Renungan
Pagi Advent: Jumat, 15 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“KONFRONTASI PADA HARI SABAT”
“Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di
situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus,
kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat
mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangan itu:
‘Mari, berdirilah di tengah!’ Kemudian kata-Nya kepada mereka: ‘Manakah yang
diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan
nyawa orang atau membunuh orang? Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita
karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada
mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: ‘Ulurkan tanganmu!’ Dan ia
mengulurkannya, maka sembulah tangannya itu” (Markus 3:1-5).
Dengan cepat menyusul konfrontasi di ladang
gandum pada Matius 12:1-8, pertentangan kedua mengenai hari Sabat di dalam ayat
9-13 (juga di Markus 3:1-5). Yang menarik tentang hal ini adalah bahwa Yesus
bisa dengan mudah mencegahnya tetapi Dia pilih untuk tidak melakukannya.
Adegan itu sendiri mempunyai tiga tokoh utama:
Yesus, seorang yang sebelah tangannya lumpuh, dan mereka “yang memerhatikan
Yesus” untuk melihat apakah Dia akan melakukan sesuatu yang mereka anggap
salah.
Dengan jelas melihat mereka yang akan jadi
penuduh-Nya, Yesus tidak menyimpang dari alasan itu. Rumah-rumah ibadat
menyediakan tempat duduk paling depan bagi orang-oran terkemuka. Nah, Yesus
mengetahui bahwa orang-orang Farisi tidak menentang perawatan medis pada hari
Sabat, selama itu masalah antara hidup dan mati bagi si pasien. Tetapi laki-laki
dengan sebelah tangan lumpuh itu jelas tidak termasuk dalam kategori demikian.
Sesudah beberapa waktu dia menyandang penderitaan itu, dan penyembuhannya boleh
saja menuggu satu atau dua hari.
Tetapi bagi Yesus, ini adalah kasus ujian. Dia
memanggil laki-laki itu ke depan di mana semua orang dapat melihatnya dan
bertanya kepada orang Farisi apakah diperkenankan hukum untuk berbuat baik atau
jahat pada hari Sabat. Hal itu menghadapkan mereka sebuah dilema. Tak
seorangpun dapat menjawab bahwa diperkenankan untuk berbuat jahat. Dengan
demikian mereka tidak punya pilihan bahwa adalah menurut hukum bila berbuat
baik. Dan bukankah menyembuhkan seseorang adalah perbuatan baik?
Pertanyaan pertama itu membuat orang-orang
Farisi kesulitan, dan sudah jelas mengapa Yesus menanyakannya. Tetapi,
pertanyaan kedua membuat kita bingung: “Apakah mengikuti hukum… untuk
menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” siapakah yang membunuh
seseorang? Yesus sekali lagi menunjukkan bahwa Dia mengerti hati manusia (Yoh.
2:25.). tepat saat itulah orang-orang mulai berencana membunuh Yesus karena Dia
tidak setuju dengan pengertian mereka mengenai hukum (Mat. 12:14).
Dari pertentangan ini bukan saja mengalir
kebencian di dalam diri mereka yang gagal mengerti prinsip-prinsip hukum dan
yang memerhatikan adanya kesalahan-kesalahan, tetapi juga prisip-prinsip
penting yang berhubungan dengan hari Sabat bagi para pengikut Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar