Renungan
Pagi 03 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
KEABADIAN HUKUM
TAURAT
“Karena
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi, satu
iota atau titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya
terjadi” (Matius 5:18).
Ucapan Yesus ini diucapkan setegas-tegasnya. Tak ada sesuatu
yang dapat mengubah hukum Allah sedikitpun. Tuntutan hukum Taurat itu abadi.
Sebagaimana surga dan bumi dalam tanda-tanda kestabilan
maksudnya bahwa keduanya selalu ada, maka begitu juga hukum Allah itu tidak
berakhir. Hukum itu bukan sesuatu yang Dia ubah dari waktu ke waktu karena
kemungkinan Dia bisa saja merasakan dorongan untuk melakukan sesuatu yang
berbeda. Tidak, sesungguhnya prinsip-prinsipnya dibangun ke dalam stuktur
alam semesta.
Saya suka terjemahan The Message tentang
bagian pertama ayat kita hari ini: “Hukum Taurat Allah lebih nyata dan abadi
daripada bintang-bintang di langit dan tanah di bawah kaki kita. Jauh setelah
bintang-bintang tidak bercahaya lagi dan bumi sudah usang, hukum Allah akan
tetap hidup dan bekerja.”
Nah, itulah yang namanya abadi!
Tetapi
mengapa? Bukankah Allah memiliki kemauan yang bebas? Tidak dapatkah Dia memilih
untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki?
Sudah
tentu Dia dapat melakukan apa pun yang Dia inginkan. Tetapi pertanyaan itu sama
sekali melenceng dari sasaran. Prinsip dasar hukum Allah ialah prinsip
menjalani kehidupan dan sehat. Apa pun yang bertentangan dengan hukum adalah
kematian, kehancuran, dan ketidakteraturan. Misalnya saja, Sepuluh Perintah
Allah. Kita tidak mungkin mempunyai masyarakat yang sehat di mana orang saling
membunuh satu sama lain dan di mana kita biasa mempercayai siapa pun.
Hukum Allah tidak dapat diubah karena itulah perwujudan
lahiriah karakter-Nya yang penuh kasih. Prinsip-prinsipnya sesungguhnya untuk
kabaikan abadi kita.
Dengan
demikian, bahkan bagian terkecil dari hukum Allah, tidak “satu iota atau satu
titikpun” (huruf terkecil dan titik terkecil dalam abjad Ibrani) – akan diubah.
Ini untuk kebaikan kita.
Dan
walaupun itu benar bagi Sepuluh Perintah Allah, demikian juga keadaannya dari
seantero Perjanjian Lama – hukum Taurat dan para nabi. Perjanjian Lama masih absah
bagi umat Kristen.
Bahkan hukum upacara mempunyai arti bagi kita. Apa yang
dipakukan di kayu salib adalah hukum karena melanggar hukum dan bukan bagian
apa pun dari hukum itu sendiri. Hukum upacara di genapi di dalam pelayanan
Kristus. Dialah Anak Domba Allah yang mati bagi kita (Yoh. 1:29). Dialah Domba
Paskah kita (1 Kor. 5:7), dan Dia sekarang ini melaksanakan tugasnya di Bait
Suci surgawi sebagai Imam Besar kita, sebagaimana digambarkan secara luas dalam
Kitab Ibrani. Melakukan upacara hukum sudah bergeser dari bumi ke surga, di
mana Kristus yang penuh kasih itu menjadi pengantara bagi kita sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar