Renungan Pagi Kamis, 17 Maret 2016 “Prinsip Inti
Kerajaan Kristus”
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang
perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum taurat dan kisah
para nabi (Matius 7:12)
Saya
tidak menyukai ayat hari ini karena ayat itu menganggu cara saya menjalani
kehidupan saya. Dan itu menjengkelkan.
Di
balik ketidaksukaan kita terhadap kaidah emas adalah juga ketidaksukaan kita
terhadap hukum Allah, yang dengan jelas menyatakan bagaimana kasih kita kepada
Allah dan kepada sesama sebagai cara kita menjalani kehidupan secara
benar. Dan di balik rasa tidak senang
kita terhadap hukum gai cara kita menjalani kehidpan secara benar. Dan di balik rasa tidak senang kita terhadap hukum
itu. Itu merupakan suatu keengganan terhadap Allah yang memberi hukum itu.
Mengapa Dia tidak mengurus urusan-Nya sendiri dan membiarkan kita melakukan apa
yang kita sukai lakukan?
Pertanyaan
itu membawa kita kepada akar sesungguhnya masalah ini. Alasan kita tidak menyukai kaidah emas dan
hukum, dan bahkan Allah, adalah karena hal itu menganggu bergulirnya kehidupan
alami pribadi kita, kehidupan kita yang penuh dosa di luar Kristus. Kita jangan pernah melupakan bahwa mengasihi
diri sendiri adalah inti dosa. Sifat penuh
dosa seluruhnya berpusat pada diri sendiri, sedangkan kaidah emas dan hukum Allah
berpusat pada orang lain. Hal-hal
tersebut mengganggu kehidupan kita yang berpusat pada diri sendiri. Dan hal itu menyebapkan permusuhan dengan kaidah
emas, hukum dan peraturan.
Kehidupan
yang berpusat pada diri sendiri mengatakan jika anda menyukai sesuatu, ambil
saja; jika anda mengingini istri atau suami orang lain, pakai saja; jika hal
itu memenuhi kehendak anda, berdustalah untuk mendapatkan yang anda
kehendaki. Itulah yang hendak Yesus
akhiri. Dia ingin mengubah hati dan
pikiran kita agar kita bisa berada dalam hubungan yang serasi dengan dengan
Allah, hukum-Nya, dan peraturan-Nya. Dia
berusaha menuliskan prinsip-prinsip kerajaan-Nya di atas hati kita. Dengan demikian, kita akan menyukai kaidah
emas pada Matius 7:12
Dengan
peraturan itu, tuntutannya untuk mengasihi orang lain, itulah “isi seluruh hukum
Taurat dan Kitab Para Nabi,” dan Khotbah di Atas Bukit kembali sepenuhnya pada
Matius 5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya.”
Matius
5:17 dan 7:12 menyoroti hukum dan para nabi.
Teks-teks tersebut menggolongkan inti utama khotbah pengukuhan
Kristus. Sebagai akibatnya, kita harus
memandang kaidah emas sebagai suatu rincian interpretasi Kristus mengenai arti
hukum dan para nabi (Perjanjian Lama), dan di mana Matius 5:21-7:11 merupakan
penjabaran atau pemenuhan beberapa prinsip yang termaktub di dalam rincian satu
ayat tersebut.
Baik
dalam rincian maupn dalam komentar, kita menemukan bahwa hukum Allah adalah cara menjalankan kehidupan dan cara berpikir, bukan merupakan daftar apa
yang boleh dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar