Renungan Pagi Minggu,
13 Maret 2016 "Budak Siapakah Kita?"
"Tak seorang pun
dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang
seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan
tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada
Mamon" (Matius 6:24).
Tak diragukan lagi bahwa ayat itu lebih kuat
di dunia zaman dulu daripada du dunia zaman kita. Kata kerja yang diterjemahkan
"mengabdi" diambil dari kata doulos, kata untuk "hamba".
Kata Yunani di balik "tuan" adalah kurios, yang menunjukkan
kepemilikan mutlak dan hampir selalu diterjemahkan sebagai "tuan"
dalam perjanjian baru. Ide Matius 6:24 menekankan tidak ada yang bisa
diperhamba dua pemilik atau tuan pada saat bersamaan.
Untuk lebih mengerti pernyataan ini, kita
perlu sadari bahwa dunia zaman dulu tidak menganggap budak sebagai manusia
tetapi sebagai alat yang hidup. Para hamba tak memiliki hak pribadi. Mereka sama
sekali dibawah kendali majika-majikan mereka, yang dapat melakukan kepada mereka
apa yang tuan-tuan itu inginkan. Para majikan dapat menjual hamba-hamba, memukul
mereka, mengusir mereka, atau bahkan membunuh mereka.
Hal kedua untuk diperhatikan adalah bahwa di
dunia zaman dulu para hamba tidak punya waktu mereka sendiri. Seluruh waktu mereka dimiliki majikan
mereka. Dalam budaya modern, setiap
pekerja punya waktu istirahat demi keperluan pribadi mereka. Selama waktu itu, mereka dapat melakukan
kesukaan dan hobi mereka atau bahkan bekerja di tempat lain. Tetapi tidak demikian di dunia perhambaan
purba. Waktu seorang hamba adalah milik
majikan sepenuhnya.
Yesus
mengatakan bahwa umat Kristen harus membuat Allah menjadi majikan yang tak perl
dipersoalkan lagi bagi kehidupan mereka.
Paulus mengemukakan yang sama di dalam Roma 6:16,
Ketika dia mengatakan bahwa kita adalah hamba dosa atau
kebenaran, Setan atau Kristus.
Dengan demikian,
umat Kristen yang menjadi hamba Yesus, selalu mempertimbangkan kehendak Allah
dalam segala hal yang mereka lakukan. Tiap
hari mereka bertanya kepada diri sendiri, “apakah yang Allah kehendaki aku
lakukan?” tiap detik, mereka hidup bagi Dia.
Allah tidak punya orang-orang yang taat setengah waktu kepada-Nya, yang
sebagian besar mengabdi kepada Kepada-Nya tetapi juga bekerja sampingan untuk
majikan lain pada saat mereka istirahat atau cuti
Ketika Yesus mengatakakan
bahwa tidak ada orang yang bisa mengabdi kepada dua tuan, maka itulah yang Dia
maksudkan.
Walau begitu,
beberapa dari kita mencoba juga, walau berbuat demikian mustahil. Tetapi di dalam usaha itu, entah kita
menyadarinya atau tidak, kita
sesungguhnya sudah memilih Setan. “Dia
yang tidak sepenuhnya memberikan dirinya kepada Allah berada di bawah kendali
suatu kuasa yang lain, mendengarkan suara lain….pengabdian setengah-setengah
menempatkan manusia pada sisi musuh sebagai sekutu yang berhasil dari kuasa
kegelapan “(Touhgts From the Mount Of Blessing, Hal. 94).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar