Renungan
Pagi Kamis, 10 Maret 2016 “Dosa
Mengikuti Saya Ke Gereja”
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban
agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu
tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga” (Matius 6:1).
Melalui Matius 6:1-8, Yesus menggeser inti
pembahasan-Nya mengenai prinsip-prinsip kerajaan dari hidup keagamaan Kristen
kepada kesalehan seorang umat percaya. Dia memilih pemberian sedekah (ayat
2-4), berdoa (ayat 5,6), dan berpuasa (ayat 16-18) untuk mengilustrasikan
prinsip-prinsip yang kita dapat terapkan pada semua tindak kesalehan rohani.
Menakutkan untuk percaya bahwa kita dapat melenceng keluar jalur di dalam
kegiatan-kegiatan rohani demikian seperti berdoa dan memberi sedekah kepada
Allah, tetapi Yesus mengatakan bahwa kita bisa.
Pada intinya, Dia
mengajarkan kita bahwa kita sepenuhnya mencampakkan dosa ketika kita
meninggalkan cara hidup kita yang menjijikkan. Sebaliknya, dosa lebih daripada
sekadar ingin mengikuti kita ke gereja.
Polanya sama di dalam
tiap ilustrasi. Pertama-tama ada gambaran mengenai kesalehan yang palsu, yang
berfokus mempertontonkan kesalehan “orang yang beribadah” di depan umum. Di
dalam tiap ilustrasi, Dia menggunakan kata “munafik.” Dalam bahasa Yunani, kata
munafik mengacu kepada seorang aktor di atas panggung. Digunakan pada
pengalaman rohani di Matius 6, seorang munafik ialah seorang yang memakai wajah
palsu. Dia berpura-pura menghormati Allah padahal sebenarnya dia memuliakan
dirinya sendiri. Yesus menegaskan, orang-orang demikian telah memperoleh upah
mereka. Bagian sisa ilustrasi itu menyarankan jalan yang pantas untuk memenuhi
kewajiban (yaitu berdoa tanpa diketahui orang). Dalam tiap-tiap gagasan utama
dinyatakan bahwa motivasi berbakti harus tertanam dalam hubungan
seseorang kepada Bapa dan bukan keinginan untuk kelihatan hebat. Ketiga ilustrasi
itu ditutup pernyataan bahwa Allah akan memberi imbalan bagi dia yang setia.
Di dalam Matius
6:1-18, Yesus menghadapkan kita dengan “dosa-dosa vegetarian,” yaitu dosa-dosa
yang kelihatannya begitu baik karena dosa-dosa itu terikat pada praktik rohani,
dosa-dosa dari orang-orang Farisi dari setiap generasi.
Dosa-dosa demikian menipu dan berbahaya karena
dosa-dosa itu menyergap tanpa kita sadari – dosa-dosa itu membuat kita merasa
begitu rohani, begitu benar. Tetapi di situlah kelicikan itu menyusup masuk.
Dosa-dosa itu membuat kita berpikir bahwa kita bersih padahal kita masih
terisi inti dosa yang busuk-kesombongan bahwa kita sudah mencukupi diri
sendiri dan hanya mementingkan diri sendiri saja.
Yesus, sahabat terbaik
kita, ingin menyelamatkan kita bahkan dari dosa –dosa rohani kita, dari
keangkuhan rohani kita, dan merasa bahagia mengenai kehidupan berdoa
kita.
Dan bagaimana Dia
mengusulkan melakukan hal tersebut? Dengan cara yang sama yang Dia lakukan
kepada para pelacur dan pengedar obat bius. Dia menginginkan agar roh
keangkuhan kita disalibkan di kayu salib.
Karena setelah
penyalipan keangkuhan diri kita yang membenarkan diri itu, Yesus ingin membuat
kelahiran kembali kita melalui kehidupan di dalam Roh. Berita baiknya adalah
bahwa Dia sanggup jika kita bersedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar