Senin, 07 Maret 2016

Renungan Pagi Selasa, 08 Maret 2016 “Mengikut Yesus Adalah Wajar”

Renungan Pagi Selasa, 08 Maret 2016 “Mengikut  Yesus  Adalah  Wajar”

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiyaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:43-45).

Jadi Anda ingin menjadi seperti Allah? Jika demikian, bacalah ayat 43-45 sepenuhnya beberapa kali  sambil merenungkannya.
Sampai seberapa jauh hidup keagamaan kita harus melebihi yang dijalani para ahli taurat dan orang-orang Farisi (Matius 5:20)? Dari Matius 5:21 dan seterusnya, Yesus mengilustrasikan hidup keagamaan yang “melebihi” itu. Dan sudah sangat melebihi. Dia telah memberitahu bahwa kita tidak boleh menyimpan pemikiran penuh kebencian, birahi kedangingan, atau mudahnya bercerai, dan bahwa pemikiran  dan tutur kata harus bersih murni.
Kemudian di 38-42, Yesus tampaknya menambahkan memberitahu bahwa kita tidak boleh menuntut balas kepada mereka yang telah berbuat salah kepada kita. Tetapi sekarang di ayat 43-45, Dia bahkan melangkah lebih jauh lagi daripada itu. Adalah suatu hal bagi saya untuk tidak memukul anda kembali apabila anda memukul saya. Namun hal lain lagi untuk mengasihi anda apabila anda telah berbuat salah kepada saya, untuk berdoa bagi anda apabila anda melecehkan dan menganiaya saya.
Yesus telah memberi dukungan paling tinggi yang mungkin dapat dicapai tentang apa artinya memiliki hidup keagamaan yang melebihi hidup para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Bagaimanakah seseorang dapat melakukan hal-hal demikian? Ini wajar.
Benar. Mengasihi musuh-musuh kita tidak wajar, tapi itulah Kristiani, dan beberapa ayat berikut akan memberitahu kita mengapa hal itu Kristiani. Kata-kata kunci adalah “karena dengan demikian.” Kita harus mengasihi musuh-musuh [kita] dan berdoa bagi mereka yang meludahi kita” karena dengan demikian kita menjadi anak-anak Bapa [kita] yang di sorga.” Demikianlah sikap dan sifat Allah kita. Dia mengirimkan sinar matahari dan hujan bagi mereka yang mengasihi-Nya maupun mereka yang membenci-Nya. dia bahkan memberi Putra-Nya untuk mati bagi mereka yang adalah musuh-musuh-Nya (Rm. 5:8). Dan Yesus berdoa bagi mereka yang memaku Dia di atas kayu salib.
Kita harus melakukan hal yang sama dalam hidup sehari-hari kita “karena dengan demikian” kita akan menjadi seperti Bapa. Ellen White membantu kita melihat gambaran ini, “Kasih Allah yang diterima akan membuat kita… ramah dan mesra, bukan sekedar kepada orang yang menyenangkan kita, tetapi kepada yang paling bermasalah, bersalah dan berdosa…. Ini bukan pangkat duniawi, ataupun kelahiran, ataupun nasionalitas, atau keistimewaan agama, yang membuktikan bahwa kita adalah anggota-anggota keluarga Allah; ini adalah kasih, sebuah kasih yang merangkul semua umat manusia…. Bersikap ramah kepada mereka yang tidak berterimakasih dan kepada yang jahat, berbuat baik dengan tanpa pamrih, adalah lencana keluarga kerajaan surga, tanda yang pasti dengan mana anak-anak Yang Paling Tinggi mengungkapkan tingkat mereka yang tinggi” (Thought From the Mount of Blessing, hlm. 75).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar