Renungan Pagi Advent: Rabu, 4 Mei 2016
“Pandanglah Pada Yesus”
“PERUMPAMAAN: TEKNIK MENGAJAR YANG MENYELIDIK”
“Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya
kepada-Nya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’
Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga,
tetapi kepada mereka tidak. karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi,
sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang
ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam
perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan
sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti…. Tetapi
berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Matius
14:10-16).
Di sini ada pernyataan yang membingungkan.
Apakah Yesus sesungguhnya mengatakan bahwa Dia mengajar dengan perumpamaan
untuk menyembunyikan kebenaran dan bukan menjelaskannya kepada semua
pendengar-Nya? Apakah maksud-Nya ketika Dia memberitahu murid-murid-Nya,
“Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang
luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat,
mereka tidak menganggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya
mereka jangan berbalik dan mendapat ampun” (Mrk. 4:11,12)?
Versi Markus lebih membingungkan daripada
versi Matius. Yohanes dan Yesus, duanya membawa pelayanan ke depan umum dengan
seruan untuk bertobat. Apakah Yesus berbicara melalui perantaraan perumpamaan
untuk membuat gagasan-gagasan lebih jelas atau untuk mengacau-balaukan dengan
cara sedemikian rupa, sehingga orang tidak mampu mengerti dan bertobat?
Pernyataan-pernyataan Yesus telah menyulitkan
orang-orang sepanjang masa. Pernyataan-pernyataan itu tampaknya justru
bertolak-belakang dengan alasan-Nya menggunakan perumpamaan.
Salah satu cara memecahkan masalah itu adalah,
bahwa Yesus berbicara kepada setidaknya empat kelompok orang di antara para
pendengar bersamaan: (1) kedua belas murid (2) kelompok pengikut lebih besar
yang kepercayaan mereka tidak stabil, (3) ”orang banyak,” termasuk banyak yang
ingin tahu tetapi belum tentu percaya, dan (4) para lawan-Nya.
Di dalam konteks seperti itu perumpamaan
berfungsi memisahkan para hadirin antara mereka yang sungguh berminat dan
mereka yang mencari hiburan. Yesus menggunakan perumpamaan sebagai metode agar
para pendengar-nya mengerti apa yang dibicarakan dan menggumuli topik itu dalam
pikiran mereka, sehingga mereka bisa mengerti lebih dalam. Ia menginginkan
mereka berpikir sampai mengerti maksud yang ada di dalam cerita itu.
Sebaliknya, sebagian diutarakan William Barclay,
“Perumpamaan itu menyembunyikan kebenaran dari mereka yang entah terlalu malas
untuk berpikir atau terlalu buta melalui syakwasangka untuk melihat.” Metode
mengajar ini menjadi semacam penghakiman karena memisahkan lalang dari gandum,
mereka yang berpikiran duniawi dan mereka yang berpikiran rohani.
Pelajaran: Allah menginginkan saya bergulat
dengan kebenaran-kebenaran besar Firman-Nya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar