Renungan
Pagi Advent: Jumat 08 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“PELAJARAN BAGI MURID-MURID”
“Pada waktu itu
datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap
dengan seorang perempuan… [mereka] mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah.”
Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Padaku ada makanan yang tidak kamu
kenal.” Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: ‘adakah orang
yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?’ kata Yesus kepada mereka:
“makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan
pekerjaan-Nya” (Yohanes 4:27-34).
Murid-murid sama sekali tidak tahu apa yang
telah terjadi. Yang mereka ketahui bahwa Yesus berbicara dengan seorang wanita
Samaria. Dilatarbelakangi aturan dan tradisi kerabian. Hal itu mengejutkan
sekali. “Janganlah ada orang berbicara dengan seorang wanita di jalan, tidak,
bahkan tidak dengan istrinya,” bunyi salah satu peribahasa mereka. Menurut
pemikiran kerabian wanita tidak mampu menerima pengajaran apa pun yang
sesungguhnya. Namun di sini Yesus berbicara dengan seorang wanita!
Wajar mereka tercengang. Mereka sangat kenal
Yesus sehingga tidak bertanya kepada-Nya. mereka hanya melakukan yang paling
mereka pentingkan dalam pikiran mereka. Jadi, mereka lapar, dan Yesus sudah
pasti juga.
Sementara itu, wanita itu juga heran. Lupa
siapa dirinya, dan mengapa dia menyelinap ke sebuah sumur yang jauh dari kota
untuk menghindari orang, dia lari tanpa membawa airnya untuk memberitahu
orang-orang bahwa dia telah menemukan Kristus. Para pendengarnya justru pada
saat itu hendak menemukan Yesus sendiri.
Di sini ada situasi yang menarik. Seorang
wanita yang baru saja mengenal Yesus walau mungkin hanya lebih satu jam saja
namun jauh lebih maju pengenalannya terhadap Yesus dibandingkan murid-murid.
Wanita itu sudah melihat dosanya dan bertekad menerima kebutuhan rohaninya,
sementara para murid masih saja berkutat dengan keangkuhan dan kecukupan diri
mereka dalam kehidupan. Di luar itu, Yesus dengan nyata mengatakan kepada
wanita Samaria itu bahwa Dialah Kristus. Kesadaran iti tidak secara utuh
terbentuk dalam pikiran para murid sampai jatuh di kemudian hari.
Yesus bersemangat dengan cara yang para
pengikut-Nya hanya samar-samar mengerti, mengatakan bahwa Dia sudah kehilangan
rasa lapar-Nya karena Dia sedang melakukan apa yang dikehendaki Bapa-Nya.
Wanita itu juga bersemangat. Dan bahkan orang-orang di kota yang dalam
perjalanan untuk melihat Yesus, juga bersemangat.
Hanya keduabelas murid-Nya yang tidak
bersemangat pada kisah ini. Pikiran mereka hanya kepada makan saja. Dengan
konteks itu, Yesus mengutip dua Amsal mengenai kesiapan masa menuai.
Bisa saja mereka yang paling lama bersama
Yesus adalah orang-orang yang paling dangkal pengertian mereka mengenai siapa
Dia itu. Bahkan “orang-orang saleh” yang berpengalaman kemungkinan memfokuskan
pikiran mereka hanya pada “makanan” dan bukan pada Kristus. Mereka yang
demikian dapat belajar dari wanita Samaria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar