Renungan
Pagi Sabat, 19 Maret 2016 “Ayat
Yang Menyadarkan”
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku:
Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan
kehendak Bapa-Ku yang Sorga” (Matius 7:21).
Ayat hari ini ayat paling mengerikan dalam
Perjanjian Baru. Dengan tegas ayat itu menyatakan bahwa saya bisa sesat ketika
menyatakan Yesus sebagai Juruselamat saya; bahwa saya bisa tertipu, saya bisa
saja berpikir bahwa semua berjalan mulus dan baik pada kehidupan beragama saya,
padahal sesungguhnya segala sesuatunya salah.
Matius 7:21 juga salah satu perikop paling
serius dalam semua Firman Allah. Yesus tidak main-main. Dia telah memaparkan
secara lugas pada khotbah pengukuhan-Nya bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi telah menipu diri mereka sendiri. Sekarang Dia menunjuk kepada Saya dan
Anda. Kita juga bisa kebinggungan dan tertipu seperti para pemimpin Yahudi itu
kecuali bila kita mengacuhkan kata-kata-Nya. Tidak ada yang lebih serius dari
semua perkataan yang Yesus ajarkan selain pernyataan-Nya dalam Matius 7:21-23.
Juruselamat sedang berbicara kepada kita dengan segenap jiwa-Nya. oleh sebab
itu sepatutnya kita mendengarkan dengan saksama.
Menurut ayat 12, tidak semua yang mengaku
dirinya orang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat akan
diselamatkan. Sebuah pemikiran yang mencengangkan, karena kita tahu selama ini
bahwa totalitas keselamatan adalah menyatakan Yesus sebagai Juruselamat. Di
sini Yesus mengingatkan kita bahwa keselamatan melibatkan lebih daripada
sekadar membuat pernyataan-pernyataan semata.
Dan apakah lagi yang diperlukan? Yesus
menjawab pertanyaan itu pada ayat yang sama, ketika dia berkata bahwa kita
harus menjadi pelaku dan bukan sekedar pendengar kehendak Bapa-Nya.
Yohanes menguatkan hal tersebut ketika dia tegaskan bahwa dengan
itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia, jika kita mengikuti
perintah-perintah-Nya dan berjalan sebagaimana dilakukan Yesus (1 Yoh.
2:3-6).
ITULAH BERITA BAIK. ITULAH KEYAKINAN SESUNGGUHNYA DARI
KESELAMATAN. KITA DAPAT MENGETAHUINYA. PUJI TUHAN!
Tetapi apakah arti “melakukan kehendak Bapa”?
Di sini kita harus mengingat bahwa konteks Matius 7:21-23 adalah keseluruhan
Khotbah di Atas Bukit. Yesus baru saja menyelesaikan Matius 5-7, membentangkan
kehendak Allah bagi umat-Nya. melakukan kehendak Allah adalah hidup mengikuti
Ucapan Bahagia; artinya menjadi garam dan terang dunia di dalam komunitas kita;
itu berarti mengasihi bahkan musuh-musuh kita dan dengan demikian bersikap seperti
Allah; itu adalah melakukan kehendak Allah di dalam kehidupan berdoa dan
penatalayanan kita; itu berarti kita mengatur prioritas-prioritas kita secara
benar dan meletakkan kepercayaan kita kepada-Nya sesuai dengan keperluan
sehari-hari kita dan tidak berfokus kepada hal-hal materi; dan itu
berarti menolak menghakimi orang lain, sedangkan pada saat bersamaan kita
memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin mereka memperlakukan kita.
Melakukan kehendak
Allah berarti menjadi Seperti Yesus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar