Jumat, 05 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Sabat 06 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Sabat 06  Agustus   2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Memperkenalkan  Kedatangan  Yang  Kedua   Kali

“Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu lihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu. Sesungguhnya tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain: semuanya akan diruntuhkan.’ Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia, Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?”’ (Matius 24: 1-3).

Matius 24:1  menceritakan Yesus meninggalkan Bait Allah untuk yang terakhir. Murid-murid-Nya mendengarkan Dia mengucapkan “ditinggalkan dan tempat yang tandus” (Mat. 23:38). Tampaknya Bait Suci itu baik-baik saja bagi mereka.

Dan tampaknya bangunan yang sangat baik, Josefus, pada abad pertama, menulis bahwa permukaan luar Bait Allah itu “dilapisi keseluruhannya dengan pelat-pelat emas yang berat sekali, dan, diwaktu matahari mulai terbit, memantulkan kecermelangan, dan membuat mereka yang memaksakan diri untuk memandang kepada keindahan itu memalingkan mata mereka kearah lain, sebagaimana mereka lakukan pada terpaan sinar matahari.” Di kejauhan Dia melanjutkan, Bait Allah tampak “seperti sebuah gunung tertutup salju; karena, bagian-bagiannya tidak dilapisi emas, berwarna sangat putih” (Wars 5:5,6).

 Bait Allah bukan saja anggun, tetapi juga kokoh kuat. Josefus, disuatu tempat, menjelaskan bahwa beberapa batu-batunya berukuran 26 kubit (satu kubit adalah 18-20 inci= 50cm), tinggi 8 kubit, dan kira-kira lebar 12 kubit (Antiquities 15.11.3). di tempat lain Dia memberitahu kita bahwa batu-batu lain berukuran panjang sampai 45 kubit (57-75 kaki= 30cm) (Wars 5.5.6). dengan fakta-fakta seperti itu, tidaklah mengherankan bahwa para murid terpukul sekali ketika Yesus memberitahu mereka bahwa Bait Allah yang kokoh kuat itu, salah satu keajaiban arsitektur dunia purba, akan hancur secara total, tanpa ada satu batu pun yang bertindih di atas batu lain.

Bagi para pengikut-Nya, kejadian seperti ini menandai kiamat dunia. Bait Allah adalah fokus keberadaan mereka di dunia. Dan mereka tidak dapat membayangkan satu dunia tanpa Bait Allah yang agung di Yerusalem. Para murid, ingin agar mendapat keterangan jelas, kemudian mengajukan tiga pertanyaan kepada Yesus: (1) Kapan Bait Allah itu akan dihancurkan? (2) Bagaimanakah tanda kedatangan kembali-Nya? (3) Bagaimanakah tanda akhir zaman?

Yesus tidak mencoba memperbaiki pengertian salah mereka tentang urutan kejadian-kejadian itu. Sesungguhnya, jawab-Nya memadukan kedua kejadian dan tanda-tandanya hingga sedemikian rupa sehingga boleh dikatakan mustahil untuk meluruskan keduanya.

Dengan Matius 24 dan pengajaran tentang kedatangan Yesus kedua kali, kita tiba pada tanda genting dari kisah Injil. Kita perlu membuka mata dan telinga kita sembari kita mengadakan perjalanan melalui Matius 24 dan 25.


Kamis, 04 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat 05 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat 05 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Kasih Yang Kuat “ Dari Yesus

“Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak, bagaimana menurutmu akan kamu hindari hukuman ke tumpukan sampah?... Yerusalem, Yerusalem! Engkau membunuh nabi-nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu. Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya – dan kamu tidak pernah mau. Yang tersisa bagimu sekarang adalah rumahmu. Aku berkata kepadamu bahwa kamu tidak akan melihat-Ku lagi, hingga gari kamu berseru, ‘Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”’ (Matius 23:33-39, versi Phillips).

Beberapa anggota gereja sangat keras ketika menghukum orang lain. Kepedulian mereka adalah tentang kemurnian, perilaku benar,musik  yang tepat, dan diet yang disucikan. Mereka pikir tidak masalah mengucapkan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Dan akibatnya adalah orang-orang muda tidak mau hadir  lagi, anggota-anggota baru kecewa dan siapa saja merasakan kerohanian demikian maka mulai berdoa bagi “orang-orang benar” itu dan untuk kelangsungan agama yang benar dalam jemaat.

Di sini kita perlu menyadari perbedaan antara keras dan kuat bagi kerajaan Allah dan memperlihatkan kasih yang kuat dalam roh Kristus.

Salah satu aspek tidak menguntungkan hanya berfokus pada firman yang tertulis adalah bahwa kita tidak dapat melihat ekspresi wajah dan mendengar nada suara. Saya rasa sukar membedakan antara roh kasih atau  keculasan dan kekerasan. Kata-katanya bisa saja sama, tetapi makna yang sampai kepada kita berbeda sekali. Kita belajar dari Matius 23 bahwa Yesus termasuk di antara mereka yang tidak takut untuk menghadi suatu kesalahan. Namun kita juga sekilas melihat roh di mana Dia berbuat demikian.

Apabila  kita tergiur untuk memainkan peran sebagai “pasukan penggempur rohani,” maka kita perlu mempertimbangkan ayat-ayat yang menyoroti Yesus membeberkan teguran-teguran Matius 23. “Yerusalem, Yerusalem,… Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya” (ayat 37). Dalam kasih dan kepedulian, Yesus menyampaikan seruan terakhir-Nya kepada para pemimpin Yahudi untuk meninggalkan kerohanian palsu mereka dan berpaling kepada “perkara-perkara hukum yang lebih berbobot” – “Keadilan dan belas kasihan” (ayat 23). Dan dengan hati yang hancur, Dia menyadari bahwa sebagian besar dari mereka tidak akan berubah (ayat 37).

Dengan penolakan itu tibalah pertanda dua kejadian. Satu adalah kehancuran Bait Allah dan Yerusalem bersamanya (ayat 38). Dan yang kedua adalah kembalinya Dia sendiri dalam awan-awan surgawi (ayat 39).


Tuhan kami sudah disadarkan oleh kata-kata yang kuat dari Yesus terhadap gagasan-gagasan palsu mengenai agama. Tetapi kami sudah diberikan harapan oleh roh kasih di dalam mana Dia berbicara. Bantullah kami memiliki agama yang sejati dan roh yang sesuai.


Rabu, 03 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 04 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 04  Agustus   2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“CARA SALAH UNTUK  “MEMPERALAT GEREJA”

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Tuarat dan oarng-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri…. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang  Farisi, hai kamu orang orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang  satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Matius 23:15-24).

Bagian kedua Matius 23, mulai ayat 13 sampai 32, Yesus paparkan dengan gaya pembicaraan langsung kepada pendengar. Dia menyebutkan satu demi satu penghukuman dalam bentuk delapan “celaka.” Selain itu, bagian ini menyebut para ahli Taurat dan orang-orang Farisi “munafik” tujuh kali, dan “buta” lima kali. Sampai di tahap ini pertentangan Yesus dengan para pemimpin Yahudi sudah parah. Walaupun Dia mengucapkan perkataan-Nya dengan kasih, namun mustahil menghindari ketajaman perkataan-Nya itu.

Di sini, sebagaimana kita jelaskan sebelumnya, sebelum kita terlalu mengkritik orang Yahudi zaman dulu, kita harus sadari bahwa kesalahan mereka cenderung bersifat umum karena mereka suka “memperalat gereja,” entah mereka itu kalangan awam atau pendeta. Kedelapan celaka itu mengajarkan kita bahwa ada perbedaan besar antara peran gereja dan menjalani agama Yesus.

Celaka pertama menyinggung kegagalan masuk ke dalam kerajaan, pada saat yang sama merintangi orang lain  masuk (ayat 13). Yesus, tentu saja, dalam pemikiran-Nya masih menyimpan tindak-tanduk dan kata-kata orang Farisi yang mencegah para pengikut mereka mengembangkan hubungan iman dengan-Nya. Tetapi gereja modern masih mempunyai kegiatan dan tindak-tanduk demikian. Pembatasan itu dapat mengakibatkan orang lain menjadi kecil hati karena permainan peran munafik, dengan  melencengkan ajaran Kitab Suci, atau menjalani kehidupan  tanpa kasih. Harus disayangkan sikap seperti itu, tidak membutuhkan sesuatu keahlian atau dedikasi untuk menjadi  sandungan bagi orang lain.

Celaka yang kedua berpusat pada tipe yang mengorbankan diri sendiri yang berusaha sekeras-kerasnya mempertobatkan orang-orang kepada cara-cara mereka yang legalistik. Hasilnya ialah mereka yang bertobat menjadi lebih menderita dibanding sebelum mereka bertemu dengan pandangan agama melenceng yang diajarkan para misionaris.

Celaka terakhir (ayat 29-32) secara telak mengenai “memperindah tugu” agama yang banyak diorganisasi. Tugu terbesar bagi agama yang benar bukanlah suatu perayaan peristiwa-peristiwa religious utama dan tokoh-tokoh masa lalu, tetapi roh para nabi yang hidup dalam kehidupan kita sendiri sekarang.


Kita memang bisa sadar apabila menyaksikan orang-orang baik, bersungguh-sungguh, religious namun dapat menyimpang dan berbuat salah. Kedelapan celaka itu adalah suatu panggilan, suatu peringatan untuk memeriksa diri dan menerapkannya kembali bagi kita masing-masing.


Selasa, 02 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 03 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 03 Agustus 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“Panggilan Terakhir Untuk Bangun”

“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang”’ (Matius 23:1-5).

Puncak pertikaian Yesus dan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi diceritakan dalam Matius 23, sampai titik ini, Yesus telah melakukan yang Dia dapat lakukan untuk membangunkan  mereka, tetapi sia-sia. Sekarang saat untuk kata-kata lembut dan taktik berputar dan tidak langsung selesai. Di dalam kasih-Nya, Yesus sekarang membuat serangan langsung. Waktunya sudah hampir habis dan mereka belum mendengarkan-Nya.

Matius 23 terdiri dari tiga bagian yang merupakan suatu tema yang menyatu,. Ayat  1 sampai 12, membicarakan orang-orang lain, yang menghadirkan lima karakteristik untuk mana Yesus menegur para ahli Taurat dan kaum Farisi. Tetapi sebelum membawanya, Yesus menyoroti pentingnya kedudukan para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka “menduduki kursi Musa” (ayat 2). Yaitu, mereka  mempunyai hak istimewa utama dan tannggungjawab untuk mengajarkan Firman Allah kepada Umat-Nya. Berdasarkan peran kudus dan berbobot itulah kita harus  menyoroti kekurangan-kekurangan mereka. Kesalahan-kesalahan mereka semakin nyata karena posisi mereka.

Sebelum melihat sifat-sifat negative yang digambarkan dalam pasal ini, kita perlu akui bahwa tidak semua orang Farisi itu seburuk sebagaimana digambarkan di sini. Orang-orang Farisi sendiri – sebagaimana Yesus – agak tidak setuju dengan sepak terjang sesamanya yang tidak bertanggung jawab.

Satu hal lain yang harus kita camkan adalah bahwa para pemimpin Kristen dan oarng-orang awam seringkali berusaha menyamakan sifat-sifat kaum Farisi. Walau kaum Farisi membentuk bagian yang bersejarah dalam Yudaisme, namun roh mereka tertanam dan berakar dalam sifat manusia. Dengan demikian maka kita umat Kristen perlu membaca kecaman dalam Matius 23 dengan membayangkan diri kita sendiri.

Tiap kali kita gagal melakukan apa yang kita ajarkan (ayat 3), tidak bersedia melakukannya dalam kehidupan kita sendiri apa yang kita tentukan bagi oarng lain (ayat 4), suka nilai pamer prestasi-prestasi keagamaan kita  (ayat 5), suka gelar-gelar penghormatan dan ditujukkan (ayat-ayat 6-10), dan tidak menyadari dalam pelayanan kita adalah panggilan untuk melakukan pelayanan dengan berkorban dan bukan untuk mendapatkan  status terhormat (ayat 11, 12), maka kita berprilaku sebagai orang-orang Farisi terburuk dan bukan sebagai pengikut Yesus.


Bantulah saya, Tuhan agar dapat mengatasi kekurangan-kekurangan saya sendiri dan mengikuti kehidupan dan Firman-Mu. 


Senin, 01 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa 02 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa 02 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Pelajaran  Lain  Tentang  Keallahan”

“Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu” (Mazmur 110:1).

Kemarin kita telah memeriksa mengapa Yesus menggunakan Mazmur 110.  Dia menunjukkan kepada kaum Farisi bahwa Mesias / Kristus yang akan datang bukan saja manusia tetapi juga Allah.  Dengan demikian “anak Daud, “ walaupun penggambaran yang benar dari Mesias, juga gambaran yang tidak sempurna. Mesias tidak saja Anak Daud, tetapi juga Tuhan Allahnya.

Yesus menyelesaikan paling tidak tiga hal dalam perdebatan-Nya dengan kaum Farisi.  Pertama, Dia di depan umum menunjukkan ketidakmampuan mereka mengartikan Kitab Suci.  Kedua, Dia membuat pernyataan besar bagi diri-Nya sendiri. Kesalahan kaum Farisi bukanlah bahwa mereka beranggapan terlalu tinggi  tentang Mesias, tetapi tidak cukup tinggi.  Dia memang Ilahi-begitu Ilahi sehingga Daud yang perkasa memuja Dia sebagai Tuhan  (Yahweh).  Dan dalam membuat pernyataan menggetarkan itu terhadap Mesias, Yesus memaksudkannya untuk diri-Nya sendiri, sebagaimana Dia sudah melakukannya sebelumnya di minggu itu dengan memasuki Yerusalem menunggang keledai dan mengambil kuasa atas Bait Allah.

Implikasi ketiga muncul dari penggunaan Mazmur 110 oleh Yesus yang menyatakan jika Mesias bukan sekadar anak Daud, maka Daud sebagai pola bagi Mesias tidaklah utuh.  Jabatannya sebagai raja dari berbagai ahli perang tidak lagi pengertian yang mencukupi.  Jadi, kita mendapat kenyataan bahwa Yesus menerima gelar-gelar Mesias dan anak Daud, tetapi menolak batas-batas rumusan orang Yahudi.  Yesus tidak pernah datang sebagai raja – ahli perang, tetapi sebagai Domba Allah yang akan menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29).  Dan Dia bukan sekadar berusaha untuk membebaskan bangsa Yahudi dari bangsa Romawi, tetapi untuk menyelematkan umat-Nya di mana saja dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21).

Penggunaan Mazmur 110 oleh Yesus dalam Matius 22 juga mengungkapkan beberapa hal mengenai maksud-Nya mengenai misi-Nya; (1) bahwa Dia akan menang dan duduk di kanan Allah, dan (2) bahwa Dia akhirnya akan menang atas musuh-musuh-Nya yang akan menjadi tumpuan kaki.

Keyakinan demikian penting bagi umat percaya sementara kita melihat serangan gencar dunia terhadap iman kita.  Tidak mengherankan bahwa Mazmur 110 menjadi perikop Perjanjian Lama yang paling sering dikutip di dalam Perjanjian Baru, disinggung atau dikutip 33 kali.  Kitab Ibrani berulangkali menggunakan ayat tersebut untuk membuat umat Kristen mengerti sepenuhnya bahwa mereka dapat hidup dengan keyakinan mutlak karena mereka melayani Yesus yang sudah dibangkitkan yang duduk  “di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:3).

Kita dapat bersyukur bahwa Yesus bukan sekadar anak Daud, tetapi Tuhannya yang menang.


Kamis, 28 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat, 29 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat, 29 Juli 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“Pertentangan: Jalan Dua Jalur (bagian 2)”

“Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: ‘Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya,  sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia.’ Yesus menjawab mereka: ‘Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!”’ (Matius 22:23-29).

Peertanyaan kedua dalam serangan balik orang Yahudi terhadap Yesus berasal dari kaum Saduki- musuh bebuyutan kaum Farisi. Mereka bukan saja mencari muka dan berkiblat kepada penguasa Romawi , tetapi mereka sudah menolak seluruh Kitab Suci kecuali Taurat. Menurut Josefus, kaum Saduki beranggapan bahwa “jiwa mati bersama raga” (Antiquities, 18, 14). Jadi mereka  tidak mengakui kemungkinan hidup kekal dan kebangkitan dari kematian.

Penerimaan mereka akan Taurat menggarisbawahi pertanyaan kepada Yesus di Matius 22: 25- 28 mengenai wanita yang menurut tatakrama perkawinan Imamat (Ul. 25:5, 6), mempunyai tujuh suami, tetapi tidak mempunyai anak. Pertanyaan mereka bukan saja meremehkan gagasan kebangkitan, tetapi lebih mendalam, maksud mereka adalah mempermalukan Yesus di depan umum.

Tetapi, sekali lagi Yesus membalikkan argumentasi mereka yang mencela-Nya mengenai dua hal. Pertama, Dia sarankan bahwa pertanyaan mereka cacat karena berdasarkan pengertian yang salah. Yesus katakan, tanpa memahami Kitab Suci, mereka tidak bisa mengerti Allah dan kuasa-Nya. Sebagai orang modern, mereka beranggapan bahwa kehidupan masa depan sama dengan kehidupan  di dunia kita kenal, dengan sedikit perubahan dan perbaikan di sana- sini. Tidak demikian, kata Yesus. Kerajaan baru Allah mengikuti garis-garis yang berbeda. Dia tidak memberitahu kaum Saduki bagaimana keadaan surga karena pikiran mereka tidak sanggup menangkap makna kata-kata-Nya jika Dia jelaskan. Tetapi nyatakan bahwa  di surga tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan sekarang.

Dalam bagian kedua dari jawaban-jawaban-Nya, Yesus mengutip Keluaran 3:6, sekalian menunjukkan bahwa kaum Saduki tidak tahu sama sekali bagian Kitab Suci yang telah mereka terima itu. Allah, Yesus menjelaskan, bukan Allah orang mati, tetapi Allah orang hidup dan ini mengacu ke depan kepada kebangkitan para leluhur (Mat. 22:32).

Kita umat Kristen modern ditantang. Sebagian besar kita mungkin memandang surga sebagai realita duniawi. Apakah bagian paling rawan dari pengertian seperti itu? Apakah masalahnya? Dengan cara apakah ajaran Alkitab mengenai topik ini melampaui batas-batas pemikiran lazim akan hal itu?


Senin, 25 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa, 26 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa, 26 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Perumpamaan  Pertentangan (bagian 2)”

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan… menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada para penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hamba itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu… Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka,… Tetapi… penggarap-penggarap… membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” (Matius 21:33-40).

Perumpamaan kedua bernada pertentangan dalam urutan langkah raksasa jauh ke depan. Kalau perumpamaan kedua anak laki-laki itu menggambarkan perlawanan pasif para pemimpin Yahudi, yang satu perumpamaan aktif begitu aktifnya sehingga menunjuk pada penolakan para nabi dan pembunuhan anak laki-lakinya. Hampir mustahil bagi pemimpin Yahudi untuk tidak mengerti sindiran kepada Israel yang sangat dikasihi Allah dalam penggambaran kebun anggur itu. Yesaya 5:1-7 menggambarkan kebun anggur seperti cara yang Yesus lakukan. Tetapi di Yesaya, kesalahannya terletak pada pokok anggurnya, sedangkan di sini kesalahannya terletak pada para penggarap. Di dalam kedua kasus, akibat kegagalan itu adalah penghakiman Ilahi.

Kita mendapat beberapa pelajaran dari perumpamaan para penggarap. Yang pertama, Allah panjang sabar. Dia tidak mudah hanya sekali mengutus, tapi terus-menerus mengutus. Dia tidak mudah menyerah lalu meninggalkan umat-Nya. Pelajaran kedua juga sama nyata, perbuatan salah yang disengaja para penggarap. Jika tema utama kisah Injil adalah kasih Allah, maka tema yang mengimbangi adalah penolakan umat manusia terhadap kasih itu. Peristiwa menyedihkan dari kedua perumpamaan dan sejarah itu adalah bahwa begitu sering umat Allah dengan angkuh menolak tawaran Allah.

Pelajaran ketiga adalah tindakan umat dan terakhir oleh mengutus Putra-Nya. Namun para penggarap juga membunuh-Nya. Perumpamaan itu menggambarkan bahwa perbuatan itu akhirnya akan membawa penghakiman atas diri mereka.

Pelajaran keempat adalah bahwa penghakiman Allah kemungkinan lama akan tiba, namun penghakiman itu pasti akan dilaksanakan dan tidak dapat diubah lagi. Penghakiman untuk para penggarap tertentu di dalam Matius 21 akan tiba dengan penghancuran Yerusalem.

Pelajaran kelima adalah pindahnya kerajaan Allah dari bangsa Israel kepada orang-orang baru. Yesus berkata dalam pernyataan paling jelas tentang topik ini, “Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat. 21:43). Orang-orang baru itu adalah gereja Kristen yang mewarisi kesinambungan janji dan tanggung-jawab kaum Yahudi.


Semoga Allah membantu umat-Nya yang baru untuk tidak memperlihatkan perbuatan-perbuatan yang salah yang disengaja.