Kamis, 31 Maret 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat 01 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat 01 April 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
Description: https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xla1/v/t1.0-9/9189_941443512619453_1499055691583152958_n.jpg?_nc_eui=ARh-ONMHqsw48ejaZvHl1tFqV09jlwbA7ApaRyRdvItAjGcddmMeEhlrEefc&oh=0f0d112e71bc9a70f8c13991f14a1481&oe=578CE247"Kekristenan Bukan Kelompok Diskusi"
“Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?... Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.’ Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”(Yohanes 3:4-9).
Tetapi bagaimanakah saya beralih dari seorang Kristen “air” menjadi bagian keluarga Allah yang sejati, seorang Kristen Rohani? Bagaimanakah prosesnya? Bagaimanakah terjadinya?
Itulah pertanyaan-pertanyaan serupa yang direnungkan Nikodemus. Dia juga bingung. Dan dia sepantasnya demikian. Di sini kita menyaksikan langsung salah satu misteri iman terbesar, yaitu kelahiran baru dari atas, melalui proses mana orang-orang menjadi umat percaya yang dipenuhi Roh.
Kita bisa menghendaki jawaban Yesus yang disampaikan lebih gamblang. Tetapi dengan menggunakan kata Yunani Pneuma, Dia menyodorkan permainan kata yang dapat menyampaikan arti yang Dia maksudkan. Pneuma berarti “roh” dan “angin.” Yesus memberitahu Nikodemus bahwa kelahiran baru adalah seperti angin. Anda bisa mendengar dan merasakan angin tetapi tidak dapat mengatakan datangnya dari mana dan kearah mana akan perginya. Itulah misteri yang membalut angin. Dan walaupun banyak hal mengenai angin yang kita tidak mengerti, dampaknya terlihat nyata bagi semua orang. Yesus melanjutkan, Roh bekerja dengan cara yang sama. Kita mungkin tidak akan mengerti bagaimana Dia bekerja, tetapi kita dapat melihat dampaknya di dalam kehidupan manusia.
Pendeknya, Yesus memberitahu kita bahwa kita sesungguhnya tidak dapat mengerti cara Roh bekerja, tetapi kita dapat mengerti hasil-hasilnya. William Barclay mengisahkan sebuah cerita pendek mengenai seorang pemabuk yang sudah bertobat. Rekan-rekannya melakukan sebisa mereka untuk mengejek imannya yang baru. “Sudah pasti kan,” kata mereka kepadanya, “kamu tidak percaya kepada mukjizat dan hal-hal seperti itu. Sudah pasti misalnya, kamu tidak percaya bahwa Yesus mengubah air menjadi anggur.” “Aku tidak tahu,” laki-laki itu menjawab, “apakah Dia mengubah air menjadi anggur ketika Dia berada di Palestina, tetapi aku tahu bahwa di rumahku sendiri Dia telah mengubah bir menjadi mebel.”
Yesus sudah menjelaskan dengan tegas bahwa kita sesungguhnya tidak dapat mengerti pertobatan. Dan inilah satu hal yang membuat banyak anggota gereja jengkel. Mereka mengira bahwa Kekristenan adalah suatu kelompok diskusi yang tiada henti di mana perdebatan terus-menerus menjadi kesibukan utama,
Tidak begitu, kata Yesus. Kekristenan pada akhirnya adalah sesuatu yang harus dialami. Salah satu bagiannya adalah Roh yang mengisi kehidupan kita, mengubah kehidupan dan menggunakan kehidupan itu untuk kemuliaan Allah.


Rabu, 30 Maret 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 31 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 31  Maret  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Terlalu  Banyak  Orang  Kristen  “Air”
“Yesus menjawab kata-Nya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat  Kerajaan Allah.’ Kata Nikodemus kepada-Nya: ‘Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?’ Jawab Yesus: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari Air dan Roh ia tidak dapat masuk dalam kerajaan  Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah Roh’” (Yohanes 3:3-6).

Yesus mengetahui yang ada di dalam hati Nikodemus. Dan Dia tahu apa yang dibutuhkan pemimpin kaya raya orang-orang Farisi itu.

Nikodemus perlu dilahirkan kembali atau dilahirkan dari atas. Tidak cukup sekedar dilahirkan sebagai seorang anak Abraham ke dalam bangsa perjanjian Israel. Bagimanapun dia menginginkan sesuatu yang lebih.

Di sini Injil keempat mengangkat tema yang mula-mula diperkenalkan dalam Yohanes 1:12, 13. Di sana kita membaca, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”

Banyak orang di zaman kita meyakini bahwa semua manusia secara otomatis adalah anak-anak Allah – bahwa Alah adalah Bapa semua orang. Tidak begitu. Dia bisa saja pencipta mereka, tetapi itu tidak berarti bahwa Dia adalah Bapa mereka.

Alkitab jelas mengenai hal ini. Hanya mereka yang lahir dari Roh dan telah menyambut di dalam iman, menjadi bagian keluarga Allah. Mereka kemungkinan dilahirkan sebagai orang Yahudi, Katolik, Advent, atau Baptis, tetapi itu tidak menjadikan mereka bagian keluarga Allah.

Itulah yang Yesus beritahu kepada Nikodemus. Dia memerlukan baptisan ganda – baptisan air dan baptisan Roh supaya dia dapat dilahirkan dari atas sebagai bagian kerajaan Allah.

Di zaman kita, justru pada saat pembaptisan ganda masalah-masalah memasuki gereja. Semua anggota jemaat menurut defenisi sudah dibaptis dengan air. Tetapi itu hanya setengah dari apa yang mereka butuhkan. Dan bagian ini sangatlah kurang. Lebih penting lagi, mereka harus memiliki hati yang baru dan mendapatkan  kuasa untuk hidup seperti Kristus melalui baptisan Roh Kudus.

Masalahnya adalah bahwa terlalu banyak anggota gereja “air.” Mereka bagian dari gereja tetapi  bukan bagian dari keluarga Allah di surga. Dari kelompok “air” inilah menjalar pertikaian, fitnah, dan segala jenis masalah di dalam gereja yang kelihatan.

Tuhan, tolonglah saya hari ini untuk mau keluar dari air dan masuk ke dalam Roh. Saya membutuhkan bantuan-Mu sekarang.



Selasa, 29 Maret 2016

Renungan Pagi: Rabu 30 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi: Rabu 30 Maret  2016 “Pandanglah Pada Yesus”
Datang Pada Waktu Malam Lebih Baik Daripada Tidak Datang Sama Sekali

“Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: ‘Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya’” (Yohanes 3:1, 2).

Di sini ada seorang lain yang terkesan oleh “tanda-tanda” dan mukjizat-mukjizat yang telah Yesus lakukan. Yesus bisa saja dengan hati-hati menganggap Nikodemus salah seorang dari antara orang banyak yang terpesona karena apa yang mereka telah lihat sepintas dalam kuasa-Nya melakukan mukjizat dan berkuasa.

Tetapi Yesus, yang “tahu apa yang ada di dalam hati manusia” (Yoh. 2:25), mengenal di dalam diri  Nikodemus, Yesus telah menemukan seorang pencari Allah yang sesungguhnya, bukan sekedar tertarik pada “cahaya-cahaya terang” pelayanan-Nya.

Tetapi Yesus memandang ke bawah permukaan untuk melihat hal tersebut. Di sini ada seorang pribadi dari kelas yang sama sekali berbeda dari masa orang-orang yang biasanya mengikuti-Nya. Pada permukaan kita mengenal beberapa hal tentang Nikodemus. Pertama, dia seorang Farisi,salah satu kelompok elite terdiri 6.000 orang yang sudah membaktikan diri untuk mengikuti Allah dengan benar melalui mengikuti hukum secara keseluruhan ribuan rinciannya. Orang-orang Farisi pada zaman Yesus adalah “kaum ningrat rohani.” Mereka adalah orang-orang yang menyandang trah.

Trah itu bukan saja trah rohani, tetapi trah itu juga politis dan sosial. Yohanes menggambarkan Nikodemus seorang “pemimpin agama Yahudi,” artinya dia anggota Sanherdin, kelompok terpilih dari 71 orang yang berfungsi sebagai kuasa pemerintahan tertinggi bangsa Yahudi di bawah penguasaan Roma. Selain itu, dia kaya, dan ini diperlihatkan oleh pemberiannya di kemudian hari yang dia sampaikan pada pemakaman Yesus.

Orang berprestise inilah yang mencari Yesus di malam hari. Terlalu sering kita menyalakan seseorang bila secara diam-diam dan memcurigakan berjalan di kegelapan, seakan-akan dia malu untuk kelihatan bersama Yesus. Tetapi yang mengherankan ialah, dengan latar belakangnya, dia masih perlu datang juga. Hanya mukjizat kasih karunia yang memungkinkan Nikodemus mengatasai prasangka-prasangkanya, pendidikannya, dan pandangan kelompok demi untuk mendekati Yesus. Jangan pernah melupakan, lebih baik datang kepada Yesus di malam hari daripada tidak datang sama sekali.

Di sini kita menemukan seorang yang mempunyai keyakinan dan keberanian. Dan Yesus yang dapat membaca hati orang menghormati sifat-sifat tersebut.

Bapa di surga, tolonglah saya hari ini untuk keluar dari bentukan dunia sekitar saya. Tolonglah saya memilki keberanian Nikodemus supaya saya dapat menerima berkat Nikodemus.



Senin, 28 Maret 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa, 29 Maret 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa, 29  Maret  2016

“Yesus  Pembaca  Hati  Manusia”

“Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorangpun memberikan kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia” Yohanes 2: 23-25).

Masalah besar melakukan mukjizat dan “tanda-tanda” lain adalah orang cenderung mengikuti untuk alasan yang salah. Yesus menyadari itu. Juruselamat kita mengerti hati manusia dan sebagian besar orang tidak dapat dipercayai, tak peduli apakah di depan umum mereka akui sebagai keyakinan atau persekutuan mereka. “Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.”

Peristiwa dalam perikop hari ini adalah saat kunjungan pertama-Nya ke Yerusalem pada waktu Paskah. Dia telah membuat kesan yang besar pada Yudaisme Palestina selama pelayanan dini-Nya di Galilea. Namun sekarang Dia telah tiba di ibukota bangsa-Nya dan “banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya.”

Ketika itu adalah Paskah, justru pada tahun itu Yesus di kemudian hari akan menyerahkan nyawa-Nya untuk dosa-dosa dunia sebagai Anak Domba Allah (Yoh. 1:29), atau, lebih spesifik lagi, sebagai “Paskah” yang  “juga telah disembelih bagi kita” ( 1 Kor. 5:7).

Tampaknya segala sesuatu sudah cocok bagi Yesus untuk melangkah maju dan secara terbuka menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Mengapa tidak Dia lakukan? Jawabannya ialah, Dia sangat mengenal hati manusia, Dia tahu, banyak mereka yang percaya hanya tertarik karena pagelaran lahirlah saja dari perkara-perkara yang telah mereka lihat dan akan meninggalkan Dia karena hati manusia tidak tetap. “Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.” Sehingga, Yesus “tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka.”

Tetapi karena Dia mengenal hati mereka, ada beberapa yang bersedia untuk membuka diri. Bukanlah suatu kebetulan bahwa kedua kisah utama berikut di dalam Injil Yohanes menampilkan Nikodemus dan wanita Samaria di sumur. Yesus tidak saja dapat mengenal hati siapa yang akan menjadi pengikut yang dangkal dan berubah-berubah, tetapi Dia dapat melihat di bawah permukaan dan menghargai orang yang mau menerima pekabaran-Nya. Dan Dia bersedia mempercayakan diri-Nya kepada mereka yang sungguh-sungguh. Pada kisah wanita Samaria dan Nikodemus, kita temukan calon-calon yang tidak mungkin menjadi penerima kerajaan Yesus. Tetapi Dia melihat ke dalam hati dan mengungkapkan Diri-Nya kepada mereka dengan suatu cara yang Dia tidak dapat lakukan kepada kebanyakan orang. Dan keluar dari celah itu, mengalir beberapa kebenaran paling berharga dari pelayanan-Nya.

Yesus yang mengenal kita dengan begitu baik, tetapi ingin memimpin kita sekarang. Dia inginkan kita untuk membuka diri kepada-Nya supaya Dia dapat lebih penuh mengungkapkan Diri-Nya kepada kita.


Jumat, 25 Maret 2016

Renungan Pagi Sabat, 26 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Sabat, 26  Maret  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Kuasa  Mengatasi  Dosa”

 “Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkata Ia kepada orang lumpuh itu: ‘Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni’” (Matius 9:2).

Di sini kita menemukan bukan sekedar penyembuhan. Sebaliknya sudut pandang kejadian ini, seakan-akan film layar lebar berwarna-warni Technicolor, adalah bahwa Yesus menghubungkan penyembuhan dengan pengampunan dosa laki-laki itu.

Hubungan itu tak luput dari perhatian beberapa “pengunjung” di antara orang banyak. Matius 9:3 memberitahu bahwa para ahli Taurat segera mulai bersungut mengenai hujatan Yesus. Kita harus ingat, mereka termasuk kalangan berpendidikan. Mereka pakar mempelajari hukum Musa, Kitab Suci sering mengacu mereka “para guru hukum,” dan mereka nantinya memainkan peran utama dalam penangkapan dan pengadilan Yesus. Tapi di saat itu, mereka sekedar menuduh Dia menghujat. Lukas membantu kita mengerti mereka ketika dia menambahkan keterangan mereka: “Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Luk. 5:21). Pendek kata, mereka telah menjebak Yesus menyatakan suatu hak istimewa Ilahi.

Salah satu fakta tak menguntungkan dari kehidupan gereja adalah setiap jemaat tampaknya memiliki suatu kontingen “ahli Taurat.” Mereka yang senantiasa cemberut selalu mencari kesalahan. Dan seperti para ahli Taurat zaman dahulu, sikap mereka itu membutakan mereka terhadap hal-hal positif. Mereka yang memata-matai Yesus sama sekali tak melihat pentingnya mukjizat yang mengherankan  itu. Terobsesi  dengan hal-hal yang ortodoks, mereka sama  sekali tidak simpati kepada orang-orang  yang membutuhkan. Fokus mereka pada tradisi mereka telah mencegah mereka melihat realita rohani yang diperagakan di depan mata mereka. Yang mereka lihat dan dengar hanyalah bahwa Yesus mengampuni orang lumpuh itu. Itu sudah cukup bagi mereka. Mereka sekarang punya bukti untuk menuntut-Nya yang akhirnya akan membawa-Nya ke kayu salib.

Yesus mengerti teologi mereka. Dia tahu bahwa mereka yakin tidak ada orang sakit dapat disembuhkan  sampai dosa-dosa mereka diampuni, dan mereka berpendapat hanya Allah dapat melakukan itu.

Dia bisa saja menghindari masalah dengan berlaku hati-hati. Sebaliknya Yesus mengemukakan kepada mereka suatu tuntutan dan tantangan, dengan bertanya, “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: ‘Bangunlah dan berjalanlah?” (Mat. 9:5).

Pertanyaan itu membuat para ahli Tuarat bergerak maju. Setiap penipu bisa saja menyatakan mampu mengampuni dosa, tetapi, tidak ada seorang pun yang pernah mengakui dapat melakukan hal itu. Tetapi seorang lumpuh yang disembuhkan dapat membuktikannya dan itu suatu penegasan Ilahi.

Yesus sudah menunjukkan maksud-Nya. dan Dia juga sudah menandatangani surat perintah kematian-Nya sendiri.




Kamis, 24 Maret 2016

Renungan Pagi Jumat, 25 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Jumat, 25  Maret  2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Kuasa  Mengatasi  Hal-Hal Supraalami

“Setibanya di seberang… dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak… katanya: ‘Jika Engkau mengusir kami, surulah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.’ Yesus berkata kepada mereka: ‘Pergilah!’” (Matius 8:28-32).

Yesus mewakili kuasa bukan saja mengatasi jarak dalam dan dunia alami, tetapi juga mengatasi wilayah setan-setan, dunia supraalami. Ini adalah mata rantai berikut dalam rangkaian pengertian yang Matius buka mengenai identitas Yesus.

Dengan kisah mukjizat ini, kita temukan pelayanan Yesus menjangkau keluar berlanjut meluas. Dia sekarang ada di wilayah bukan Yahudi dari Dekapolis (kata yang berarti “sepuluh kota”) di pantai tenggara Danau Galilea. Dua orang telanjang dan kerasukan (Mat. 8:28) bergegas menghampiri murid-murid yang terkejut dan Yesus. Di sini Yesus bertemu langsung dengan orang kerasukan setan untuk pertama kalinya semenjak pertentangan-Nya dengan Setan di Padang Gurun Pencobaan. Di sana Dia telah menetapkan supremasi-Nya, dan orang yang kerasukan ini mengakui kenyataan menyiksa mereka (Mat. 8:29). Menyadari ketidakberdayaan mereka dalam situasi itu, di hadapan kuasa Yesus dan kenyataan bahwa mereka di pihak yang kalah pada pertempuran itu, setan-setan itu memohon agar  Dia melemparkan mereka kepada kawanan babi yang sedang  mencari makan di dekat mereka. Begitu permohonan itu disetujui, mereka membuat kawanan babi lari tunggang-langgang ke dalam danau, dan semuanya mati (ayat 32).

Dengan kejadian ini, para gembala babi lari ke kota dan memberi kesaksian tentang apa yang telah mereka lihat. Segera seluruh penduduk berada di tempat kejadian, di mana mereka menemukan kedua laki-laki itu sudah pulih duduk di tanah, berpakaian, dengan  pikiran waras (Mrk. 5:15).

Perubahan itu bagian luar biasa dari kisah tersebut, tetapi bukan aspek yang paling mengejutkan. Kita mengira bahwa orang banyak yang berdesakan itu dipenuhi sukacita bilamana kedua laki-laki gila yang telanjang itu sudah kembali ingatan mereka dan waras. Kita bahkan berasumsi bahwa mereka akan meminta kuasa berikutnya dari Yesus untuk menyembuhkan orang-orang di antara mereka yang sakit. Tetapi yang mereka inginkan justru agar Dia secepatnya pergi dari wilayah mereka (Mat. 8:34).

Mengapa? Karena walaupun mukjizat yang tidak dapat dipungkiri telah terjadi, namun akibatnya ialah kawanan babi mereka mati. Mereka merasa telah di tusuk pada bagian anatomi mereka yang paling rentan – kantung mereka.

Di sini kita menemukan suatu kenyataan ketika kita datang kepada Yesus. Bagaimana kita bisa menyesuaikan diri kita dengan kuasa-Nya jika Dia mengancam dompet kita atau berhala lain pada kehidupan kita?



Rabu, 23 Maret 2016

RENUNGAN PAGI KAMIS, 24 MARET 2016 “PANDANGLAH PADA YESUS”

RENUNGAN PAGI KAMIS, 24  MARET  2016 “PANDANGLAH PADA YESUS”

“KUASA  MENGATASI  ALAM”

“Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.’ Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu,katanya: Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?’” (Matius 8:24-27).

“Siapakah orang ini?” “Orang apakah Dia ini?” itulah pertanyaan yang murid-murid pertanyakan ketika mereka memulai perjalanan bersama Yesus. Pertanyaan itu masih menjadi tantangan bagi kita sekarang.

Ayat hari ini mengisahkan Yesus dan para pengikut-Nya terjebak di tengah badai mengganas di Danau Galilea. Letaknya hampir 700 kaki di bawah permukaan laut, danau itu dikelilingi bukit-bukit dan pegunungan terjal di bagian timur. Dan tepat 30 mil di Timur Laut, menjulang Gunung Hermon setinggi 9.200 kaki. Perubahan udara dingin di Gunung Hermon dan udara panas tanah rendah dapat menciptakan badai ganas yang tiba-tiba, bahkan pada hari yang tampaknya cerah. Demikianlah situasi yang dialami murid-murid.

Di sana ada Yesus, sedang tidur. Sebagaimana kita, Dia tidak datang seperti seorang “superman” tetapi sebagai seorang  yang kelelahan dan berdesak-desakan bersama orang banyak  dan urusan kehidupan. Dia sungguh salah satu dari kita dan oleh karena itu mampu bersimpati pada kelemahan-kelemahan kita (Ibr. 4: 15; 2:17).

Tetapi, sementara itu Dia sedang tertidur, murid-murid Yesus telah ketakutan dan sangat panic, serta berteriak, “Apakah Engkau tidak peduli kalau kita akan binasa?” Mereka berteriak ketika mereka membangunkan-Nya dari tidur pulas-Nya (Mrk. 4:38).

Dia peduli, lalu menghardik angin dan badai itu, dan juga para murid karena ketiadaan iman mereka. Hasilnya adalah terjadi ketenangan di laut dan juga di dalam hati mereka.

Tetapi bagi orang-orang, menegangkan danau sungguh mencegangkan. Siapakah gerangan Orang ini, yang berkuasa atas alam? Mereka terpaksa bertanya. Pengalaman itu penting sekali bagi pengertian mereka yang mulai berkembang tentang Siapa yang sedang mereka ikuti, karena di dalam Perjanjian Lama adalah Yahweh (Allah) sendiri yang memiliki kuasa untuk meredakan badai-badai alam (Mzm. 6:7; 89:9; 104: 6,7; Yes. 51:9, 10). Kuasa Yesus atas alam membantu para murid untuk mulai menyadari lebih sepenuhnya bahwa Dia sungguh adalah “Allah bersama kita,” Yahwe dari Perjanjian Lama itu.

Berita baiknya adalah, Yesus yang menyelamatkan murid-muridnya dari badai, tetap dahsyat penuh kuasa. Sebagai para pengikut-Nya, kita tidak perlu takut sedikit pun, karena kita melayani Tuhan yang memiliki kuasa. Kita tidak pernah sedirian menghadapi pencobaan-pencobaan kehidupan dunia in. bahkan apabila Dia tampaknya sedang tertidur di dalam beberapa bahaya yang kita hadapi. Dia masih berkuasa dahsyat untuk menyelamatkan.




Selasa, 22 Maret 2016

Renungan Pagi Rabu, 23 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Rabu, 23 Maret 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Kuasa  Mengatasi  Jarak”

“Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.’Yesus berkata kepadanya: ‘Aku akan datang menyembuhkannya.’ Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan,… katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit…. aku berkata kepada… hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia akan mengerjakannya’” (Matius 8: 5-9).

Mukjizat kedua adalah penyembuhan hamba seorang bukan Yahudi (Mat.8: 5-13). Bagi  pemikiran Yahudi, hanya seorang kusta lebih najis dari pada seorang bukan Yahudi. Bila penderita kusta sama sekali tak dapat masuk ke Yerusalem, terlebih orang-orang bukan Yahudi tidak dapat menunaikan ibadah atau pemujaan di dalam Sinagog Yahudi, karena mereka tidak diperkenankan menginjakkan kaki ke dalam komplek Sinagog, kecuali bagian paling luar yaitu pelataran yang di sebut “pelataran kaum bukan Yahudi.”

Perwira itu, yang menyadari ketidaklayakannya di mata orang Yahudi menunjukkan iman luar biasa. Membandingkan Yesus dengan dirinya sebagai seorang perwira militer, dia berkata bahwa Yesus tidak perlu datang ke rumahnya untuk melakukan mukjizat itu. Yang perlu Dia lakukan adalah membuat sebuah perintah, dan penyembuhan itu akan terjadi.

Perwira itu seorang pertama di dalam Injil Matius untuk mengerti betapa luasnya kuasa Yesus – bahwa Dia tidak perlu hadir untuk melaksanakan firman-Nya. Dengan demikian, kuasa-Nya bukan saja mengatasi penyakit, tetapi juga mengatasi jarak.

Yesus bukan saja memuji sang perwira karena imannya, tetapi Dia juga menggunakan kesempatan itu untuk menyuguhkan suatu gambaran yang dekat dengan hati umat Yahudi. Umat Yahudi mengharapkan bahwa pada kedatangan Mesias akan ada suatu pesta besar, di mana seluruh umat Yahudi akan duduk di pesta itu. Orang-orang bukan Yahudi tidak akan hadir.

Tetapi Yesus menyelipkan sesuatu yang baru pada kisah itu. Menurut Yesus, banyak orang bukan Yahudi (“dari Timur dan Barat,” ayat 11) akan berada di pesta itu, tetapi banyak umat Yahudi (“anak-anak kerajaan”) “akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap” (ayat 11,12).

Dengan demikian dengan satu gebrakan, Yesus membeberkan dua tema yang akan bergulir di sepanjang pelayanan-Nya: Keselamatan orang-orang bukan Yahudi dan situasi yang berbahaya dari umat Yahudi jika mereka menolak Mesias.

Mukjizat kedua ini penuh arti bagi kita sekarang. Kita dapat temukan gambaran lebih baik mengenai kuasa Yesus, sehubungan dengan para malaikat yang Dia utus untuk mengurus keperluan –keperluan mereka yang beriman kepada-Nya. Dia masih menjangkau melintasi jarak waktu dan ruang untuk berada dengan umat-Nya dan memberkati mereka. Untuk itu, kita dapat memuji Allah setiap hari.





Senin, 21 Maret 2016

Renungan Pagi Selasa, 22 Maret 2016 “Wewenang Melampaui Kata-Kata”

Renungan Pagi Selasa, 22  Maret  2016 “Wewenang Melampaui Kata-Kata”

“Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.’ Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir.’ Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya” (Matius 8: 1-3).

Kata-kata itu murah. Setiap orang bisa saja membuat pernyataan-pernyataan besar atau menyampaikan khotbah luar biasa dan penuh makna. Beberapa tahun lalu seorang pendeta berkunjung antar kota dan menyatakan bahwa jika orang-orang memiliki iman yang benar mereka boleh meninggalkan pertemua-pertemuan sang pendeta dan “tidak akan pernah berbuat dosa lagi.” Saya pernah mendengarkan hal seperti itu sebelumnya. Sekali waktu, saya pernah mengajarkan hal seperti itu juga. Saya akan lebih terkesan andaikan pendeta itu katakan bahwa dia memiliki iman yang cukup untuk meninggalkan auditorium, pergi ke Danau Chapin, dan berjalan di atas air. Wewenang nyata memiliki tindakan yang dapat didemonstrasikan, bukan ocehan kata-kata saja.

Yesus memiliki wewenang yang sebenarnya bukan saja pada kata-kata-Nya tetapi juga di dalam apa yang Dia dapat lakukan. Itulah yang dimaksudkan Matius 8 dan 9. Pasal 5-7 menyatakan Yesus sebagai guru yang berwenang (Mat. 7:29), menyusul dua pasal berikutnya memperlihatkan bahwa Dia mempunyai wewenang maupun firman. Dan sekali lagi, wewenang-Nya akan mencegangkan orang banyak (Mat. 7:28; 9:33).

Ada sebuah rencana bagi kehidupan Yesus sebagaimana ada rencana pada Injil Matius. Di antara Matius 8:1 dan 9:33, Injil pertama memperlihatkan Yesus melakukan Sembilan mukjizat yang mendemonstrasikan wewenang-Nya yang tak usah diragukan lagi mengenai siapa Dia. Mukjizat pertama memerlihatkan Yesus menyembuhkan seorang kusta. Penyakit kusta adalah penyakit paling ditakuti pada zaman dulu. Selain kerusakan fisik sang korban, juga pengasingan sosial. Para penderita kusta diusir dari masyarakat segera setelah didiagnosis. Mereka harus meninggalkan keluarga dan teman-teman, menutupi wajah mereka dan berseru”najis” ke mana pun mereka pergi.

Tetapi Yesus bahkan dapat menyembuhkan seorang penderita kusta. Dia memiliki wewenang atas penyakit yang begitu ditakuti. Kedelapan mukjizat berikutnya memperlihatkan Dia berkuasa, bukan saja atas penyakit tetapi juga atas ketakutan-ketakutan alam dan dunia roh-roh jahat. Pada akhir demonstrasi wewenang itu, Matius menuliskan, “Maka heranlah orang banyak, katanya: ‘Yang demikian belum pernah dilihat orang Israel’” (Mat. 9:33).

Yesus bukan saja berbicara sebagai Allah, Dia bertindak sebagai Allah. Dia memiliki wewenang. Dan wewenang itu dimaksudkan untuk membersihkan diri kita sama seperti terhadap mereka yang najis 2.000 tahun yang lalu.




Minggu, 20 Maret 2016

Renungan Pagi Senin, 21 Maret 2016 “Yesus Mencengangkan”

Renungan Pagi Senin, 21  Maret  2016 “Yesus Mencengangkan”

“Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Matius 7:28,29).

Sekarang Yesus bersiap untuk tahap pelayanan-Nya, yang berikut. Dia telah dipenuhi Roh saat pembabtisan-Nya, telah mengalahkan penggodaan. Setan di padang gurun, sudah memanggil murid-murid-Nya, dan sekarang sudah menyampaikan khotbah pengukuhan-Nya, di mana dengan tegas Dia memberitahukan prinsip-prinsip kerajaan. Jadi, Dia bersiap untuk bergerak kepada pelayanan yang lebih luas. Tetapi sebelum kita meneliti pekerjaan-Nya yang sangat luas itu, kita harus sadari bahwa, “takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya.”

Dan mengapa mereka begitu takjub? Mereka mengenal Dia sebagai tukang kayu yang tidak berpendidikan dari sebuah kampung kecil bernama Nazaret di Galilea. Dia bukan seorang ahli Taurat atau seorang Farisi, tetapi Orang biasa, Seorang pekerja. Yesus tak pernah duduk di kaki Gamaliel atau guru berpendidikan lainnya. Sebaliknya, Dia bukan apa-apa kecuali Seorang udik dan tukang kayu rendahan. Tetapi mendadak Dia merebak masuk dan menyatakan hal-hal paling mencengangkan sejak awal pelayanan-Nya. Kedatangan-Nya menjadi suatu pukulan keras bagi tubuh politik Yahudi.

Lihat saja keberanian-Nya dalam cara mengajar-Nya. Tidak seperti para ahli Taurat, Dia tidak memperdengarkan kutipan-kutipan panjang untuk menyatakan sesuatu. Sebaliknya, Dia menyatakan bahwa Dia Yang Berwenang. “Aku berkata kepadamu” adalah gaya-Nya dan bukan “si anu dan si anu katakan.”

Dan apakah Anda pernah mendengar beberapa peryataan-Nya? dia berkata, “Aku datang, bukan “Aku dilahirkan.” Dan dari mana Dia datang sehingga para pendengar-Nya dibuat bertanya-tanya? Jelasnya dari Dia yang secara pribadi menegaskan dari “Bapa-Ku.”

Tetapi barangkali pernyataan paling mendalam pada Khotbah di Atas Bukit mengenai identitas pribadi-Nya muncul dalam Matius 7:22, di mana Dia berkata, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku : “Tuhan, Tuhan.” Dia tidak ragu menyatakan bahwa oang-orang akan menyebut Dia: Tuhan, sebagai pribadi Ilahi. Jadi tidak mengherankan bahwa kata-kata Yesus mencengangkan umat Yahudi. Bukan saja karena Dia mengajar dengan cara yang berwenang, tetapi juga karena memiliki hak istimewa Allah, Dia menyatakan bahwa Dia adalah Allah.

Mereka tercengang. Dan kita seharusnya tercengang juga. Masalahnya ialah Dia tidak baru bagi kita. Di dunia Barat, Dia ibarat sepotong mebel yang familiar. Kita perlu melihat-Nya dengan pandangan mata yang segar supaya kita dapat juga dicengangkan oleh Tuhan kita yang luar biasa.




Jumat, 18 Maret 2016

Renungan Pagi Sabat, 19 Maret 2016 “Ayat Yang Menyadarkan”

Renungan Pagi Sabat, 19 Maret  2016 “Ayat Yang Menyadarkan”

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang Sorga” (Matius 7:21).

Ayat hari ini ayat paling mengerikan dalam Perjanjian Baru. Dengan tegas ayat itu menyatakan bahwa saya bisa sesat ketika menyatakan Yesus sebagai Juruselamat saya; bahwa saya bisa tertipu, saya bisa saja berpikir bahwa semua berjalan mulus dan baik pada kehidupan beragama saya, padahal sesungguhnya segala sesuatunya salah.

Matius 7:21 juga salah satu perikop paling serius dalam semua Firman Allah. Yesus tidak main-main. Dia telah memaparkan secara lugas pada khotbah pengukuhan-Nya bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menipu diri mereka sendiri. Sekarang Dia menunjuk kepada Saya dan Anda. Kita juga bisa kebinggungan dan tertipu seperti para pemimpin Yahudi itu kecuali bila kita mengacuhkan kata-kata-Nya. Tidak ada yang lebih serius dari semua perkataan yang Yesus ajarkan selain pernyataan-Nya dalam Matius 7:21-23. Juruselamat sedang berbicara kepada kita dengan segenap jiwa-Nya. oleh sebab itu sepatutnya kita mendengarkan dengan saksama.

Menurut ayat 12, tidak semua yang mengaku dirinya orang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat akan diselamatkan. Sebuah pemikiran yang mencengangkan, karena kita tahu selama ini bahwa totalitas keselamatan adalah menyatakan Yesus sebagai Juruselamat. Di sini Yesus mengingatkan kita bahwa keselamatan melibatkan lebih daripada sekadar membuat pernyataan-pernyataan semata.

Dan apakah lagi yang diperlukan? Yesus menjawab pertanyaan itu pada ayat yang sama, ketika dia berkata bahwa kita harus menjadi pelaku dan bukan sekedar pendengar kehendak Bapa-Nya. Yohanes  menguatkan hal tersebut ketika dia  tegaskan bahwa dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia, jika kita mengikuti perintah-perintah-Nya dan berjalan  sebagaimana dilakukan Yesus (1 Yoh. 2:3-6).

ITULAH BERITA BAIK. ITULAH KEYAKINAN SESUNGGUHNYA DARI KESELAMATAN. KITA DAPAT MENGETAHUINYA. PUJI TUHAN!

Tetapi apakah arti “melakukan kehendak Bapa”? Di sini kita harus mengingat bahwa konteks Matius 7:21-23 adalah keseluruhan Khotbah di Atas Bukit. Yesus baru saja menyelesaikan Matius 5-7, membentangkan kehendak Allah bagi umat-Nya. melakukan kehendak Allah adalah hidup mengikuti Ucapan Bahagia; artinya menjadi garam dan terang dunia di dalam komunitas kita; itu berarti mengasihi bahkan musuh-musuh kita dan dengan demikian bersikap seperti Allah; itu adalah melakukan kehendak Allah di dalam kehidupan berdoa dan penatalayanan kita; itu berarti kita mengatur prioritas-prioritas kita secara benar dan meletakkan kepercayaan kita kepada-Nya sesuai dengan keperluan sehari-hari kita dan tidak berfokus kepada  hal-hal materi; dan itu berarti menolak menghakimi orang lain, sedangkan pada saat bersamaan kita memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin mereka memperlakukan kita.


Melakukan kehendak Allah berarti menjadi Seperti Yesus

Kamis, 17 Maret 2016

Renungan pagi Jumat, 18 Maret 2016 “Umat Kristen Adalah Pemeriksa Buah”

Renungan pagi Jumat, 18 Maret 2016 “Umat Kristen Adalah Pemeriksa Buah”

"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.... Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik” (Matius 7:15-17).

Yesus sepenuhnya mengetahui bahwa gereja-Nya akan memiliki berbagai masalah, bahwa akan ada para pemimpin yang tampak meyakinkan dan berkhotbah sangat menarik, tetapi justru akan mengambil kesempatan dari mereka yang naif dan yang mudah dipengaruhi.

Untuk itu, pada akhir khotbah pengukuhan-Nya mengenai prinsip-prinsip kerajaan-Nya, Yesus memberikan dua ilustrasi yang jelas supaya kita selalu membuka mata kita dan waspada. Dengan demikian, Dia memberitahu kita bahwa kita sesungguhnya perlu menilai orang lain berdasarkan buah-buah pekerjaan mereka.

Sepanjang Alkitab, kita menemukan para nabi yang benar dan palsu, para guru dan pengkhotbah yang benar dan palsu. Pelajaran bagi kita adalah tidak semua yang mengaku pekabarannya berasal dari Allah sesungguhnya melakukan perannya. Yesus mencatat, beberapa guru rohani, akan tampak seperti domba secara lahiriah, tetapi batiniahnya seperti serigala yang buas yang ingin mengenyangkan diri mereka pada kawanan umat Allah.

Kedua makhluk itu merupakan kontras menarik. Domba termasuk binatang paling tidak berbahaya, sedangkan serigala terkenal sebagai beringas dan haus darah. Nah, tidak sulit untuk membedakan serigala daripada domba. Tetapi masalahnya bukan itu. Situasi yang digambarkan Yesus adalah bahwa serigala-serigala itu datang ke gereja menyamar sebagai domba. Yaitu, walau mereka menyatakan mereka berbicara demi Yesus, mereka sesungguhnya bekerja di bawah Iblis.

Di sinilah timbul masalah karena situasinya tersamar dengan halus sekali. Di dalam diri mereka, mereka adalah serigala. Penampilah luar mereka menunjukkan mereka sebagai pria dan wanita yang menjadi hamba Allah. Dan ketika mereka diterima demikian, mereka memangsa jiwa dan kantung umat percaya.

Hal ini membawa kita kepada ilustrasi kedua Yesus, yaitu mengenai pohon dan buah. Hukum alam memberitahu kita bahwa Anda tidak bisa memetik kelapa dari tanaman merambat yang beracun. Alam itu konsisten dan dapat diperkirakan. Begitu juga orang. Jika Anda memberi mereka cukup kesempatan, maka karakter mereka yang sesungguhnya akan terlihat melalui buah-buah kehidupan dan pengajaran mereka-entah itu baik atau jahat, maksud Yesus adalah bahwa kita perlu tetap membuka mata kita.

Tolonglah kami, Bapa, agar kami memperoleh roh waspada yang tajam ketika kami berusaha mendengarkan suara-Mu.

Top of Form


Rabu, 16 Maret 2016

Renungan Pagi Kamis, 17 Maret 2016 “Prinsip Inti Kerajaan Kristus”

Renungan Pagi Kamis, 17 Maret 2016 “Prinsip Inti Kerajaan Kristus”

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.  Itulah isi seluruh hukum taurat dan kisah para nabi (Matius 7:12)

Saya tidak menyukai ayat hari ini karena ayat itu menganggu cara saya menjalani kehidupan saya.  Dan itu menjengkelkan.

Di balik ketidaksukaan kita terhadap kaidah emas adalah juga ketidaksukaan kita terhadap hukum Allah, yang dengan jelas menyatakan bagaimana kasih kita kepada Allah dan kepada sesama sebagai cara kita menjalani kehidupan secara benar.  Dan di balik rasa tidak senang kita terhadap hukum gai cara kita menjalani kehidpan secara benar.  Dan di balik rasa tidak senang kita terhadap hukum itu. Itu merupakan suatu keengganan terhadap Allah yang memberi hukum itu. Mengapa Dia tidak mengurus urusan-Nya sendiri dan membiarkan kita melakukan apa yang kita sukai lakukan?

Pertanyaan itu membawa kita kepada akar sesungguhnya masalah ini.  Alasan kita tidak menyukai kaidah emas dan hukum, dan bahkan Allah, adalah karena hal itu menganggu bergulirnya kehidupan alami pribadi kita, kehidupan kita yang penuh dosa di luar Kristus.  Kita jangan pernah melupakan bahwa mengasihi diri sendiri adalah inti dosa.  Sifat penuh dosa seluruhnya berpusat pada diri sendiri, sedangkan kaidah emas dan hukum Allah berpusat pada orang lain.  Hal-hal tersebut mengganggu kehidupan kita yang berpusat pada diri sendiri.  Dan hal itu menyebapkan permusuhan dengan kaidah emas, hukum dan peraturan.

Kehidupan yang berpusat pada diri sendiri mengatakan jika anda menyukai sesuatu, ambil saja; jika anda mengingini istri atau suami orang lain, pakai saja; jika hal itu memenuhi kehendak anda, berdustalah untuk mendapatkan yang anda kehendaki.  Itulah yang hendak Yesus akhiri.  Dia ingin mengubah hati dan pikiran kita agar kita bisa berada dalam hubungan yang serasi dengan dengan Allah, hukum-Nya, dan peraturan-Nya.  Dia berusaha menuliskan prinsip-prinsip kerajaan-Nya di atas hati kita.  Dengan demikian, kita akan menyukai kaidah emas pada Matius 7:12

Dengan peraturan itu, tuntutannya untuk mengasihi orang lain, itulah “isi seluruh hukum Taurat dan Kitab Para Nabi,” dan Khotbah di Atas Bukit kembali sepenuhnya pada Matius 5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Matius 5:17 dan 7:12 menyoroti hukum dan para nabi.  Teks-teks tersebut menggolongkan inti utama khotbah pengukuhan Kristus.  Sebagai akibatnya, kita harus memandang kaidah emas sebagai suatu rincian interpretasi Kristus mengenai arti hukum dan para nabi (Perjanjian Lama), dan di mana Matius 5:21-7:11 merupakan penjabaran atau pemenuhan beberapa prinsip yang termaktub di dalam rincian satu ayat tersebut.

Baik dalam rincian maupn dalam komentar, kita menemukan bahwa hukum Allah adalah cara menjalankan kehidupan  dan cara berpikir, bukan merupakan daftar apa yang boleh dilakukan.