Renungan
Pagi Selasa, 08 Maret 2016 “Mengikut
Yesus Adalah Wajar”
“Kamu telah mendengar firman:
Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu:
Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiyaya kamu. Karena
dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan
matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi
orang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:43-45).
Jadi Anda ingin menjadi seperti
Allah? Jika demikian, bacalah ayat 43-45 sepenuhnya beberapa kali sambil
merenungkannya.
Sampai seberapa jauh hidup keagamaan
kita harus melebihi yang dijalani para ahli taurat dan orang-orang Farisi
(Matius 5:20)? Dari Matius 5:21 dan seterusnya, Yesus mengilustrasikan hidup
keagamaan yang “melebihi” itu. Dan sudah sangat melebihi. Dia telah memberitahu
bahwa kita tidak boleh menyimpan pemikiran penuh kebencian, birahi kedangingan,
atau mudahnya bercerai, dan bahwa pemikiran dan tutur kata harus bersih
murni.
Kemudian di 38-42, Yesus tampaknya
menambahkan memberitahu bahwa kita tidak boleh menuntut balas kepada mereka
yang telah berbuat salah kepada kita. Tetapi sekarang di ayat 43-45, Dia bahkan
melangkah lebih jauh lagi daripada itu. Adalah suatu hal bagi saya untuk tidak
memukul anda kembali apabila anda memukul saya. Namun hal lain lagi untuk
mengasihi anda apabila anda telah berbuat salah kepada saya, untuk berdoa bagi
anda apabila anda melecehkan dan menganiaya saya.
Yesus telah memberi dukungan paling
tinggi yang mungkin dapat dicapai tentang apa artinya memiliki hidup keagamaan
yang melebihi hidup para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Bagaimanakah
seseorang dapat melakukan hal-hal demikian? Ini wajar.
Benar. Mengasihi musuh-musuh kita
tidak wajar, tapi itulah Kristiani, dan beberapa ayat berikut akan memberitahu
kita mengapa hal itu Kristiani. Kata-kata kunci adalah “karena dengan
demikian.” Kita harus mengasihi musuh-musuh [kita] dan berdoa bagi mereka yang
meludahi kita” karena dengan demikian kita menjadi anak-anak Bapa [kita] yang
di sorga.” Demikianlah sikap dan sifat Allah kita. Dia mengirimkan sinar
matahari dan hujan bagi mereka yang mengasihi-Nya maupun mereka yang
membenci-Nya. dia bahkan memberi Putra-Nya untuk mati bagi mereka yang adalah
musuh-musuh-Nya (Rm. 5:8). Dan Yesus berdoa bagi mereka yang memaku Dia di atas
kayu salib.
Kita harus melakukan hal yang sama
dalam hidup sehari-hari kita “karena dengan demikian” kita akan menjadi seperti
Bapa. Ellen White membantu kita melihat gambaran ini, “Kasih Allah yang
diterima akan membuat kita… ramah dan mesra, bukan sekedar kepada orang yang
menyenangkan kita, tetapi kepada yang paling bermasalah, bersalah dan berdosa….
Ini bukan pangkat duniawi, ataupun kelahiran, ataupun nasionalitas, atau
keistimewaan agama, yang membuktikan bahwa kita adalah anggota-anggota keluarga
Allah; ini adalah kasih, sebuah kasih yang merangkul semua umat manusia….
Bersikap ramah kepada mereka yang tidak berterimakasih dan kepada yang jahat,
berbuat baik dengan tanpa pamrih, adalah lencana keluarga kerajaan surga, tanda
yang pasti dengan mana anak-anak Yang Paling Tinggi mengungkapkan tingkat
mereka yang tinggi” (Thought From the Mount of Blessing, hlm. 75).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar