Selasa, 16 Februari 2016

Renungan Pagi 17 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 17  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Yesus Mengumumkan Prinsip-Prinsip Kerjaan-Nya

“Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya” (Matius 5:1).

Yesus tahu waktunya sudah tiba untuk membentuk pelayanan-Nya menjadi lebih nyata dan teguh. Yohanes Pembaptis telah mengumumkan kedatangan-Nya, pada baptisan-Nya Dia telah dipenuhi Rok Kudus untuk pelayanan dan diberkati oleh Bapa, dan pada pencobaan di padang gurun Dia telah bertemu langsung dengan Setan dan menetapkan batas-batas-Nya.
Setelah itu Dia memulai pelayanan-Nya di Galilea, mengumumkan bahwa kerajaan surge sudah dekat. Kemudian disusul panggilan kepada murid-murid-Nya, para pengganti-Nya – secara perorangan itu yang nantinya mengambil ahli misi-Nya. yesus menggunakan sepenuhnya usaha-Nya dan waktu serta kesabaran-Nya selama tiga tahun berikut dalam  mempersiapkan orang-orang muda ini untuk tugas di depan mereka.
Pelayanan mula-mula-Nya di Galilea, salah satunya adalah “memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.” Hasilnya, “tersiarlah berita tentang Dia… maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari sebrang Yordan” (Mat. 4:23-25). Pelayanan-Nya menjadi buah bibir dalam waktu singkat ketika bangsa itu mulai merasakan sesuatu yang hebat sedang terjadi.
Waktunya tiba bagi Guru yang popular ini, Penyembuhan penyakit ini, Pribadi unik ini dalam sejarah Israel untuk mengumumkan prinsip-prinsip kerajaan-Nya. dia menyatakannya di dalam apa yang disebut menjadi khotbah paling terkenal dalam sejarah dunia – Khotbah di Atas Bulit (Mat.5-7).
Di dalam khotbah pengukuhan itu, Yesus membentangkan prinsip-prinsip kerajaan-Nya – Dia mengumumkan bagaimana warga kerajaan akan berpikir dan menjalani kehidupan ini. apa yang dibentangkan meliputi tiap aspek kehidupan mereka.
Dia mulai dengan menyoroti karakter ideal para warga kerajaan-Nya dalam Ucapan Bahagia (Mat. 5:3-12). Kemudian Dia melanjutkannya dengan petunjuk-petunjuk bagaimana menjadi orang Kristen yang berpengaruh (ayat 13-16), kebenaran mereka (ayat 17-48), kesalehan mereka (Mat. 6:1-18), cita-cita dan prioritas mereka  sehubungan keperluan sehari-hari dan hasrat mereka (ayat 19-34), hubungan mereka dengan orang lain (Mat. 7:1-12), dan komitmen mereka kepada-Nya dan Bapa (ayat 13-29). Pada waktu Dia selesai, Dia telah menyatakan prinsip-prinsip kerajaan-Nya untuk setiap aspek kehidupan mereka yang akan mengikuti-Nya.
Hasilnya, kita perlu mendengarkan dengan seksama ketika sang Raja berbicara. Pekabaran-Nya adalah bagi saya.


Senin, 15 Februari 2016

Renungan Pagi 16 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 16 Februari  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Tidak Semua Murid Adalah “Vegetarian”

“TYesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simeon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipu dan Bartolomeus,Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang menghianati Dia” (Matius 10:1-4).

Sebuah daftar panjang. Pernakah Anda memeriksanya dengan saksama? Beberapa mereka sesungguhnya memiliki tambahan atau embel-embel pada nama mereka. Demikianlah keadaannya dengan kasus Yudas, yang nantinya akan mengkhianati Yesus kepada yang berwenang menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya.
Tapi, lebih menarik adalah tambahan yang disematkan kepada Matius dan Simon. Bilamana yang disebut pertama diidentifikasi sebagai pemungut cukai, maka yang kedua diberi embel-embel Zelot (anggota aliran fanatic di Yudea abad pertama Masehi yang mengadakan perlawanan bersenjata melawan pendudukan Romawi). Kedua embel-embel itu bukanlah yang dapat kita katakan biasa-biasa saja. Dan keduanya bukanlah orang-orang yang akan kita pilih untuk pelayanan.
Para pemungut cukai Yahudi secara umum tidak jujur dalam profesi mereka. Sesungguhnya, mereka boneka bagi pemerintahan Romawi yang sangat dibenci-karena memungut cukai untuk musuh. Lebih buruk lagi, kalau ada uang “ekstra” berhasil mereka kumpulkan justru masuk ke kantong mereka yang sangat besar. Dan mereka pastikan akan mendapat banyak sekali dari ekstra itu. Jka seseorang tidak ingin membayar, selalu ada tentara Romawi, yang telah menguasai segala teknik untuk membuat orang bekerja sama.
Di ujung lain dari spectrum politis itu adalah Simon si Zelot. Para Zelot ini oleh orang Romawi dianggap sebagai teroris dalam upaya mereka untuk menggulingkan para penguasa Israel yang dibenci itu. Adalah suatu hari yang membahagiakan apabila seorang Fanatik dapat menyelinap di antara khalayak ramai dan menusukkan belatinya dalam tubuh seorang Romawi atau seorang kolaborator Romawi, seperti Matius.
Keajaiban kelompok kecil Yesus adalah bahwa di dalamnya ada seorang Zelot dan seorang pemungut cukai. Tetapi keajaiban yang lebih besar adalah bahwa keempat Injil itu tidak mencatat pertikaian di antara mereka, sebagaimana ada di antara Petrus, Yohanes, dan beberapa yang lain. Sejarah memperlihatkan berkali-kali bahwa pekabaran Kristus sesungguhnya telah mengubah hati orang dan kehidupan baru di dalam Yesus, bahkan di antara musuh-musuh yang mematikan.
Sebuah pelajaran tambahan, bahwa kita tidak selalu harus setuju dengan semua orang di gereja untuk bekerja dengan mereka. Sesungguhnya, yang sebaliknya adalah yang benar. Makin banyak adanya sudut pandang di dalam sebuah kelompok, semakin banyak jalan dan cara yang akan ditemukan untuk menjangkau keluar ke dunia yang sedang membutuhkan.
           


Minggu, 14 Februari 2016

Renungan Pagi 15 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 15  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Panggilan Adalah Sebuah Proses

“Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: ‘Lihatlah Anak domba Allah!’ Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus” (Yohanes 1:35-37).

Kita sering lupa bahwa beberapa murid utama Yesus dulunya adalah pengikut Yohanes Pembaptis. Salah satunya adalah Andreas.
Nah inilah seorang murid yang tidak terkenal. Melihat sekilas ke dalam konkordans menunjukkan bahwa Alkitab menyebut namanya hanya 13 kali, biasanya dalam daftar murid atau sebagai saudara laku-laki Petrus – Andreas adalah “orang lain itu” yang mempunyai saudara termasyhur.
Tetapi Andreas inilah yang tidak kelihatan yang membawa Petrus kepada Kristus. Tentu saja, hasilnya Yesus dengan serta merta menilai Simon Petrus sebagai sosok yang  dikenal secara khusus. Dan di sinilah kita temukan satu hal perlu dicatat – Yesus tidak pernah melihat kita sekedar  adanya namun kita bisa menjadi apa melalui kasih karunia-Nya.
            Petrus, bersama Yakobus dan Yohanes Zebedeus, mereka menjadi pengikut Kristus yang paling penting dan nyata. Hal itu agaknya tidak pernah mengganggu Andreas. Dia rupanya sejak semula, bersedia untuk menempati tempat kedua sebagai seorang yang memperkenalkan orang-orang kepada Yesus.
            Injil keempat tidak menunjukkan siapa murid kedua Yohanes Pembaptis yang mengikuti Yesus bersama Andreas. Tetapi kalau kita telaah gayanya, orang itu adalah si penulis sendiri. Yohanes pada umumnya mengidentifikasikan dirinya sebagai “murid yang lain itu.” Beberapa dasawarsa kemudian, Yohanes yang berusia lanjut memiliki banyak kenangan mengenai tahun-tahun dini itu. Menulis Injil terakhir, ia berusaha mengisi beberapa kekosongan yang Matius, Markus, dan Lukas tinggalkan dalam kisah  itu. Beberapa tempat yang kosong itu berkaitan dengan panggilan pertama pada dirinya sendiri, pada Andreas, Petrus, Filipus, dan Natanael. Kejadian-kejadian ini begitu bearti bagi laki-laki lanjut usia itu sehingga ia bahkan masih mengingat kata-kata yang tepat diucapakan kala itu dan menyebut semuanya dalam Yohanes 1:35-51. Dia akan melakukannya dari waktu ke waktu di seluruh Injil, dengan demikian memberikan para pembacanya secara berlanjut menembusi abad dan zaman dengan kenagan-kenangan intim yang hanya seorang pengikut dapat ketahui.
Salah satu ingatan itu adalah panggilan para murid itu merupakan sebuah proses dan bukan kejadian sekaligus seperti dikesankan oleh Matius, seakan-akan mereka menyerahkan semua pada pertemuan pertama mereka dengan Yesus.
Bukan begitu, kata Yohanes. Pertama, beberapa mereka tadinya murid-murid sang Pembaptis. Kemudian beberapa murid itu bertanya kepada Yesus. Berikutnya mereka memperkenalkan orang-orang yang nantnya menjadi murid-murid-Nya. dan kemudian Yesus memberitahu mereka agar meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti-Nya.
Yang sama berlaku di zaman kita. Yesus masih memanggil murid-murid, selangkah demi selangkah. Pertanyaan saya satu-satunya adalah langkah apa yang ada di dalam benak-Nya bagi saya sekarang.


Sabtu, 13 Februari 2016

Renungan Pagi 14 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 14  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Panggilan Yesus

“Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: ‘Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’ Lalu merekapun  segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia” (Matius 4: 18-20).

Hari ini di mulai dengan dua nelayan menebara jala mereka. Itu pekerjaan berat, tetapi memuaskan. Walaupun mereka tidak akan pernah menjadi kaya, menurut tolak ukur zaman itu, namun mereka berada cukup di atas garis rata-rata perolehan nafkah. Mereka memiliki sebuah perahu dan penghasilan mereka tetap. Membandingkan posisi sosial mereka yang relative dengan para pemilik bisnis kecil yang berhasil di zaman kita, kita dapat menganggap kedudukan mereka berada di kelas menengah ke atas.
Dan kemudian, Dia memasuki kehidupan mereka dan keadaan tidak akan pernah sama lagi. “Ikutlah Aku” adalah kata-kata-Nya. dan itulah yang mereka lakukan, meninggalkan kemapanan financial mereka  di belakang mereka untuk mendampingi Seorang kelana tunawisma yang menyatakan Dia akan menjadikan mereka “penjala manusia.” Sudah tentu mereka bertanya-tanya apa arti ucapan itu.
Mengapa mereka menyerahkan diri mereka dan meninggalkan semua?
Orang-orang zaman sekarang menghadapi pertanyaan yang sama. Mengapa beberapa siswa saya meninggalkan kedudukan-kedudukan yang menguntungkan sebagai dokter atau pengacara atau pelaku bisnis dengan penghasilan tinggi untuk kembali ke sekolah dan hidup atas gaji pendeta yang tak seberapa, jauh di bawah apa yang sudah biasa mereka peroleh? Mengapa beberapa orang memutuskan untuk melayani misi-misi di negeri asing? Dan mengapa tak terhitung banyaknya jutaan umat Kristen dari berbagai kedudukan dan jabatan menderita kerugian supaya mempertahankan kejujuran dan intergritas di dalam praktik bisnis mereka?
Jawabannya ditemukan di dalam Dia bernama Yesus dan pekabaran dahsyat-Nya. Dia masih mencari perorangan sekarang. Bagi beberapa orang panggilan itu segera, seperti kilatan halilintar pada kehidupan mereka. Bagi yang lain kejadian itu melintasi minggu, bulan. Dan bahkan tahun. Namun panggilan itu masih berlangsung sementara orang-orang membuat keputusan-keputusan meninggalkan jala-jala apa pun yang sedang mereka tebar.
Tetapi seperti Petrus dan Andreas, mereka tidak tahu apa tujuan semua itu. Dan hal itu mungkin saja baik, karena Petrus berakhir di kayu salib dan partner, Yakobus Zebedeus, akan menemukan kematian di tangan salah satu pembantai Herodes pada beberapa tahun berikutnya.
Tetapi tak satu pun  para murid mula-mula itu mengerti sisi terang masa depan – bagaimana mereka akan mengubah dunia di zaman mereka dan bahwa tiap generasi setelah  mereka akan dipengaruhi oleh tindakan mereka, yaitu meninggalkan jala-jala mereka.
Yesus masih memanggil kita. Sekarang ini Dia masih meminta para laki-laki dan wanita untuk menjadi “penjala manusia.”


Jumat, 12 Februari 2016

Renungan Pagi Sabat: 13 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Sabat: 13 Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Kedatangan Kerajaan

“Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus…. Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”’ (Matius 4:11-17).

“Iblis meninggalkan dia.” Tetapi, jangan berharap terlalu banyak. Setan tidak pernah menyerah.  Lukas memberitahu kita bahwa “ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik” (Luk. 4:13).
Iblis sudah kalah dalam ronde ini melawan Yesus sangat manusia. Tetapi sang waktu berada di pihaknya. Dia akan kembali apabila Yesus tersungkur dan lebih rentan. Setan bekerja dengan cara yang sama terhadap kita. Apabila kelihatannya seakan-akan semua beres dan kita akhirnya merasa aman, kita tersandung padanya “bersembunyi di balik semak” menunggu “waktu yang baik dan tepat.” Dan kesempatan itu akan tiba di mana kita setidaknya mampu melawan. Kalau begitu betapa pentingnya kita tetap berhubungan dengan Allah di dalam perjalanan sehari-hari kita.
Hal kedua harus diperhatikan pada ayat hari ini adalah bahwa “Malaikat-malaikat datang melayani Yesus.” Sesungguhnya, mereka tidak pernah meninggalkan-Nya, tetapi sekarang pelayanan mereka menjadi lebih nyata.
Di sinilah kebenaran krusial yang perlu kita ingat dalam kehidupan  sehari-hari kita. Tak peduli betapa buruknya keadaan, tak peduli betapa terpuruknya kita sampai ke dasar, Allah tidak pernah meninggalkan kita. Apakah kita menyadarinya atau tidak, para malaikat-Nya selalu berada di sisi kita menguatkan dan menyemangati kita menghadapi tantangan kehidupan.
Dengan Matius 4:17 kita tiba pada awal pelayanan resmi Yesus. Dia telah melampaui ujian yang krusial dan sekarang siap untuk berkhotbah tentang kerajaan Allah sesuai dengan persyaratan Bapa dan bukan seperti yang dikehendaki Setan.
Pekabaran awal-Nya: “Bertobatlah, sebab kerajaanSorga sudah dekat!” serupa dengan pekabaran Yohanes Pembaptis (Mat. 3:2). Seperti Yohanes, Dia mendorong orang-orang agar berpaling dari dosa-dosa mereka dan berpaling kepada Allah.
Ketika Yesus berkata bahwa kerajaan sudah dekat, kita bertanya-tanya seberapa dekat. Bagaimanapun, Dia mengucapkan kata-kata itu 2.000 tahun lalu, dan kerajaan-kerajaan di bumi masih berkibar.
Tetapi Yesus mengetahui apa yang Dia bicarakan. Ada suatu kesadaran bahwa kedatangan Raja Yesus di bumi mengatar masuk kerajaan, dan suatu kesadaran lain di mana terjadinya semua itu masih masa depan. Kepenuhan kerajaan akan terjadi hanya pada Kedatangan Kedua Kristus. Inagurasi kerajaan itu terjadi pada Kedatangan Pertama, tetapi tidak ada secara utuh sampai Kedatangan Kedua.
Maka bahkan di zaman kita, saya memasuki kerajaan tepat ketika saya menerima Keutuhan Yesus di dalam kehidupan saya. Dia sudah menjadi Raja saya. Puji Allah! Saya sudah menjadi anak Raja.


Kamis, 11 Februari 2016

Renungan Pagi 12 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi 12  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Pencobaan 3  :Menyerah Atau Bertahan

“Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya : ‘Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika engkau sujud menyembah aku. ’ Maka berkatalah Yesus kepadanya : ‘Enyalah, Iblis! Sebab ada tertulis : Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti’” (Matius 4:8-10).

Berapakah harga Anda? Sampai keadaan bagaimana Anda bersedia menyerah-menjual diri Anda-kepada Iblis? Setan mengerti semua dari masing-masing kita. Dia tahu bahwa beberapa orang akan jatuh jika dia menawarkan $5. Bagi orang lain bisa saja harganya $500. Tetapi kepada orang lain dia harus menawarkan $5.000, atau $5 juta, atau $5 miliar. Bagaimanapun, dia sarankan Anda hanya perlu melakukan satu kali saja. Dan Anda tentu saja bisa bertobat di kemudian hari. “Mengapa tidak?” pikiran kita memberitahu kita. Jika tidak menerima tawaran ini, orang lain akan menyabetnya.
Berapakah nilai Anda runtuh? Berapakah harga Anda? Orang menghabiskan sebagian besar waktu mereka membahas bagaimana Kristus dapat dicobai persis seperti kita. Saya ingin sarankan bahwa Dia dicobai jauh melewati apa yang kita akan pernah hadapi. Pikir saja, kita tidak pernah merasakan dampak sepenuhnya pencobaan, karena apabila Iblis tiba pada harga maka kita setuju dan menyerah lalu memilih tawarannya.
Tetapi lebih penting lagi, Kristus memiliki kapabilitas yang jauh melampaui kapabilitas kita. Dia dicobai jauh melebihi apa yang manusia mungkin pernah bisa tanggung, karena yesus sesungguhnya memiliki kuasa Allh di dalam ujung jari-Nya dan bukan pada ujung jarinya.
Di dalam pencobaan terakhir bagi Yesus, Ibllis tidak tanggung-tanggung. Dia membisikkan tujuan apa Dia datang ke bumi . Dia bisa menjadi Penguasa dunia jika Dia mau saja sujud dan menyembah Setan-sekarang , dan tanpa kayu salib.
Tetapi Yesus sudah bertekad sepenuhnya unutk menyembah dan menaati Allah saja. Dia tidak akan merasakan kekuatan sepenuhnya lagi dari pencobaan sampai Getsamani, ketika Dia sekali lagi bergumul agar tetap berserah kepada kehendak Bapa.
Yesus pergi menyongsong pencobaan-pencobaan itu dengan ketegangan-ketegangan antara modus seorang Raja yang menang dan Hamba yang Menderita mengiang-ngiang dalam telinga-Nya (Mat. 3:17). Tetapi dia kelur dari pengalaman itu dengan keputusan yang bulat. Dia akan mengikuti jalan Allah salib. Sekarang Dia siap untuk memasuki pelayanan-Nya yang formal.
Pada jenjang yang jauh lebih rendah, pencobaan bergulir dengan cara yang sama di dalam kehidupan kita seperti di dalam pencobaan Kristus. Pencobaan bukan saja sekadar terpikat oleh dosa ini atau dosa itu. Bukan. Pada dasarnya, pencobaan berkaitan dengan siapa yang akan kita ikuti sebagai Tuhan bagi kehidupan kita.

          

Rabu, 10 Februari 2016

Renungan Pagi 11 Februari 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi: Kamis 11  Februari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Pencobaan 2:
Sensasionalisme Atau Ketaatan

“Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bumbungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: ‘Jika  Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangn terantuk pada batu.’ Yesus berkata kepadanya: ‘Ada pula tertulis: Janganlah Engkau mencobai Tuhan, Allahmu!’” (Matius 4: 5-7).

Iblis dapat mengutip Alkitab dan terdengar mengesankan. Jangan pernah melakukan kenyataan yang krusial itu. Andaikan pencobaan Yesus yang pertama terjadi pada titik kelemahan-Nya yang terbesar (lapar), sasaran yang kedua adalah terhadap kekuatan-Nya yang terbesar, yaitu keakraban-Nya dengan Alkitab dan janji-janji Allah.
Mengitup Mazmur 91:11, 12, Setan menyarankan agar Yesus sebaiknya melompat menuju kemasyhuran. Hal ini bisa saja tampak absurd bagi  kita, tetapi itu bukan ide yang buruk. Bagaimanapun, bukankah bangsa Yahudi selalu mencari-cari sebuah “tanda” (Mat. 12:38; 1 Kor 1:22) dengan mana mengidentifikasikan Mesias apabila Dia tiba? Inilah ide yang sempurna. Satu lompatan dari puncak Bait Allah, yang menjulang tinggi lebih dari 120 meter di atas Lembah Hinnon, akan benar-benar mengesankan. Maleakhi  telah menubuatkan bahwa “dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya” (Mal. 3:1), dan para rabi tertentu telah meramalkan bahwa “apabila raja Mesias tampil, dia akan berdiri di atas atap Bait Allah.”
Bagi bangsa Yahudi, tidak ada yang lebih menggenapkan daripada nubuatan Alkitab. Rakyat akan mudah berbaris di belakang Mesias seperti itu. Mereka menginginkan seorang Mesias yang spektakuler. Bagi Yesus, itu merupakan cara yang lebih muda memperoleh pengikut disbanding penyaliban. Dan hasilnya akan terlihat dengan segera.
Tetapi Dia sekali lagi tidak menjawab Setan dengan ayat-ayat Alkitab. Kali ini Dia menyandingkan ayat Kitab Suci dengan ayat Kitab Suci (“Ada pula tertulis”), yang paling cocok dalam situasi tersebut, karena Setan telah salah menggunakan perikop Mazmur 91 itu.
Di dalam jawaban-Nya, Yesus mengajarkan kita bahwa sekadar kutipan-kutipan yang diilhami tidaklah cukup. Kutipan-kutipan itu harus diinterprestasikan di dalam keseluruhan kerangka karakter Allah. Untuk mengobral kutipan-kutipan di luar konteks bisa saja dapat atau tidak dapat membuat seseorang menjadi fanatic, tetapi praktik seperti itu secara jelas tidak dapat mengubah perorangan-perorangan menjadi pengikut Yesus.
            Pada pencobaan yang kedua,  kita mendapatkan pelajaran penting bagi kehidupan kita. Iblis memiliki seribu cara menyesatkan kita, bahkan dengan menggunakan Alkitab. Dengan mengingat hal itu, betapa pentingnya kita menjadi para siswa Alitab yang setia membaca Firman Allah agar kita dilindungi dari Setan yang mengejar kita “seperti singa yang mengaum-aum” (1 Ptr. 5:8).