Renungan
Pagi Advent: Selasa, 05 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“MEMBANGUN JEMBATAN YANG
SANGAT UNGGUL”
“Maka datanglah seorang perempuan Samaria
hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: ‘Berilah Aku minum.’ Sebab
murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan
Samaria itu kepada-Nya: ‘Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku,
seorang Samaria?’ (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)”
(Yohanes 4:7-9).
Rasul Yohanes suka kisah yang bagus. Kisah
pertama tentang Nikodemus, pemimpin umat Yahudi yang kaya raya. Satu lagi
seorang wanita Samaria yang malang. Keduanya berbeda satu sama lain. Apa yang
membuat mereka bersatu adalah bahwa Yesus “tahu apa yang ada di dalam hati
manusia”(Yoh. 2:25). Kedua kisah menggambarkan kebenaran.
Latar belakang Yohanes 4 adalah propinsi
Samaria, pada zaman Yesus terletak antara wilayah Yahudi ( dari Yehuda ke
selatan) dan Galilea ke utara. Di tengah kedua wilayah politik itu, paling
prihatin dengan kemurnian agama dan ras adalah Samaria, sebuah daerah yang sama
sekali tidak murni. Bangsanya maupun agamanya adalah perpaduan Yahudi dan
kafir. Akibatnya, umat Yahudi sama sekali tidak mau berurusan dengan orang
Samaria, walau hanya sekedar menghargai. Dengan adat Timur Dekat yang khas,
umat Yahudi dan bangsa Samaria sudah bertikai sengit selama lebih 400 tahun.
Kemudian Yesus berhenti untuk beristirahat
sejenak sementara murid-murid-Nya pergi mencari makanan. Sementara Dia
menunggu, seorang wanita Samaria muncul pada tengah hari untuk mengambil air
dari sumur Yakub. Pada saat itu Yesus melakukan sesuatu yang sama sekali di luar
pikiran waras, Dia meminta minum dari wanita itu.
Tindakan itu tentu saja menyatakan banyak hal
tentang Yesus. Pertama, hal itu memperlihatkan kemanusiaan-Nya. seperti kita,
Dia lapar dan haus. Hal itu penting di dalam Injil yang sangat menekankan
keilahian-Nya. kedua, hal itu menunjukkan ada sesuatu dalam diri-Nya yang
membuat wanita itu tidak mengabaikan-Nya atau melarikan diri dari-Nya. wanita
itu merasakan bahwa di sini ada Seorang yang akrab dan simpatik.
Ketiga, Yesus adalah pembangun jembatan yang
bersedia mengatasi batas-batas kebencian dan syakwasangka di zaman dan
tempat-Nya. namun mematahkan penghalang-penghalang adat- istiadat sosial yang
dikeramatkan selama ini. Para guru Yahudi tidak diperkenankan berbicara kepada
wanita di depan umum, apalagi seorang dengan karakter yang terkenal bejat. Hal
itu terlihat dalam jawaban wanita itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang
Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Sesuatu yang mustahil. Tetapi
kita menemukan Tuhan kita memperagakan bahwa Allah mengasihi dunia ini bukan
sekadar teori saja, tetapi juga dalam praktik.
Bagaimana dengan diri saya? Apakah saya
pembangun jembatan seperti Tuhan saya? Jika tidak, mengapa tidak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar