Renungan Pagi Advent: Selasa, 26 Juli 2016
“Pandanglah Pada Yesus”
“Perumpamaan Pertentangan (bagian 2)”
“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain.
Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan… menyewakan kebun itu kepada
penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim
petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada para penggarap-penggarap itu untuk
menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap
hamba-hamba itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari
yang lain pula dengan batu… Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka,… Tetapi…
penggarap-penggarap… membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang,
apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” (Matius
21:33-40).
Perumpamaan kedua bernada pertentangan dalam
urutan langkah raksasa jauh ke depan. Kalau perumpamaan kedua anak laki-laki
itu menggambarkan perlawanan pasif para pemimpin Yahudi, yang satu perumpamaan
aktif begitu aktifnya sehingga menunjuk pada penolakan para nabi dan pembunuhan
anak laki-lakinya. Hampir mustahil bagi pemimpin Yahudi untuk tidak mengerti
sindiran kepada Israel yang sangat dikasihi Allah dalam penggambaran kebun
anggur itu. Yesaya 5:1-7 menggambarkan kebun anggur seperti cara yang Yesus
lakukan. Tetapi di Yesaya, kesalahannya terletak pada pokok anggurnya,
sedangkan di sini kesalahannya terletak pada para penggarap. Di dalam kedua
kasus, akibat kegagalan itu adalah penghakiman Ilahi.
Kita mendapat beberapa pelajaran dari
perumpamaan para penggarap. Yang pertama, Allah panjang sabar. Dia tidak mudah
hanya sekali mengutus, tapi terus-menerus mengutus. Dia tidak mudah menyerah
lalu meninggalkan umat-Nya. Pelajaran kedua juga sama nyata, perbuatan salah
yang disengaja para penggarap. Jika tema utama kisah Injil adalah kasih Allah,
maka tema yang mengimbangi adalah penolakan umat manusia terhadap kasih itu.
Peristiwa menyedihkan dari kedua perumpamaan dan sejarah itu adalah bahwa
begitu sering umat Allah dengan angkuh menolak tawaran Allah.
Pelajaran ketiga adalah tindakan umat dan
terakhir oleh mengutus Putra-Nya. Namun para penggarap juga membunuh-Nya.
Perumpamaan itu menggambarkan bahwa perbuatan itu akhirnya akan membawa
penghakiman atas diri mereka.
Pelajaran keempat adalah bahwa penghakiman
Allah kemungkinan lama akan tiba, namun penghakiman itu pasti akan dilaksanakan
dan tidak dapat diubah lagi. Penghakiman untuk para penggarap tertentu di dalam
Matius 21 akan tiba dengan penghancuran Yerusalem.
Pelajaran kelima adalah pindahnya kerajaan
Allah dari bangsa Israel kepada orang-orang baru. Yesus berkata dalam
pernyataan paling jelas tentang topik ini, “Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan
Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan
menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat. 21:43). Orang-orang baru itu adalah
gereja Kristen yang mewarisi kesinambungan janji dan tanggung-jawab kaum
Yahudi.
Semoga Allah membantu umat-Nya yang baru untuk
tidak memperlihatkan perbuatan-perbuatan yang salah yang disengaja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar