Renungan
Pagi Advent Rabu: 06 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“PENGINJIL YANG SANGAT
UNGGUL”
“Jawab Yesus kepadanya: ‘Jikalau engkau tahu
tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku
minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu
air hidup…………… Jawab Yesus kepadanya: ‘Barangsiapa minum air ini, ia akan haus
lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan
haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan
menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup
yang kekal” (Yohanes 4:10-14).
Kita seharusnya melihat sesuatu dalam dialog
antara Yesus dan wanita Samaria itu Yaitu, Yesus menolak untuk berdebat
dengannya. Beberapa kali wanita itu berusaha untuk menarik-Nya ke dalam suatu
perdebatan. ‘Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub?” (ayat 12).
Di mana tempat yang tepat untuk memuja Allah? Di gunung ini atau di Yerusalem
(ayat 20)? Tahukah Anda bahwa Yakub itu bapa kami (ayat 12)? Guru-guru Yahudi
lainnya akan berapi-api membantah kedua hal terakhir.
Tetapi Yesus tidak mau menerima umpan itu.
Sebaliknya, Dia dengan tenang tetap pada jalur-Nya ketika Dia mengungkapkan
kebenaran Injil kepadanya. Dan akhirnya, dengan tidak memperbantahkan
masalah-masalah sampingan dan tetap berdiri di atas pekabaran penginjilan-Nya,
Dia memenangkan wanita itu.
Inti tawaran-Nya adalah air hidup. Air hidup
berasal dari sumber yang mengalir dan pada umumnya lebih disukai ketimbang air
yang diam di dalam sumur. Tetapi wanita itu dengan jelas dapat melihat tidak
ada aliran air demikian. Di luar itu, dia dapat melihat bahwa Yesus bahkan
tidak mempunyai gayung untuk memperoleh air yang diam itu dari dalam sumur.
Apakah Engkau pikir bahwa Engkau lebih baik daripada Bapa kami Yakub?
Yesus tidak kehilangan ketenangan-Nya atas serangan
yang tidak halus itu. Dia sekadar mengulangi tawaran-Nya sesuatu yang lebih
baik daripada yang wanita itu pernah alami sebelumnya.
Dengan berbuat demikian Yesus melakukan
tuntutan Mesias. Air hidup di dalam pikiran orang Yahudi bukan saja air dari
sungai; itu juga adalah frasa yang ada hubungannya dengan tibanya zaman Mesias
di mana “mereka tidak menjadi lapar atau haus” (Yes. 49:10), di saat tanah yang
kering akan menjadi kolam dan tanah yang gersang itu menjadi sumber-sumber air
(Yes.35:7). Allah sendiri adalah “sumber air yang hidup” (Yer. 17:12).
Pekabaran itu mulai dimengerti wanita Samaria
itu. Dia menginginkan apa yang dimiliki Yesus (Yoh. 4:15), walau dia kurang
pasti apa gerangan yang dimiliki Yesus itu.
Kemudian, kita pun mengetahui bahwa
Juruselamat kita tahu caranya bagaimana meneruskan dan menyampaikan
pekabaran-Nya. Terima saja, jangan berdebat, dan tetap kembali kebenaran Injil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar