Renungan Pagi Rabu, 09 Maret
2016 “Sifat Karakter
Sempurna”
“Karena
itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Sorga adalah sempurna”
(Matius 5:48).
“Karena
itu” adalah kata-kata kunci dalam ayat 48. Ini secara tidak langsung
menunjukkan suatu keputusan terhadap yang telah terjadi sebelumnya.
Ayat
ini dengan panggilan untuk kesempurnaan seperti Allah, perlu dihubungkan dengan
konteks ayat 20 dan seterusnya, tetapi panggilan terutama ayat 43 sampai 47,
sebagaimana perbandingan dari ayat 45 dengan ayat 48 dengan jelas
diperlihatkan. Itu adalah ayat satu-satunya dalam seantero pasal yang meyerukan
umat Kristen agar serupa dengan Bapa mereka di surga. Ayat 43 samapai 47
menegaskan pokok keserupaan itu.
Yesus tidak menyuguhkan hal-hal yang abstrak di sini. Sama
seperti Bapa mengasihi musuh-musuh kita, seperti juga Allah mengasihi
musuh-musuh-Nya. bagaimanapun, bukankah Dia menyediakan sinar matahari dan hujan
bagi orang-orang yang jahat (ayat 45. Siapa saja, bahkan para pemungut cukai
dan jenis-jenis lain yang menjijikan, dapat mengasihi teman-teman mereka
(ayat 46, 47). Tetapi Allah menuntut kasih anak-anak-Nya yang supra alami bagi
semua orang. Sebagaimana Bapa sedemikian rupa mengasihi dunia ini sehingga Dia
memberikan Putra-Nya mati bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah dan
musuh-musuh-Nya, maka begitu juga umat Kristen harus mengasihi bahkan mereka
yang dengan licik memanfaatkan mereka, “karena dengan demikian” mereka dapat
menjadi seperti Bapa, “karena dengan demikian” mereka dapat menjadi sempurna,
sebagaimana Bapa surgawi mereka sempurna.
Pikiran itu membawa kita kepada kata “sempurna” di dalam
Matius 5:48. Diterjemahkan dari bahasa Yunani teleios, sama sekali
tidak ada sangkut paut dengan konsep ketiadaan dosa yang mutlak. Sebaliknya, teleios
berarti “kedewasaan,” dan sebagian besar terjemahan memang menerjemahkannya
demikian.
Penggunaan Alkitab tentang konsep tersebut, orang adalah teleios (sempurna)
apabila mereka sudah dewasa sepenuhnya atau sudah mencapai kematangan
sepenuhnya. Dan bagi umat manusia, kedewasaan itu berarti dipulihkan kepada
keserupaan dengan Allah sebagaimana mereka diciptakan menurut rupa Bapa di
surga. Bagaimanapun, “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8). Itulah inti
kesempurnaan karakter-Nya. dengan demikian kesempurnaan karakter berpusat pada
bertindak di dalam kasih seperti Allah dan bukan berperilaku seperti Iblis.
Pengertian demikian dari ayat 48 berderet dengan pararelnya
di dalam Lukas, yang berbunyi: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu
adalah murah hati” (Luk.6:36). Hal ini juga serasi dengan kutipan yang tegas
dalam Christ’s Object Lessons mengenai kesempurnaan yang
memancarkan karakter Kristus (hlm. 69). Konteks ini menjelaskan bahwa pancaran
demikian berpusat pada satu “roh kasih yang tidak mementingkan diri sendiri dan
memeras keringat bagi orang lain” (hlm. 67, 68).
Bapa, bantulah saya hari ini menjadi pribadi yang penuh
kasih karena dengan demikian saya dapat menjadi serupa dengan-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar