Renungan Pagi Jumat, 25
Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
Kuasa
Mengatasi Hal-Hal Supraalami
“Setibanya
di seberang… dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat
berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka
itu pun berteriak… katanya: ‘Jika Engkau mengusir kami, surulah kami pindah ke
dalam kawanan babi itu.’ Yesus berkata kepada mereka: ‘Pergilah!’” (Matius
8:28-32).
Yesus
mewakili kuasa bukan saja mengatasi jarak dalam dan dunia alami, tetapi juga
mengatasi wilayah setan-setan, dunia supraalami. Ini adalah mata rantai berikut
dalam rangkaian pengertian yang Matius buka mengenai identitas Yesus.
Dengan
kisah mukjizat ini, kita temukan pelayanan Yesus menjangkau keluar berlanjut
meluas. Dia sekarang ada di wilayah bukan Yahudi dari Dekapolis (kata yang
berarti “sepuluh kota”) di pantai tenggara Danau Galilea. Dua orang telanjang
dan kerasukan (Mat. 8:28) bergegas menghampiri murid-murid yang terkejut dan
Yesus. Di sini Yesus bertemu langsung dengan orang kerasukan setan untuk
pertama kalinya semenjak pertentangan-Nya dengan Setan di Padang Gurun Pencobaan.
Di sana Dia telah menetapkan supremasi-Nya, dan orang yang kerasukan ini
mengakui kenyataan menyiksa mereka (Mat. 8:29). Menyadari ketidakberdayaan
mereka dalam situasi itu, di hadapan kuasa Yesus dan kenyataan bahwa mereka di
pihak yang kalah pada pertempuran itu, setan-setan itu memohon agar Dia
melemparkan mereka kepada kawanan babi yang sedang mencari makan di dekat
mereka. Begitu permohonan itu disetujui, mereka membuat kawanan babi lari
tunggang-langgang ke dalam danau, dan semuanya mati (ayat 32).
Dengan
kejadian ini, para gembala babi lari ke kota dan memberi kesaksian tentang apa
yang telah mereka lihat. Segera seluruh penduduk berada di tempat kejadian, di
mana mereka menemukan kedua laki-laki itu sudah pulih duduk di tanah, berpakaian,
dengan pikiran waras (Mrk. 5:15).
Perubahan
itu bagian luar biasa dari kisah tersebut, tetapi bukan aspek yang paling
mengejutkan. Kita mengira bahwa orang banyak yang berdesakan itu dipenuhi
sukacita bilamana kedua laki-laki gila yang telanjang itu sudah kembali ingatan
mereka dan waras. Kita bahkan berasumsi bahwa mereka akan meminta kuasa
berikutnya dari Yesus untuk menyembuhkan orang-orang di antara mereka yang
sakit. Tetapi yang mereka inginkan justru agar Dia secepatnya pergi dari
wilayah mereka (Mat. 8:34).
Mengapa?
Karena walaupun mukjizat yang tidak dapat dipungkiri telah terjadi, namun
akibatnya ialah kawanan babi mereka mati. Mereka merasa telah di tusuk pada
bagian anatomi mereka yang paling rentan – kantung mereka.
Di
sini kita menemukan suatu kenyataan ketika kita datang kepada Yesus. Bagaimana
kita bisa menyesuaikan diri kita dengan kuasa-Nya jika Dia mengancam dompet
kita atau berhala lain pada kehidupan kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar