kita pernah membuat kurban anak domba. Tetapi bagi para pendengar Yohanes, itulah frase yang penuh arti.
Pikiran mereka tentu kembali ke Bait Allah di Yerusalem, kemah suci di padang gurun. Dan kitab Imamat, yang menjelaskan inti kurban domba-domba yang tidak berdosa untuk memberi pandangan mengenai perkara-perkara yang nantinya akan terjadi di Kalvari di mana Yesus akan mati “untuk selama-lamanya” (Ibr. 10:10, 14) sebagai Anak Domba Allah yang sesungguhnya demi keselamatan semua umat manusia.
Sistem melakukan kurban Perjanjian Lama pada intinya ritual penggantian. Para pendosa membawa hewan-hewan kurban mereka di hadapan Tuhan, meletakkan tangan mereka di kepala kurban itu, dan mengaku dosa mereka, dengan demikian secara simbolis memindahkan dosa-dosanya itu kepada hewan itu yang akan mati sebagai kurban menggantikan mereka.
Tampaknya denganberlalunya waktu, uamt Israel kehilangan pengaruh sepenuhnya arti sistem mempersembahkan kurban karena kurban-kurban yang berulang kali dipersembahkan itu sudah menumpukkan kepekaan mereka terhadap apa yang sedang terjadi. Tetapi bagi Adam dan Hawa, yang belum pernah melihat kematian, pengaruh itu tentu meremukkan. Dengan setiap denyut dari arteri yang dipotong di leher anak domba itu, kita mendapat pesan yang dahsyat bahwa “upah dosa adalah maut,”  anak domba itu mati menggantikan mereka untuk dosa-dosa mereka.
Jika kita yang modern merasa jijik oleh pengajaran seperti itu, pikirkan saja  betapa jauh lebih memiriskan ajaran Perjanjian  Baru bahwa Yesus, Allah yang kekal, adalah Anak Domba Allah yang mati untuk mengangkut dan “menghapus dosa dunia.” Realita darah yang tercurah itu berdiri pada pondasi semua metafora mengenai keselamatan di dalam Perjanjian Baru, termasuk penebusan (Ef. 1:7), pembenaran (Rm. 3:25), perukunan kembali (Kol. 1:20), pendamaian (Rm. 3:25), dan pentahiran (Ibr. 9:23).
Ajaran Yohanes bahwa Yesus adalah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” memberi pondasi Injil yang sebenarnya dan Kekristenan.
Tanpa Anak Domba itu, kita masih tersesat di dalam dosa-dosa kita dan pokok bagi kematian yang Dia ambil bagi Diri-Nya sendiri.
Terpujilah Allah untuk Anak Domba!


Kamis, 04 Februari 2016

Renungan Pagi 05 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi” 05  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Lebih Banyak Pelajaran Lagi Bagi “Tikus-Tikus Kecil Yang Kotor”

“Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus” (Markus 1:7, 8).
“Ia harus makin besar, tapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3: 30).

Walau sifatnya yang aneh dan caranya yang memaksakan, Yohanes Pembaptis sesungguhnya seoarng yang besar. Bukan saja dia membuat kebanyak-an orang melakukan perjalanan jauh untuk mendengarnya, tetapi juga para ahli Taurat tersohor bangsa itu. Dan mereka bukan saja mendengarkannya tetapi juga menerima “cercaan-cercaannya” mengenai kedudukan dan tabiat mereka. Bahkan akhirnya penguasa bangsa itu memanggilnya untuk bertemu dengannya. Yohanes benar-benar suatu pribadi yang berpengaruh dan punya prestise.
Walau hal itu benar, adalah juga benar bahwa dia tidak pernah jatuh ke dalam lubang yang sama seperti sebagian besar kita “tikus-tikus kecil yang kotor” ini. perkenankan saya menerangkannya. Saya pernah mengenal seorang pengabar Injil yang besar yang benar-benar sukses. Dia telah membawa ribuan orang ke dalam gereja. Tetapi dia takluk pada kebiasaan menganggap dirinya sendiri besar. Kita dapat mengatakan yang sama, tentu saja, mengenai banyak pendeta besar, para pemimpin gereja setempat, dan bahkan para anggota gereja. Agaknya ada cukup banyak memiliki “sifat tikus” di seluruh dunia.
Salah satu masalah serius dari keberhasilan manusia dalam setiap usaha adalah berapa dekatnya kegagalan. Dan kegagalan berkuasa apabila manusia mulai memuji diri sendiri, apabila pandangan mereka tentang diri mereka menjadi mulia, apabila mereka pada intinya menunjuk kepada diri mereka sendiri dan bukan kepada Yesus oleh prilaku mereka dan cara-cara penyampaian kata yang serba halus. Itulah inti “sifat tikus.”
Sang Pembaptis melihat masalah ini dengan jelas. Dan saya bayangkan dia menhadapi godaan-godaan kebesaran diri seperti Anda dan saya. Tetapi dia menemikan pelajaran paling berharga yang kita masing-masing dapat pelajari. Yaitu, bahwa memusatkan pikiran kepada diri kita sendiri adalah akar dosa kita dan masalah-masalah yang mengalir darinya.
Yohanes sendiri menguraikan solusinya ketika para pengikutnya menyadari bahwa pelayanan Yesus itu meredupkan pelayananya (Yoh. 3:26). Tetapi bagi Yohanes hal itu sama sekali bukan masalah. Dia telah mempelajari pelajaran terpenting dalam kehidupan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Teman-teman yang baik, sudah tiba waktunya untuk kita bergabung dengan Yohanes! Hari ini kita perlu berhenti menunjuk kepada diri kita sendiri, berhenti merasa bahwa kita lebih baik daripada orang lain, dan biarkan Yesus di tempat-Nya yang sah. Tolong kami, Bapa.


Rabu, 03 Februari 2016

Renungan Pagi 4 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 4  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Pekabaran Bagi “Tikus-Tikus Kecil Yang Kotor”

“Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitahukan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”’ (Matius 3: 1, 2).

Kemarin kita bertemu Yohanes Pembaptis “yang tidak tahu adat”; seorang revolusioner yang tidak menghormati cara berbusana layak bagi para pendeta; seorang pengkhotbah yang tampaknya tak mengerti aturan-aturan etika keagamaan. Bahkan, dia melangakah begitu jauh menggelegar mengecam para anggota gereja dan para pemimpin agama harus bertobat. Dan bahwa Allah tidak membutuhkan mereka – bahkan Dia dapat membuat orang-orang Yahudi yang baik dari batu karang jika mereka tidak berbenah diri.
Pekabaran Yohanes berpusat pada pekabaran pokok kita masing-masing setiap hari, bertobat “dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk. 1:4).
Bertobat adalah salah satu kata religious yang mudah sekali kita obral ke kanan-kiri tanpa sesungguhnya mengerti atau memahami artinya. Sebagian besar orang keliru tentang merasa bersalah karena dosa mereka, dengan pertobatan. Sebagimana dikemukakan buku Steps to Christ, “Kesedihan yang bertumpuk bahwa mereka sudah berbuat dosa dan bahkan membuat reformasi untuk memisahkan diri karena mereka takut bahwa perbuatan salah mereka akan mendatangkan penderitaan pada diri mereka sendiri. Tetapi ini bukan pertobatan yang dimaksidkan Alkitab. Mereka meratapi penderitaan dan bukan dosa mereka” (hlm.23).
Halford Lucock menerangkannya ketika dia menuliskan bahwa “pertobatan, dalam khotbah Yohanes, adalah sebuah perubahan yang terus berlangsung sampai tuntas.” Kata itu “mengharusakan kita berbalik, suatu kemauan yang dibelokkan ke sebuah arah yang baru… Ini lebih daripada sekedar menyesali dosa-dosa kita. Ini adalah revolusioner moral dan spiritual. Jadi sungguh-sungguh bertobat adalah salah satu hal paling sulit di dunia; tapi itu hal mendasar bagi semua perubahan dan kemajuan rohani. Diperlukan niat meruntuhkan secara total sikap sombong, merasa diri mapan, prestise karena sukses, dan karena benteng yang letaknya paling dalam di diri kita yaitu kehendak sendiri.”
Pertobatan dalam pekabaran Yohanes menjurus pada pengakuan dosa. Dan pengakuan dosa tidak mulai dengan berkata kepada Allah bahwa kita menyesal. Langkah pertama dalam pengakuan dosa yang tepat adalah mengatasi diri kita sendiri. Seseorang pernah berkata bahwa kita menemukan langkah pertama itu menuju kepada kasih karunia yang menyelamatkan, diilustrasikan oleh seorang laki-laki yang mencukur jenggotnya suatu pagi. Ketika dia memandang wajahnya sendiri dalam cermin, ia mendadak berseru, “Kamu tikus kecil yang kotor!” Dari pengakuan itu mengalirlah pengakuan dosa kepada Allah dan orang-orang lain kepada siapa kita berbuat salah.

Pekabaran Yohanes ditujukan kepada kita semua “tikus-tikus kecil yang kotor” untuk berhenti membenarkan tindakan-tindakan  kita dan mendorong kita untuk bertelut. Tidak ada perbedaan apa pun, jika dosa-dosa kita jenis yang najis atau lembut (misalnya bangga karena berbuat baik atau keturunan beragama). Kita semua hari ini perlu mengindahkan panggilan Yohanes.

Selasa, 02 Februari 2016

Renungan Pagi 3 Februari 2016

Renungan Pagi 03  Februari  2016

“Pandanglah Pada Yesus”

Yohanes, Si Penentang Budaya

“Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: ‘Persiapkanlah jalan untuk TUhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.’ Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.’ Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan” (Markus 1:2-6).

Yohanes Pembaptis bukan pribadi sebagaimana umumnya. Semua keterangan mengambarkan dia sebagai sosok yang memprotes keadaan yang begitu-begitu saja tanpa perubahan. Menghindari kemewahan kota dan memilih padang pasir  tandus dekat Laut Mati, dia tidak mengenakan baju rapi lalu makanannya belalang dan madu hutan. Kita kurang yakin apakah belalang itu, karena kata Yunani yang digunakan mempunyai kemungkinan dua arti. Entah itu adalah  serangga menyerupai belalang yang Imamat 11:22, 23 nyatakan halal, atau bisa saja dimaksudkan sejenis kacangan yang menjadi makanan orang-orang paling melarat. Teteapi tidak masalah apa arti kata itu, Alkitab memperkenalkan Yohanes Pembaptis seorang revolusioner menentang budaya.
Walau dia aneh, atau barangkali karena keanehannya itu, dia dapat menatik berbondong orang untuk mendengar pekabarannya mengenai pertobatan, pengakuan dosa, kedatangan kerajaan, dan perlunya dibaptis. Markus memberitahukan kita bahwa “datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh Yudea dan semua penduduk Yerusalem.” Kata “seluruh” tentu tidak berarti semua orang sampai tidak ada yang tersisa. Tetapi kata itu menunjukkan bahwa orang unik padang pasir ini mempunyai dampak yang besar, bukan saja kepada rakyat tetapi juga kepada para pemimpin Yahudi. Sejarahwan Yahudi abad pertama, Yofesus, memberitahu kita bahwa pengaruh besar Yohanes atas rakyat itu kemungkinan akan membuatnya merasa sanggup dan berpikir akan menciptakan suatu pemberontakan” (Antiquities 18.5.2).
Tetapi, sang nabi, tidak mengincar takhta Herodes. Yohanes menghendaki jiwanya. Tak seorang pun akan melihat atau mendengar Yohanes Pembaptis akan memandangnya sebagai sosok yang lain kecuali sebagai seorang yang akan menentang budaya. Bukan saja penampilannya memang seperti seorang menentang budaya, tetapi pekabarannya juga menentang budaya – sosok yang diperlukan pada abad ke 21 sebagaimana diperlukan di abad pertama.
            Sebelum menyelidiki pekabaran itu, Markus  memperkenalkan sang  pengkhotbah dahsyat yang mengelu-elukan abad baru Kerajaan Allah dengan kutipan Perjanjian Lama, dengan demikian menunjukkan bahwa Kekristenan bukan suatu agama baru tetapi sebuah perkembangan di dalam Yudaisme. Yesus dan pekabaran-Nya bukan suatu pemikiran yang tercetus kemudian dari sebuah rencana yang gagal bagi bangsa Yahudi, tetapi Yesus dan pekabaran-Nya adalah penggenapan hukum dan nubuatan para nabi. Dialah Mesias yang dinubuatkan dari halaman-halaman awal Kitab Suci. Rencana Allah sudah bergerak teratur di masa lalu. Dan akan tetap bergerak di masa akan datang.


Senin, 01 Februari 2016

Renungan Pagi 2 Februari 2016

Renungan Pagi 02  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Panggilan Untuk Menjadi Perenung

“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya”… ‘’’Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu ia pulang bersama-sama mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya” (Lukas 2: 19, 49-50).
Merenungkan! Itulah yang dapat ibu-ibu lakukan dengan baik sekali. Barangkali bukan itu yang terbaik yang dapat mereka lakukan, tetapi tampaknya itulah yang mereka selalu lakukan. Mereka diciptakan berbeda daripada kaum pria. Seorang ayah yang tipikal kemungkinan ada perhatian pada anak-ananknya dari waktu ke waktu, terutama apabila keadaan sedang sulit atau  mereka telah mengambil keputusan yang salah. Tetapi perhatian dan keprihatinan seorang ibu begitu teguh sehingga membingungkan sebagian besar kaum pria.
Para ibu adalah para pemenang. Begitulah ibu saya. Bagi masing-masing keempat anaknya dia punya sebuah buku catatan kecil. Di dalamnya dia letakkan seikat rambut yang pertama yang dicukur dari kepala saya, mencatat tanggal-tanggal saya mulai merangkak dan kemudian berjalan, terus mencatat pertumbuhan saya, dan menulis sebagaimana sebagaimana adanya ucapan-ucapan saya yang pertama dan patut dikenang.
Maria seperti itu. Dia juga mempunyai buku catatan di dalam hatinya. Dan buku catatan itu pasti luar biasa. Segi positifnya, ada seorang malaikat yang menyatakan kepadanya bahwa dia akan melahirkan sebagai perawan dan anaknya akan menjadi Putra Allah dan Mesias. Kemudian ada para gembala yang diilhami para malaikat memuji Allah karena kelahiran dan misi-Nya. dan, tentu saja, dia tidak dapat melupakan orang-orang Majus dari Timur yang mengikuti bintang (yang sesungguhnya bukan bintang) dan datang serta memuja anak yang baru lahir itu sebagai raja Israel. Kejadian-kejadian seperti itu akan membuat siapa saja ibu akan merenung.
Tetapi kemudian ada sisi gelapnya, aspek buramnya, dari tahun-tahun awal-Nya yang dapat membuat jiwa setiap ibu bergidik. Bukan saja kelahiran-Nya menyebabkan Herodes membantai bayi-bayi Betlehem yang hampir tidak bisa mereka hindari dan meloloskan diri dengan mengungsi ke Mesir, tetapi juga ada pesan campur aduk dari Simeon, yang mengenal Yesus sebagai Juruselamat, sementara juga menyatakan bahwa Dia akan menjadi seperti sebilah pedang yang akan menusuk menembusi jiwa Maria.
            Dan sekarang anak laki-laki ini menyangkal Yusuf dan memberitahu ibu-Nya bahwa Bapa-Nya adalah Allah. Dan sebagaimanapun, Dia adalah Anak mereka. Dia tinggal di rumah mereka dan memakan makanan mereka seperti anak muda lainnya. Tidak heran Maria merenungkan semua perkara ini dan menyembunyikannya di dalam hatinya.
            Kita patut melakukan hal yang sama. Setiap hri kita harus memalingkan mata kita, memandang Yesus dan merenungkannya arti kehidupan dan kematian-Nya bagi kita. Hari ini dan tiap hari kita perlu bermeditasi tentang Dia dan penting-Nya Dia. Singkatnya, Allah ingin agar kita semua menjadi perenung.