Minggu, 13 Maret 2016

Renungan Pagi Senin, 14 Maret 2016 Startegi Mengatasi Kekhawatiran

Renungan Pagi Senin, 14 Maret  2016 Startegi  Mengatasi  Kekhawatiran 

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akn ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:33,34).

Yesus bertemu para pengikut-Nya ketika mereka berada pada rel kehidupan. Dia menyadari bahwa kita sesungguhnya tidak dapat sepenuhnya melakukan yang perlu, kita tidak menuju arah yang benar di dalam kehidupan Kristen kita, kita berantakan.
Dengan pengetahuan realistis itu, dia menasihatkan para pengikut-Nya agar tidak mengkhawatirkan hal-hal materi, karena hal itu selain tidak berguna (Mat.6:28-30) tetapi juga kafir, dalam pengertian seakan mereka tidak memiliki Bapa surgawi yang peduli kepada mereka (ayat 31,32).
Tetapi tujuan utama Yesus bukan untuk membahas masalah-masalah tetapi untuk menunjukkan solusi masalah-masalah itu. Mengikuti pemikiran itu, dia membentangkan dua strategi. Satu adalah mencari kerajaan Allah terlebih dahulu. Sebagian besarkekhawatiran kita adalah tentang materi, sedangkan yang Yesus neritahukan pada kita adalah jika kita harus prihatin tentang sesuatu, maka yang diprihantinkan seyogianya adalah hubungan kita dengan Allah. Camkan itu, dan segala sesuatu akan dapat dilihat dengan jelas di dalam kehidupan mereka yang percaya dalam iman.
Menjalani hidup sehari demi sehari adalah saran kedua Yesus untuk mengalahkan kekhawatiran. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hati besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri” (Mat.6:34).
Di tahun 1871, seorang mahasiswa kedokteran khawatir membaca 21 atah kata yang mengubah kehidupannya : “Urusan utama kita bukanlah untuk melihat apa yang terletak samar-samar di kejauhan, tetapi untuk melakukan apa yang terlihat jelas di depan kita.” Menerapkan kata-kata ini tiap hari membuat Sir William Osler menjadi salah satu dokter yang paling dihormati di zamannya.
Kita masing-masing berdiri di dua tepian kekekalan yang sangat luas  - yang lalu dan yang akan datang. Tetapi, kita hanya berada di masa kini. Jika kita ingin hidup dengan sukses di masa kini, maka kita harus menanganni tiap momen dan tiap hari ketika hari itu tiba. Ini bukan berarti bahwa kita harus meremehkan nilai perencanaan yang cerdas untuk masa depan kita, tetapi ini mengemukakan kesia-siaan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita. Inilah cara lain untuk melaksanakan pesan Yesus, yaitu agar tidak was-was bagaimana menyeberangi  sungai-sungai yang mungkin banjir kita temukan di dalam kehidupan kita, sampai kita sudah sudah sampai ke sungai-sungai itu.
          Terima kasih Tuhan, karena Engkau bukan saja peduli pada kehidupan rohani kami, tetapi juga Engkau sangat peduli untuk membantu kami menjalani kehidupan di dunia ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar