Renungan
Pagi Senin, 14 Maret 2016 Startegi
Mengatasi Kekhawatiran
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akn ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:33,34).
Yesus bertemu para
pengikut-Nya ketika mereka berada pada rel kehidupan. Dia menyadari bahwa kita
sesungguhnya tidak dapat sepenuhnya melakukan yang perlu, kita tidak menuju
arah yang benar di dalam kehidupan Kristen kita, kita berantakan.
Dengan pengetahuan
realistis itu, dia menasihatkan para pengikut-Nya agar tidak mengkhawatirkan
hal-hal materi, karena hal itu selain tidak berguna (Mat.6:28-30) tetapi juga
kafir, dalam pengertian seakan mereka tidak memiliki Bapa surgawi yang peduli
kepada mereka (ayat 31,32).
Tetapi tujuan utama
Yesus bukan untuk membahas masalah-masalah tetapi untuk menunjukkan solusi
masalah-masalah itu. Mengikuti pemikiran itu, dia membentangkan dua strategi.
Satu adalah mencari kerajaan Allah terlebih dahulu. Sebagian besarkekhawatiran
kita adalah tentang materi, sedangkan yang Yesus neritahukan pada kita adalah
jika kita harus prihatin tentang sesuatu, maka yang diprihantinkan seyogianya
adalah hubungan kita dengan Allah. Camkan itu, dan segala sesuatu akan dapat
dilihat dengan jelas di dalam kehidupan mereka yang percaya dalam iman.
Menjalani hidup sehari
demi sehari adalah saran kedua Yesus untuk mengalahkan kekhawatiran. “Sebab itu
janganlah kamu kuatir akan hati besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya
sendiri” (Mat.6:34).
Di tahun 1871, seorang
mahasiswa kedokteran khawatir membaca 21 atah kata yang mengubah kehidupannya :
“Urusan utama kita bukanlah untuk melihat apa yang terletak samar-samar di
kejauhan, tetapi untuk melakukan apa yang terlihat jelas di depan kita.”
Menerapkan kata-kata ini tiap hari membuat Sir William Osler menjadi salah satu
dokter yang paling dihormati di zamannya.
Kita masing-masing
berdiri di dua tepian kekekalan yang sangat luas - yang lalu dan yang
akan datang. Tetapi, kita hanya berada di masa kini. Jika kita ingin hidup
dengan sukses di masa kini, maka kita harus menanganni tiap momen dan tiap hari
ketika hari itu tiba. Ini bukan berarti bahwa kita harus meremehkan nilai
perencanaan yang cerdas untuk masa depan kita, tetapi ini mengemukakan
kesia-siaan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita.
Inilah cara lain untuk melaksanakan pesan Yesus, yaitu agar tidak was-was
bagaimana menyeberangi sungai-sungai yang mungkin banjir kita temukan di
dalam kehidupan kita, sampai kita sudah sudah sampai ke sungai-sungai itu.
Terima kasih Tuhan, karena Engkau bukan saja
peduli pada kehidupan rohani kami, tetapi juga Engkau sangat peduli untuk
membantu kami menjalani kehidupan di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar