Senin, 21 Maret 2016

Renungan Pagi Selasa, 22 Maret 2016 “Wewenang Melampaui Kata-Kata”

Renungan Pagi Selasa, 22  Maret  2016 “Wewenang Melampaui Kata-Kata”

“Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.’ Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya” (Matius 8: 1-3).

Kata-kata itu murah. Setiap orang bisa saja membuat pernyataan-pernyataan besar atau menyampaikan khotbah luar biasa dan penuh makna. Beberapa tahun lalu seorang pendeta berkunjung antar kota dan menyatakan bahwa jika orang-orang memiliki iman yang benar mereka boleh meninggalkan pertemua-pertemuan sang pendeta dan “tidak akan pernah berbuat dosa lagi.” Saya pernah mendengarkan hal seperti itu sebelumnya. Sekali waktu, saya pernah mengajarkan hal seperti itu juga. Saya akan lebih terkesan andaikan pendeta itu katakan bahwa dia memiliki iman yang cukup untuk meninggalkan auditorium, pergi ke Danau Chapin, dan berjalan di atas air. Wewenang nyata memiliki tindakan yang dapat didemonstrasikan, bukan ocehan kata-kata saja.

Yesus memiliki wewenang yang sebenarnya bukan saja pada kata-kata-Nya tetapi juga di dalam apa yang Dia dapat lakukan. Itulah yang dimaksudkan Matius 8 dan 9. Pasal 5-7 menyatakan Yesus sebagai guru yang berwenang (Mat. 7:29), menyusul dua pasal berikutnya memperlihatkan bahwa Dia mempunyai wewenang maupun firman. Dan sekali lagi, wewenang-Nya akan mencegangkan orang banyak (Mat. 7:28; 9:33).

Ada sebuah rencana bagi kehidupan Yesus sebagaimana ada rencana pada Injil Matius. Di antara Matius 8:1 dan 9:33, Injil pertama memperlihatkan Yesus melakukan Sembilan mukjizat yang mendemonstrasikan wewenang-Nya yang tak usah diragukan lagi mengenai siapa Dia. Mukjizat pertama memerlihatkan Yesus menyembuhkan seorang kusta. Penyakit kusta adalah penyakit paling ditakuti pada zaman dulu. Selain kerusakan fisik sang korban, juga pengasingan sosial. Para penderita kusta diusir dari masyarakat segera setelah didiagnosis. Mereka harus meninggalkan keluarga dan teman-teman, menutupi wajah mereka dan berseru”najis” ke mana pun mereka pergi.

Tetapi Yesus bahkan dapat menyembuhkan seorang penderita kusta. Dia memiliki wewenang atas penyakit yang begitu ditakuti. Kedelapan mukjizat berikutnya memperlihatkan Dia berkuasa, bukan saja atas penyakit tetapi juga atas ketakutan-ketakutan alam dan dunia roh-roh jahat. Pada akhir demonstrasi wewenang itu, Matius menuliskan, “Maka heranlah orang banyak, katanya: ‘Yang demikian belum pernah dilihat orang Israel’” (Mat. 9:33).

Yesus bukan saja berbicara sebagai Allah, Dia bertindak sebagai Allah. Dia memiliki wewenang. Dan wewenang itu dimaksudkan untuk membersihkan diri kita sama seperti terhadap mereka yang najis 2.000 tahun yang lalu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar