Rabu, 09 Maret 2016

Renungan Pagi Kamis, 10 Maret 2016 “Dosa Mengikuti Saya Ke Gereja”

Renungan Pagi Kamis, 10 Maret  2016 “Dosa  Mengikuti  Saya  Ke  Gereja”

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga” (Matius 6:1).

Melalui Matius 6:1-8, Yesus menggeser inti pembahasan-Nya mengenai prinsip-prinsip kerajaan dari hidup keagamaan Kristen kepada kesalehan seorang umat percaya. Dia memilih pemberian sedekah (ayat 2-4), berdoa (ayat 5,6),  dan berpuasa (ayat 16-18) untuk mengilustrasikan prinsip-prinsip yang kita dapat terapkan pada semua tindak kesalehan rohani. Menakutkan untuk percaya bahwa kita dapat melenceng keluar jalur di dalam kegiatan-kegiatan rohani demikian seperti berdoa dan memberi sedekah kepada Allah, tetapi Yesus mengatakan bahwa kita bisa.
Pada intinya, Dia mengajarkan kita bahwa kita sepenuhnya mencampakkan dosa ketika kita meninggalkan cara hidup kita yang menjijikkan. Sebaliknya, dosa lebih daripada sekadar ingin mengikuti kita ke gereja.
Polanya sama di dalam tiap ilustrasi. Pertama-tama ada gambaran mengenai kesalehan yang palsu, yang berfokus mempertontonkan kesalehan “orang yang beribadah” di depan umum. Di dalam tiap ilustrasi, Dia menggunakan kata “munafik.” Dalam bahasa Yunani, kata munafik mengacu kepada seorang aktor di atas panggung. Digunakan pada pengalaman rohani di Matius 6, seorang munafik ialah seorang yang memakai wajah palsu. Dia berpura-pura menghormati Allah padahal sebenarnya dia memuliakan dirinya sendiri. Yesus menegaskan, orang-orang demikian telah memperoleh upah mereka. Bagian sisa ilustrasi itu menyarankan jalan yang pantas untuk memenuhi kewajiban (yaitu berdoa tanpa diketahui orang). Dalam tiap-tiap gagasan utama dinyatakan bahwa motivasi berbakti harus tertanam dalam hubungan  seseorang kepada Bapa dan bukan keinginan untuk kelihatan hebat. Ketiga ilustrasi itu ditutup pernyataan bahwa Allah akan memberi imbalan bagi dia yang setia.
Di dalam Matius 6:1-18, Yesus menghadapkan kita dengan “dosa-dosa vegetarian,” yaitu dosa-dosa yang kelihatannya begitu baik karena dosa-dosa itu terikat pada praktik rohani, dosa-dosa dari orang-orang Farisi dari setiap generasi.
Dosa-dosa demikian menipu dan berbahaya karena dosa-dosa itu menyergap tanpa kita sadari – dosa-dosa itu membuat kita merasa begitu rohani, begitu benar. Tetapi di situlah kelicikan itu menyusup masuk. Dosa-dosa itu membuat kita berpikir bahwa kita bersih padahal kita  masih terisi inti dosa  yang busuk-kesombongan bahwa kita sudah mencukupi diri sendiri dan hanya mementingkan diri sendiri saja.
Yesus, sahabat terbaik kita, ingin menyelamatkan kita bahkan dari dosa –dosa rohani kita, dari keangkuhan rohani kita, dan merasa bahagia mengenai kehidupan  berdoa kita.
Dan bagaimana Dia mengusulkan melakukan hal tersebut? Dengan cara yang sama yang Dia lakukan kepada para pelacur dan pengedar obat bius. Dia menginginkan agar roh keangkuhan kita disalibkan di kayu salib.
Karena setelah penyalipan keangkuhan diri kita yang membenarkan diri itu, Yesus ingin membuat kelahiran kembali kita melalui kehidupan di dalam Roh. Berita baiknya adalah bahwa Dia sanggup jika kita bersedia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar